Sri Mulyani dan Keculasan Teknokrat

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Ekonomi
dipublikasikan 27 Oktober 2017
Sri Mulyani dan Keculasan Teknokrat

Sri Mulyani, memilih untuk mundur pada tujuh tahun lalu (2010), kini menjabat lagi pada posisi yang sama: Menteri Keuangan RI. Bagaimana tidak, amat berat sekali menghadapi kepentingan yang begitu dipaksakan oleh para pembuat kebijakan publik yang katanya mengatasnamakan rakyat. Masa-masa pahit baginya saat harus berkompromi untuk sekedar memuaskan “nafsu” belaka (complacency) dari teknokrat yang sarat kepentingan politik. Dan akhirnya kegaduhan terjadi, karena kenikmatan yang selama ini sudah didapat harus direnggut.

Evil Legacy

Maka dibuatlah sebuah skema yang sedemikian rupa dan begitu well-organized agar kemudian digunakan lawan-lawan Sri untuk mencari-cari kesalahannya, menjatuhkan, bahkan kalau perlu mengkriminalisasi. Memang, sulit sekali memungkiri, sampai hari ini kita masih menyaksikan evil legacy serupa yang ditujukan terhadap para pembuat keputusan kepentingan publik. Secara sistemik, orang-orang yang takut kehilangan ini menakut-nakuti dengan segala bentuk serangan maupun ancaman, sampai substitusi terjadi: dari yang harusnya hasil dari kajian di lapangan secara menyeluruh menjadi semata-mata untuk memenuhi interest tertentu saja.

Tanpa sadar, kita sedang membuat orang-orang kita sendiri tidak maju. Proyek mangkrak, infrastruktur terbengkalai, dan seterusnya. Siapa yang jadi korbannya? Ya rakyat-rakyat yang belum merasakan kebermanfaatan dari setiap pengambilan keputusan yang dilakukan. Tak heran kalau kesenjangan pendidikan dan infrastruktur masih tampak gamblang di berbagai daerah. Tak heran kalau masih kita temui tempat layanan kesehatan dengan fasilitas yang belum memadai; dan ada yang jauh dari kata layak.

Garda Terdepan

Tidak mau berkompromi, Sri memilih menjadi garda terdepan, menghadapi keculasan sebagian politisi dan teknokrat yang mencoba menggerogoti masa depan ekonomi Indonesia. Sudah begitu ia kerap tak luput dari hujatan jajaran Dirjen Pajak serta Bea Cukai yang tidak suka dengannya; tidak terkecuali sebagian orang yang cukup mengenal dekat. Mereka tahu bahwa kenikmatan, comfort zone yang mereka dapat sedang diganggu oleh Sri demi tercapainya kemashalatan bersama.

Maka sahabat dan kolega Sri memilih menjauhi dan menyakitinya. Tapi Sri menyadari, bahwa keuangan negara menjadi poros dari roda perekonomian Indonesia. Lebih dari itu, ia bahkan menyemangati sebagian yang masih memiliki nurani, namun terperangkap dalam kegalauan atas ketidakpastian karena beragam konflik kepentingan tadi di Kementrian Keuangan. Itulah kehebatan Sri Mulyani.

Track Record dan Honesty

Saat kita sudah bisa membukakan jalan, sesungguhnya kita juga sedang berada dalam jalan menuju prestasi. Bila sudah sampai ke situ, barulah kita akan mendapat reputasi. Sesudahnya, reputasi yang Anda peroleh itu perlu diuji lewat tanggung jawab, amanah yang jauh lebih besar: memegang jabatan, menjadi pejabat publik.

Inilah menjadi masa-masa paling krusial. Sebab dari situ akan sangat mencerminkan track record seseorang apakah berkolerasi dengan reputasi yang didapatnya selama ini atau sebaliknya. Bukankah kata harus sesuai dengan perbuatan? Kalau tidak, kasihan rakyat yang akan Anda pimpin nanti.

Apalagi track record itu sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai kejujuran. As honesty is more than not lying, but the truth living, truth telling, and truth loving. Ya. Sudah cukup kita menyaksikan banyak kekacauan yang terjadi di negeri ini karena ulah dari para regulator serta birokrat yang pandai bicara dan gemar berwacana saja, tapi minim eksekusi di lapangan. Gawat kalau sudah begini!

Dare Do The Good

Orang baik harus berani berbuat kebaikan. Sudah saatnya kita membuka ruang seluas-luasnya untuk banyak orang baik di luar sana, ikut terlibat dalam institusi serta lembaga pemerintah; terutama yang keputusannya berkaitan langsung dengan hajat hidup banyak orang. Lagi, media sudah seharusnya berhenti memberitakan hal-hal negatif serta memutarbalikan fakta tentang keadaan dunia pemerintahan saat ini. Dan kita juga harus menahan diri untuk melebih-lebihkannya.

Lantas, kalaupun tidak bisa menjadi pejabat publik bagaimana? Anda masih punya jalan lain, yakni dengan menjadi CEO yang bukan mematikan, tapi memberdayakan para kaum marginal yang kini tengah berjuang lewat usaha-usaha kecil yang mereka buat. Akhirnya, saya harus katakan bahwa jalan menuju kehidupan yang produktif dan penuh kedamaian itu masih panjang. Dan menjalani dalam upaya mewujudkannya itu pahit. Bertahan pada komitmen tidak mengingkari kebenaran.

Tapi ini untuk tercapainya kesejahteraan menyeluruh, kehidupan yang lebih baik lagi untuk anak-cucu kita di masa mendatang. Anggaplah ini sebuah amanah yang membawa kita pada nantinya untuk bisa mewujudkan karya yang menyejahterakan sebangsa (prospering work). Jadi, kalau merasa Indonesia sudah kemunduran akut, ya bantu lah! Jangan bisanya cuma kritik dan komentar sinis saja. Dare Do The Good. Berani?

  • view 125