NICU Murah, Momentum Kemandirian

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Kesehatan
dipublikasikan 10 Maret 2018
NICU Murah, Momentum Kemandirian

Tahun 2016, kementrian kesehatan merilis data kelengkapan fasilitas rumah sakit di Indonesia. Hanya 16,5% dari seluruhnya yang memiliki fasilitas NICU. Itu pun belum memadai dan masih ada yang dibiarkan terbengkalai. Artinya alat-alat perlengkapan NICU belum menjangkau banyak rumah sakit: terlebih daerah dan pelosok. Fakta demikian adanya membuat kami pun tersentak. “Kenapa tidak kita adakan saja kalau begitu? Bahkan kita mungkinkan untuk memurahkan pembuatannya, dan kita gratiskan penggunaannya.” Begitu gagasan NICU murah kami. Kami punya ilmunya, dan tahu caranya untuk menjadikan itu semua. Jadi lebih baik kami bergerak dulu ketimbang hanya sekedar berantusias.

Penghidupan

Lantas kami pun mencoba mempertemukan ide NICU murah tadi dengan hajat hidup banyak orang. Caranya dengan memperbanyak keterlibatan oleh pengembang kita sendiri. Ini juga berarti memberi kesempatan kepada para pengusaha lokal memperoleh penghasilan guna menunjang kelangsungan usahanya: operasional dan penghasilan tenaga kerja. Dan kelak upaya demikian akan membukakan lapangan pekerjaan baru untuk UKM di tempat kawasan yang baru pula. Memang, fokus kami sedari awal ialah memperluas pengadaan alat dari yang mulanya di Jabodetabek ke berbagai daerah dan pelosok.

Terlebih kami ingin menggandeng perorangan maupun komunitas yang memiliki kapabilitas di bidang pemrograman serta elektronika. Disinilah pentingnya melakukan pendekatan lapangan untuk mempermudah pengawasan. Jadi kami berniat menyebarkan hasil pengerjaan kami ke Internet -baik aspek program maupun rangkaian elektronik. Kontrol manufaktur kami lakukan lewat serangkaian tahapan pelatihan. Sedangkan isi program cukup ditiru saja. Mudah kan? Itulah inti kolaborasi: mendayagunakan jaringan seoptimal mungkin.

Muaranya terjadi penyelamatan masyarakat secara kolektif nan masif. Indikator keberhasilannya bagi kami terletak pada tiga hal. Pertama, terjadi peningkatan keterampilan dan keahlian UKM maupun komunitas / perorangan yang terlihat dari membaiknya kualitas serta waktu pengerjaan. Kedua, pemberdayaan berlangsung secara mandiri. Dan ini berjalan kala rakyat kompak berinisiatif dan proaktif menolong bayi di daerahnya sendiri. Ketiga, yang paling utama, upaya nyata ini mengubah pemikiran banyak orang tentang makna beramal yang tadinya sekedar menyumbang menjadi lebih filantropis. Demikian keterkaitan ide NICU murah kami dengan penghidupan lewat pengabdian kepada khalayak luas.

Roda Inovasi

Lalu bagaimana bisa menjalankan roda inovasi hingga sedemikian rupa? Kami pun terus memutar otak, berupaya mempertahankan setidaknya empat hal yang menjadi ciri khas sekaligus tantangan dalam kelangsungan konsep NICU murah kami. Pertama kebhinekaan. Fakta ini ingin kami angkat kembali dengan melibatkan beragam disiplin ilmu. Kesulitannya adalah mencari jalan memadukan tiap bidang keilmuan dan memberikan keluaran jadi pada tiap produk secara optimal (memudahkan mobilisasi). Maka untuk NICU murah, kami melibatkan lima vendor utama: PCB (elektronika); 3D printing, UKM akrilik, dan UKM kayu (manufaktur); para penyedia komponen listrik di situs jual beli online.

Kedua kesederhanaan perancangan. Rancangan sederhana mendatangkan pula penggunaan yang sederhana. Mulai dari pemilihan bahan, kemudian proses produksi terkait desain maufaktur, ditambah penyusunan program, hingga penentuan komponen dan pembuatan rangkaian elektronika. Salah satu yang menjadi perhatian kami ialah terkait penyederhanaan rangkaian. Juga pembuatan papan cetak (PCB) siap pakai yang dapat menyesuaikan kebutuhan kami. Inilah yang sedang kami kerjakan pada produk yang kami namai “Patient Monitor Sederhana”.

