Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 29655
            [type_id] => 1
            [user_id] => 11640
            [status_id] => 1
            [category_id] => 119
            [project_id] => 0
            [title] => Mbah Priok
            [content] => 

Dua pekan lalu, saya pergi mengunjungi sebuah tempat wisata bersejarah ibu kota. Perjalanan dimulai dari halte Sunter – Kelapa Gading dengan Transjakarta. Kira-kira dua puluh menit lamanya saya berada di dalam sana hingga pemberhentian terakhir. Ternyata tidak ada kendaraan busway yang setidaknya melewati tempat yang ingin saya tuju tadi.

Jadilah saya naik ojek meski harus merogoh kocek lebih dalam. Tak perlu waktu lama. Sepuluh menit saya sudah sampai. Dan setibanya disana, pandangan saya langsung tertuju pada sebuah bangunan sederhana. Sekitarnya di penuhi pengunjung serta para santri yang mengurus dan merawatnya. Anda tahu tempat yang saya maksud? Benar. Itulah makam Mbah Priok.

Gotong Royong

Lantas apa yang saya temukan disana? Saya pun mencoba mencari tahu lebih lanjut, ikut membaur dengan para santri. Telah banyak kegiaan yang digagas dan berjalan disana; tak menjadi sebatas wacana. Malah, mereka semakin ingin memperbanyak usaha serta tindakan bermakna tadi. Itu sudah berlangsung sejak lama. Jauh sebelum yayasan terbentuk.

Di situlah saya menemukan satu hal: gotong royong. Semangat itu sangat mereka hidupi dalam suasana guyub. Terinspirasi dari Mbah Priok yang selalu memenuhi diri serta orang lain dengan kebahagiaan. Di rumahnya, ia beri makan, juga tempat tinggal untuk mereka yang membutuhkan. Memang. Batas lumrah dan belenggu-belenggu (ancaman, kenikmatan, dan sebagainya) telah dilampaui. Begitulah cara memahami Indonesia seutuhnya.

Tragedi tujuh tahun lalu rupanya telah memberikan pelajaran tersendiri bagi warga di sana. Mereka begitu terprovokasi dengan upaya penertiban bangunan liar -yang isunya telah dibelokkan menjadi penggusuran makam. Terciptalah kegaduhan hingga situasi menjadi tidak terkendali. Puncaknya pada 14 April 2010, yang membuat tiga satpol PP harus meregang nyawa. Tapi itu dulu. Kini, mereka justru bisa menerima beragam cara berpikir dengan lebih terbuka. Mereka hanya peduli, “What is right is right though everybody doesn’t do it. What is wrong is wrong though everybody does it.”

Sayangnya tidak dengan kebanyakan kita. Kita masih suka bersikap palsu, mudah tersulut, dan jadi bersumbu pendek. Celakanya arogansi dan pembenaran diri lah yang kerap kita tunjukkan. Malah kita jadi tak mampu berpikir rasional dalam membaca gejala. Ini sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan kognitif saja belum cukup mendewasakan manusia tanpa dibarengi kemampuan mengolah empati dan melihat realita sebenarnya, alam semesta.

Pemberdayaan

Soal pemberdayaan, pihak pengurus telah menjalankan secara terstruktur dan terorganisir. Setidaknya ada empat catatan dari saya. Pertama terhadap para santri itu sendiri. Jadi disana sudah ada berbagai bidang yang memiliki perannya sendiri. Tinggal menyesuaikan dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki.

Diantaranya bidang televisi yang bertugas menyiarkan kegiatan disana secara live. Anda juga dapat menyaksikannya lewat streaming website. Tak lupa bidang IT yang mengelola jaringan serta mengurus layanan Transjakarta gratis (Istiqlal – Mbah Priok). Ada pula sebagian mereka yang berperan menghibur para pengunjung disana (entertainment). Masih belum berhenti sampai disitu. Pengurus ikut terlibat memasak setiap acara makan malam bersama tiap Jumat malam untu sekitar dua sampai tiga ribu pengunjung. Bagus untuk membangun kreasi mereka, juga menemukan jalan membuat hidup produktif.

Kedua perihal UKM. Sejumlah warga menjajakan barang dagangan berupa souvenir dan (kebanyakan) makanan-minuman di sekitar tempat wisata. Saya sudah mencoba salah satu bakso disana; rasanya lumayan menggugah selera makan. Selain itu, ada pula buku saku tentang sejarah makam Mbah Priok. Cukup dengan Rp 10.000,00 Anda sudah bisa mendapatkannya. Murah bukan?

Ketiga, lahan kosong yang tadinya tidak terpakai (idle) sekarang telah menjadi akses keluar-masuk wisatawan. Hal demikian telah ditegaskan pula oleh Gubernur DKI saat ini, Basuki Tjahaja Purnama beberapa waktu lalu. Ini lebih baik ketimbang membiarkan aset-aset yang ada menganggur. Menjadikannya produktif untuk kepentingan bersama.

Keempat pembanunan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Saat ini pengurus makam Mbah Priok tengah menyiapkan rumah potong hewan (RPH) guna menyediakan bahan makanan. Mereka juga ingin mendirikan sekolah-sekolah PAUD untuk warga disana. Dan kelak akan dibangun sebuah universitas, sehingga mempermudah akses pendidikan. Saya terkagum.

Saya yakin, kalau semangat kewirausahaan serupa dilakukan banyak kegiatan di berbagai daerah, maka dapat tercipta “Indonesia Mandiri Ekonomi” di masa depan. Lingkupnya masif, berdampak kian meluas, dan makin memajukan bangsa. Berlandaskan ekonomi gotong royong. Inilah entrepreneurship yang perlu digaungkan secara gamlang. Intinya harus punya karya dan juara dalam berusaha, bukan cuma jago berwacana dan merangkai cerita.

Berdamai

Saya jadi teringat akan masa magang yang saya jalani selama setahun lebih di Rumah Perubahan bersama teman-teman disana. Begiu terasa kehangatan serta kekeluargaan. Harus saya katakan, bahwa mereka yang kaya adalah yang mau membuka kebenaran, berempati, dan berbagi lebih. Sebaliknya pihak yang berlawanan selalu saja mencari alasan untuk enggan menerima kebenaran serta mendengarkan dan membaca semesta; apalagi berbagi. Maka keliru kalau berbagi membuat kita semakin kekurangan.

Nothing venture, nothing win. Tanpa pengorbanan, tidak akan ada perjuangan; dan tanpa perjuangan, tidak aka nada keberhasilan. Apa yang kita saksikan hari ini sesungguhnya sesungguhnya adalah akibat dari tindakan setiap kita yang berkelanjutan. Dan itu terjadi, saling terhubung dengan dunia; bukan cuma disini. Maka janganlah percaya bahwa hidup ini kumpulan ramalan serta hoax yang kerap dipergunjingkan dan tak mau kita uji kebenarannya. Hanya hati yang kuat, wisdom, dan keberanian membuka kebenaran lah yang bisa memenangkan kehidupan di alam yang selalu penuh dengan dinamika ini. Mari berdamai dengan pikiran masing-masing.

Juan Karnadi
Mahasiswa Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

[slug] => mbah-priok [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1493433174.png [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 122 [issued] => 0 [author] => Juan Karnadi [username] => juankarnadi [avatar] => file_1469767524.png [status_name] => published [category_name] => Renungan [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2017-04-29T09:32:54+07:00 [updated_at] => 2018-10-04T09:00:22+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.592486ms [status] => 200 )