Membangun Manusia, Harus Berkomitmen!

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Lainnya
dipublikasikan 29 Juni 2017
Membangun Manusia, Harus Berkomitmen!

Sudah saatnya kita berhenti berwacana dalam membangun manusia. Banyak rencana namun tidak tuntas. Perlu komitmen kuat dari semua elemen masyarakat. Pilihannya hanya ada dua: membiarkannya semerawut atau bertindak nyata. Memang membangun manusia memerlukan jangka waktu panjang. Tidak akan selesai dalam setahun dua tahun. Ini belum masuk pada resiko yang dihadapi para pemimpin yang punya komitmen kuat akan hal tadi. Berhadapan dengan mereka yang tak mau dibukakan cara berpikir baru, terganggu kepentingannya, dan takut kehilangan apa yang hari ini sedang dinikmati. Sementara kita? Kita cuma sibuk bertengkar, saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Berat kan?

Kelam

Cukup! Tak perlu sia-sia membuang energi kita. Mari ambil contoh nyata dari upaya pembangunan manusia: RPTRA & RTH Kalijodo. Di masa lampau, tempat itu masih jadi sarang pemukiman liar yang kumuh dan tidak terawat. Di tambah aktivitas yang membuat warga disana terkadang gelisah saat malam hari: PSK, miras, dan sebagainya. Masyarakat dibiarkan tak terurus. Dan hal demikian di diamkan selama bertahun-tahun. Sungguh kelam sekali. Sampai datang sebuah momentum untuk memperbaharui kehidupan di Kalijodo. Kecelakaan di ruas jalan Daan Mogot, Kalideres (8/2/2016) yang telah merenggut nyawa empat orang berasal dari konsumsi alkohol berlebih setelah pesta bir. Itulah yang memperkuat upaya bersikeras penggusuran Pemprov DKI.

Semakin gaduh suasana menjelang hari penggusuran tiba. Sebagian yang tak mau berpikir dan bekerja ini dengan lantang menyuarakan ketidakadilan terhadap mereka. Hematnya sulit diajak maju dan membuat sekitarnya maju pula: sebaliknya malah menghambatnya. Agak mirip dengan yang dialami walikota Surabaya Tri Rismaharini sewaktu membongkar kawasan Dolly; dan berupaya menjadikannya smart city. Tapi tidak sedikit yang mensyukuri usaha membarukan Kalijodo dari masa lalu. “Sekarang jam kegiatannya sudah normal lagi. Dagang buka dari pagi sampai malam. Bukan dari malam sampai subuh seperti dulu”, ujar seorang penjaja makanan dan minuman. Kini langkah tadi semakin menunjukkan hasilnya. Kehidupan lebih produktif, ruang menumbuhkan suasana kekeluargaan makin terbuka, dan bertambah banyak usaha-usaha kecil yang hidup di sana.

Pemberdayaan

Sesudahnya, terjadilah pemberdayaan terhadap warga disana. Setidaknya ada tiga hal. Pertama, memberdayakan menuju masyarakat mandiri. Produk-produk yang sudah siap pakai merupakan hasil buatan dari para ibu PKK disana. Yang dibuat antara lain aneka kerajinan tangan serta makanan ringan. Bahan untuk kerajinan tangan pun berasal dari barang bekas yang diolah hingga sedemikian rupa. Semua itu kemudian dipamerkan dan dijual pada pengunjung untuk penghidupan mereka sendiri.

Kedua, mengedukasi anak sedari dini. Ruang perpustakaan dan wahana bermain menjadi sarana edukasi tadi. Lantas bagaimana itu terjadi? Rupanya bahan bacaan untuk anak-anak disana menang telah dipilih dengan seksama. Selain mendidik, kontennya juga diharuskan agar ringan dan mudah dipahami. Tetapi ada yang lebih dari itu sebenarnya. Ketika anak-anak tadi membaur, disitulah akan terbentuk sebuah intisari hidup bernegara: menghargai keberagaman. Dari berbagai latar belakang, mereka belajar saling bertoleransi dan menghargai satu dengan yang lain. Apalagi ini makin tampak kala mereka bermain sambil belajar di tengah alam terbuka. Mereka jadi saling menghidupi, berbagi, dan lebih adil terhadap sesama disekitarnya. Ini dapat diperkuat bila orang tua mampu menanamkan nilai-nilai tadi dengan penuh kebijaksanaan di rumah Sehingga kemudian menghidupkan kembali kearifan lokal kita bersama, yakni gotong royong.

