Pahlawan

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Renungan
dipublikasikan 10 November 2016
Pahlawan

Masih ingat demo 4 November kemarin? Ya. Sebuah unjuk rasa yang menyuguhkan kita dengan segala fenomenanya. Mulai dari para tokoh agama yang menenangkan massa, peserta yang saling memperhatikan satu dengan yang lain, hingga bersih-bersih jalan. Kita juga melihat betapa dikedepankannya dialog serta langkah persuasif. Tapi tunggu dulu. Aksi memang berlangsung damai sampai menjelang petang. Sesudahnya? Berubah drastis! Nyatanya, kembali lagi kita saksikan anarkisme, perusakan, dan tindakan penuh kebencian lainnya. Di media para elite dan petinggi ormas pun malah bertengkar, saling menyalahkan, dan seterusnya; bicara bak. pahlawan. Padahal tujuannya sudah jelas: menciptakan kegaduhan. Memang. Ke sini, semakin terlihat mana pahlawan sesungguhnya. Mereka adalah yang memperhatikan kesulitan dan menghidupkan kepedulian. Sementara yang mengaku-ngaku justru membelakangi perjuangan para pahlawan tadi.

Selaras, Sejalan

Ada pepatah mengatakan, “Man is a hero in words, but zero in action.” Benar adanya. Tak heran kita temui politisi, pejabat, bahkan motivator ternama sekalipun kerap bicara asal bunyi, tanpa data empirik dan tak mau melihat perspektif lain. Celakanya pengikutnya juga tidak sedikit yang terbius dengan betapa indahnya ucapan -dan kebenaran- yang mereka sampaikan. Namun orang-orang yang saya sebut pahlawan tadi justru sebaliknya. Creed (pegangan) yang mereka anut sederhana: right thinking, right speaking, right acting. Mereka terus membangun karakter dan bersikap lebih gentle. Yang penting selaras, sejalan. Dan tentu saja tanpa mengabaikan nilai kebersamaan.

Ahok misalnya. Siapa yang tak segan terhadapnya? Seringkali ia berseberangan dengan pengambil keputusan strategis dan juga pengusaha nakal yang ingin menggerogoti anggaran DKI. Terkadang ia membuat pernyataan yang menyinggung orang (yang punya kepentingan). Tapi bicara hasil kerja tak ada yang bisa memungkirinya. Banjir cepat surut, transportasi dibenahi total, layanan publik lebih memadai. Alhasil, tingkat kepuasan dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Hanya ada saja yang gemar memelintir ucapannya demi kepentingan politik, wujud dari egosentrisme. Beruntung ia tak sampai masuk penjara; malah aktor penebar kebenciannya yang sekarang tampak kalut.

Lain halnya dengan mantan menteri BUMN kita, Dahlan Iskan. Terobosannya memberikan energi baru berwirausaha dan berinovasi. Ia benahi listrik biarpet di luar Jawa dan daerah terpencil lain, menciptakan mobil listrik agar asing tak membanjiri Indonesia dengan LCGC buatannya. Naas. Belum selesai mewujudkannya, impiannya harus berhenti karena kakunya aparat dan birokrasi kita. Kini ia tengah menjalani masa tahanan di Jawa Timur, dan makin terbebani kasus mobil listrik (lagi) yang telah menjebloskan entrepreneur kita: Dasep Ahmadi. Sama dengan yang dialami mantan menteri kesehatan Siti Fadilah. Wanita ini sangat vokal sekali menyuarakan ketidakadilan yang dilakukan negara adikuasa perihal kesehatan. Semua bermula dari wabah flu burung. WHO memaksa Indonsia mengirimkan virus flu burung untuk kemudian dibuatkan vaksinnya. Tetapi ia menentang. Mengapa? Andai saja ia turuti, sampai detik ini flu burung masih akan tetap ada di Indonesia, dan negara-negara lain di dunia.