Ketiga keterjangkauan biaya. Keutamaannya harus proaktif dan kreatif dalam mencari barang. Tantangan yang kami hadapi antara lain sebagai berikut: ketidaksiapan vendor, kelayakan barang, ketidaksesuaian harga, dan mengasah kreativitas. Namun kami lebih memilih membahas yang terakhir karena itu yang paling sulit bagi kami. Seperti mencari barang yang bukan peruntukannya. Masih terkait dengan “Patient Monitor Sederhana”, betapa sulitnya kami menemukan bahan non-medis tapi bisa dipakai untuk kulit bayi. Ataupun opsi yang terbatas saat membeli barang. Hal ini kami alami beberapa waktu lalu ketika memesan alat pengukur kadar oksigen dalam darah. Kami hanya memerlukan penutup jarinya saja, tetapi mendapat pula kabelnya, sehingga menjadi mahal. Padahal yang diperlukan hanya satu bagian saja, tapi harus membeli bagian lain. Bisa jadi mahal di ongkos.

Puncaknya, kami perlu melaksanakan penyebaran produksi ke seluruh Indonesia. Mohon doanya supaya kami bisa menyegerakan realisasinya. Singkatnya mentransfer pengetahuan yang telah kami peroleh terkait mekanisme teknologi pembuatan agar dapat mempersingkat waktu pengerjaan serta pengadaan alat-alat NICU murah kami. Pendekatannya pun berbeda tergantung kondisi lapangan. Malah sebaliknya, kami mendapat pelajaran tentang peletakan konstruksi dari UKM akrilik, tentang proses perakitan -khususnya penyolderan- rangkaian elektronika dari jasa pencetakan papan sirkuit PCB. Bahkan, kami sudah berniat membagikan seluruh resource kami secara online dan gratis, menjadikannya sebuah open source. Dan ini tidak cuma terbatas pada perorangan / komunitas pemrograman ataupun elektronika. Siapa pun yang ingin belajar bisa mengakses open source tersebut. Jadi justru ada kemahiran baru dan kita saling memperkaya wawasan satu dengan yang lain. Dan begitulah kami memanfaatkan NICU murah sebagai momentum kemandirian.

Amal Untuk Semesta

Keunggulan setiap inovasi terletak pada seberapa jauh mental kejuangan dalam berproses supaya mengembangkan kecerdasan dan kemudian menggunakannya. Dan mental kejuangan itu akhirnya membentuk DNA berkarya dalam diri kita. Dan tanpa sadar menjaga semangat kita serta menambah ketabahan. Dan kita pun tak boleh mengendapkannya di kepala saja, membiarkannya berujung jadi sebatas wacana; melainkan mengamalkannya ke badan, juga seluruh isi semesta.

Kita seringkali lupa bagaimana teknologi bisa menjangkau khalayak luas serta mengedukasi mereka lebih lanjut dalam memberdayakan diri serta lingkungannya. Celakanya kita melulu gemar memperkarakan masalah kemutakhiran. Padahal bukan itu saja persoalannya di lapangan.

Sampailah kita pada jawaban mengapa kita sendiri masih terperangkap dalam mental kemiskinan. Ya. Sebab kita terlalu sibuk memikirkan diri semata, hingga terbentuk pemikiran individualisme, yang lalu menggerus empati dan akhirnya membudaya menjadi kepelitan membantu orang lain. Apalagi kalau yang dikejar hanya kenikmatan semu yang ditawarkan hedonisme. Gila! Apa bedanya kita dengan preman yang pede berbuat premanisme kalau begitu?

Happiness is not about esteem nor expectation. It is rather about our way of living. Bahagia itu sumber yang menguatkan kaki kita untuk melangkah lebih jauh, melapangkan dada kita agar bernapas lebih kuat, dan menempa diri kita supaya terlepas dari segala belenggu kehidupan. Dari kebahagiaan, kita mendapat kekuatan untuk saling memberi, memperkaya, serta melengkapi. Dan kelak ini akan membawa sebangsa dalam perjalanan menuju pencapaian filantropi berkualitas. Alam untuk semesta. Lebih baik amalkan ilmu untuk kemajuan bersama, memanusiakan manusia, dan merubah cara berpikir menjadi lebih melayani.

Juan Karnadi
Digital dan Publikasi
Yayasan Bayi Prematur Indonesia
juan@inkubator-gratis.org

  • view 62