Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Teknologi 7 Januari 2018   14:53 WIB
Imagineering

Pernah membayangkan betapa cepatnya perusahaan-perusahaan rintisan (startup) ataupun teknologi memutar otak memangkas biaya, konsumsi bahan, serta banyaknya tenaga kerja tiap lahirnya ciptaan / inovasi baru? Atau memang hal demikian sedikit pun belum terbersit dalam benak Anda? Ibarat mobil, semakin cepat lajunya akan semakin menunjukkan efisiensi dan kehandalannya dalam segala kondisi di lintasan. Bagaikan racing (balapan). Ya. Secepat itu. Di tangan mereka, terjadi percepatan dalam menyerdehanakan mekanisme pembuatan teknologi dan melakukan ekspansi. Dan selalu diikuti dengan daya tarik akan kemudahan penggunaan serta sinkatnya waktu pengerjaan. Itulah konsep yang belakangan ini kerap kita temui pada era digitalisasi. Konsep imagineering.

Teknologi Nol

Malah sebenarnya kita bisa menekan biaya pembuatan teknologi tadi, memurahkan pengadaannya, bahkan menolkannya. Teknologi nol. Cukup dengan membayar bahan atau layanan jasa yang ada. Kalau begitu yang lainnya bagaimana? Dengan resource berlimpah ruah yang kini tersedia di Internet, sangat mungkin mendapat semua tools penunjang dalam membangun teknologi nol, namun mutakhir. Itu pun secara cuma-cuma.

Hanya bedanya, pada hardware, melibatkan serangkaian proses manufaktur guna memungkinkan berjalannya infrastruktur teknologi yang disediakan. Sedangkan kendali intinya tetap satu, yakni mikrokontroller yang telah ditanam integrated circuit (IC) yang sejatinya ialah inti cip komputer. Lantas apa hubungannya dengan free resource? Lewat bahan-bahan gratis tadi, algoritma disusun sedemikian sistematisnya, sehingga bisa mengoptimalkan kinerja cip. Upaya peningkatan demikian memicu potensi yang nantinya dapat menjadi keunggulan produk teknologi: sensor, kemampuan memproses mesin komputer, kapasitas memori, dan lainnya (Rhenald Kasali, Tomorrow Is Today, 2017). Keunggulan-keunggulan inilah yang dilirik oleh market.

Sementara pada platform, beragam tools pendukung yang ada bisa diperoleh secara gratis dan berkualitas premium. Jadi bukan hanya mendapatkan layanan dasarnya saja yang memang telah banyak disediakan dan tidak dikenakan biaya (freemium). Perlu keterampilan mencari cara menemukan tools berbayar yang sukar untuk di akses secara terbuka. Misalnya, tombol share platform ke media sosial. Lalu desain kerangka (framework) platform yang elegan, serta penampil konten dinamis dan multifungsi. Juga tak kalah penting optimasi penelusuran oleh mesin pencari. Dan itu semua bisa dilakukan tanpa sepeser pun biaya. Selebihnya pengeluaran digunakan untuk membayar layanan jasa yang dibutuhkan saja.

Pendekatan Entrepreneurial

Baiklah. Saatnya memperjelas perjalanan menuju karya imagineering. Kali ini saya ingin membahasa proyek pengadaan alat-alat ruang NICU murah yang sedang saya kerjakan bersama Tim Inkubator UI dan Yayasan Bayi Prematur Indonesia (YABAPI). Salah satu diantaranya elektromiografi (EMG) yang berfungsi membedakan kondisi otot saat kontraksi maupun relaksasi. Dengan memanfaatkan ketersediaan situs jual beli online, kami sudah bisa mendapatkan semua bahan material EMG yang harganya berkisar di bawah Rp 1 juta. Sebuah gebrakan dalam menekan cost production, karena menjadi jauh lebih murah -dan dibawah 10 persen harga pasaran (marketplace) kebanyakan peralatan EMG.