Berikutnya menumbuhkan atmosfer kewirausahaan. Langkah yang diambil ialah dengan mengajak para PKL ikut terlibat di dalamnya. Utamanya mereka yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Yang lolos segera di daftarkan ke Badan POM. Keterlibatan itu berarti meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan warga disana dan penghidupan kembali berbagai usaha skala mikro. Jadi yang ambil peran bukan hanya para ibu PKK saja, melainkan juga pedagang-pedagang kecil tadi. Hal demikian telah dilakukan tim Yayasan Bayi Prematur Indonesia (YABAPI) dalam mengembangkan produksi “inkubator gratis” -nya; mengajak dua jenis UKM: kayu dan akrilik. Inilah kekuatan utama entrepreneurship: mengasah dan mempertajam kepedulian lewat pemberdayaan.

Ruang Berkarya

Saya kagum dengan karya anak-anak bangsa kita yang ada disana. Bukan hanya arsitektur saja, tapi karya para seniman mural yang tergambar di sepanjang dinding kawasan RPTRA & RTH Kalijodo. Lukisan di dinding itu bercerita, menyiratkan begitu banyak life values dari sejarah pembangunan Kalijodo sendiri. Energi perubahan yang tadinya tidak begitu terasa perlahan akan semakin kuat karena hadirnya orang-orang yang memercayai kebenaran -sekalipun itu menyakitkan. Dan rakyat pun rela mengorbankan kepentingannya semata, terlihat bahagia dan menyatu dalam keceriaan untuk kemajuan bangsa. Intinya kemashalatan Bersama dalam satu visi: NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Begitulah cara mewujudkan ruang berkarya. Dan itu tak hanya berhenti sampai di situ saja. Anak muda dapat memanfaatkan ruang lapang (dekat perpustakaan) serta area lapang lainnya untuk menghasilkan karya-karya bersifat intangible. Kelak karya mereka nanti mampu memecahkan persoalan yang hingga kini masih ada di negara kita. Artinya, makin banyaklah akal kita menjawab permasalahan yang ada dengan solusi konkret. Membawa kepastian dalam kekacauan. Ini sangat baik bagi kita semua dalam mengawal Bersama perjalanan bangsa sediri menuju sebuah bangsa spektakuler. Luar biasa dan masif dampak yang ditimbulkan.

Sekarang kita jadi paham mengapa pemimpin dengan karya yang spektakuler begitu banyak ditentang di luar sana. Penyebabnya saling berkesinambungan: dari pihak yang menjadi beban, ketidakmampuan mengapresiasi, hingga ketidaksediaan melewati masa-masa sulit. Kalau terus seperti ini, yang ada kita tetap jalan di tempat dan banyak karya yang tidak selesai. Ya. Kita sendiri yang membangun penjara rasa takut untuk maju.

Krisis dan Kemiskinan

Dari krisis, kita bisa menarik benang merah sebab dari kemiskinan. Tidak lain adalah orang-orang yang masih punya beban dan berada dalam ketidakbahagiaan. Mereka memandang perubahan sebagai sebuah kerugian, ancaman baginya; tak mau membantu yang lain agar berkembang. Terlalu berlarut dalam kesusahan yang dialaminya.Alih-alih membuat sebangsa maju, mereka malah memeras serta mengurasnya, membelakangi para pengabdi sosial. Jadilah timbul masalah-masalah, lalu berlanjut menjadi tragedi kemanusiaan.

Sesungguhnya tragedi tadi dapat kita ubah, membalikannya menjadi sebuah kebahagiaan. Sekarang semua berpulang kembali pada setiap kita. Tinggal kita memilih: mendiamkan atau membangun aksi (action-oriented). Lebih baik kita renungkan kembali. Bila kita masih sungguh-sungguh ingin membangun manusia yang mumpuni mengamalkan ilmunya. Happy Holiday.

Juan Karnadi
Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

  • view 59