Saat itu negara terlanda penyakit harus mengirimkan virusnya lewat GISN (Global Influenza Surveillance Network) ke WHO. Lalu sesudahnya? Begini. Vaksin kemudian dibuat dibuat oleh negara adikuasa. Bagus. Yang jadi masalah adalah tujuannya: di perdagangkan melulu untuk keuntungan. Maka di ciptakanlah rute persebaran virus dengan membuat virus baru, lalu dikirimkan ke negara-negara miskin yang ada. Setelah itu, didbuat vaksin untuk kemudian dijadikan komoditas dagang dengan memanfaatkan aturan WHO tadi. Dan hal demikian terus berulang. Gila! Inilah pendudukan dunia kesehatan yang telah merenggut hak negara miskin mendapat akses kesehatan. Tapi Siti berani membongkar itu semua, dan seluruh dunia berterima kasih padanya. Mirisnya, ia justru dijadikan tersangka oleh KPK beberapa waktu lalu. Aneh kan?

Heart Attitude

If you think falsely, you will act mistakenly; if you think basely, your conduct will suit your act. Sekarang kita bisa menilai sendiri apakah selama ini kia sudah berbuat sesuatu untuk kemajuan negara. Setidak-tidaknya tindakan bermakna. Ke mana yang selama ini tak pernah berbuat apa-apa dan suka menyerang? Begitu kampanye banyak mengumbar janji dan langsung aktif di sosmed; buruknya lagi berkomentar sinis. Padahal kinerja belum tentu lebih baik dari petahana sebelumnya. Sedangkan para pahlawan tadi selalu berprinsip: “Keep on The Right Way”. Benar. Mereka tak pernah merasa insecure untuk urusan memperjuangkan kebenaran. Tidak ada belenggu melekat pada diri mereka sama sekali.

Lebih, inilah yang membedakan mereka dengan kebanyakan orang: heart attitude. Mereka selalu mendengarkan, memahami, dan benar-benar terpanggil nuraninya. Terpanggil membuat hidup lebih produktif-bermakna. Hal demikianlah yang menjadikan mereka memiliki gagasan besar, mempunyai visi jauh ke depan, dan berkeinginan kuat memperbaiki masa depan. Jadi sikap yang benar bukan hanya datang dari pikiran, melainkan terlintas jauh dari nurani kita. Di sini, heart attitude memegang peranan penting membentuk keseharian kita. Dan itulah fondasi utama dalam membangun bangsa.

Maka, kita patut bergembira akan mantan ketua KPK kita yang sebentar lagi bisa menghirup udara segar, Antasari Azhar. Lebih turut berbangga berhubung pembebasan itu dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan pada 10 November ini. Sekali lagi ini terjadi karena pemerintah dan aparat penegak hukum kita membiarkan negara kita tak terurus; sebaliknya mengurasnya. Sungguh ironis. Bahkan keluarga yang menjadi korban pun tidak percaya ia pelakunya; malah mendukung penuh Antasari hingga persidangan, termasuk ketika menjalani masa penahanan dan sampai sekarang. Ia boleh saja kalah sewaktu kita masih hanya peduli dengan eksistensi diri. Tetapi ia hebat, sebab ia tak menyimpan dendam, dan tak pernah membiarkan penguasa kebal hukum serta berbuat semaunya. Bukan hanya menang melawan diri, tapi juga telah memenangkan hati rakyat. Inilah era pembaharu: menggerus kejahatan dan meninggikuatkan orang-orang baik (yang terus bermunculan).

Jadi Siapa Pahlawannya?

Pasti Anda bertanya-tanya, “Siapa itu Pahlawan?” Jawabnya adalah mereka yang menyejahterakan yang belum tersejahterakan, menggerakan semesta bergotong-royong, serta terus (dan ingin) memberi lebih. Itulah pahlawan sejatinya.

Saya ingin mengajak anda keluar dari sikap berlarut, membuka diri, dan mengedepankan kepentingan bersama. Bahagia bukan hanya untuk keluarga dan relasi kita. Saatnya bergerak dengan atmosfer kebangkitan. Dan ingatlah bahwa keutamaan hidup adalah mengurus, memelihara alam, dan juga manusianya. Selamat Hari Pahlawan.

Juan Karnadi
Mahasiswa Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

  • view 309