Teknologi kami bangun lewat penyusunan mekanisme algoritma diiringi dengan pendalaman literasi lebih mendalam. Terlebih, kami ingin melakukan pendekatan entrepreneurial dengan menggandeng sekaligus memberi kesempatan kepada para pengembang lokal -utamanya bidang manufaktur (UKM) dan teknologi (programmer)- guna mengembangkan lebih lanjut alat EMG. Prosedur serupa juga kami berlakukan untuk peralatan NICU lainnya seperti elektrokardiografi (EKG), patient monitor dan syringe pump. Begitulah kami berupaya, gotong-royong memberikan pelayan terbaik pada semua elemen masyarakat.

Demikian pula dalam pembangunan platform / website. Dari berbagai pengalaman yang telah saya lalui selama beberapa tahun terakhir, tantangan pertama adalah mendapat kerangka framework yang mampu menyesuaikan kebutuhan, namun tetap mempertahankan prinsip-prinsip estetika yang ada. Inilah bagian tersulit yang saya lalui dan bisa Anda lihat hasilnya pada website Petualang Cilik sebagai terapan pertamanya. Tidak lupa akan pembernasan konten: kelugasan dalam menyajikan infografis; keluwesan menyampaikan informasi; kerapihan menyusun konten. Sangat membekas ketika awal mengerjakan website YABAPI yang kemudian kami namai Inkubator Gratis.

Berikutnya menjelajahi ruang kreativitas. Tuntutan itu begitu terasa saat mengerjakan sebagian konten untuk kemudian diunggah di situs Socio Traveler (www.socio-traveler.com) dengan tagline fenomenalnya: “Bertualang bukan soal hobi dan kesenangan belaka, tapi memenuhi diri dengan kebahagiaan.” Harus diakui, ini agak memaksa saya sedikit memutar otak dan merubah pendekatan menangkap esensi dan pesan tiap cerita serta menyusun alur penceritaan tiap konsep video. Hal serupa saya terapkan pula pada kegiatan Petualang Cilik dan tim YABAPI. Lalu yang paling berat adalah bagaimana membuat ringan platform supaya tidak lelet saat dibuka / digunakan. Tidak cukup hanya memperkecil ukuran file konten, melainkan mengurangi beban server penyedia layanan jasa. Sekali lagi pendekatan entrepreneurial. Jadi, bersiaplah untuk selalu mencari akal dalam keterbatasan.

Merealisasikan Ide

Bulan lalu, saat saya berkunjung ke Rumah Perubahan, salah seorang karyawan tiba-tiba berujar begini kala kami tengah berdiskusi mengenai masa depan perusahaan-perusahaan startup Indonesia: “Membuat ide itu murah, tetapi merealisasikannya itu mahal.” Sejenak saya tertegun. Ternyata kita memang masih harus banyak belajar berwirausaha secara ekstensif dengan cara-cara yang tak pernah kita lakukan sebelumnya. Sebab kewirausahaan bukan persoalan mengadu gagasan saja, melainkan merealisasikan ide secara menyeluruh hingga kebermanfaatannya menjadi masif dan bisa menjangkau sampai ke masyarakat luas.

Dan kata-kata itu bukan datang dari karyawan tadi, tapi mantan karyawan Rumah Perubahan yang kini sudah menjadi CEO Vestifarm, Dharma Anjarrahman. Dilansir dari situs resminya (vestifarm.com), Vestifarm telah berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 9,52 miliar dan itu berasal dari 917 pemodal yang menginvestasikan dananya secara sukarela. Lebih lanjut lagi, dana itu nantinya digunakan untuk budidaya pertanian dan peternakan -diantaranya yang sudah berjalan sapi, tambak udang, dan bawang merah- sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Itulah kehebatan imagineering bila diwujudkan dengan mengedepankan kearifan lokal kita, gotong-royong.

Sudahlah, hentikan bergumul dalam kebodohan dan ketidakpastian yang kita buat sendiri. Akhirnya harus saya sampaikan bahwa memang perlu ilmu ketabahan melalui ujian demi ujian dalam mewujudkan keutuhan berkarya. Dan agar sampai ke sana, gairah kolektivitas saja tidak cukup, namun perlu lebih dari itu, yakni keinginan kuat menjalankan visi imagineering yang ingin kita bawa kelak di masa depan. Selamat berimajinasi seraya menyelami ide-ide yang kaya akan inspirasi.

Juan Karnadi
Teknik Komputer
Universitas Indonesia

Karya : Juan Karnadi