Memulai

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Renungan
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Memulai

Hingga hari ini kita masih terlalu sibuk dengan diri. Selalu merasa susah, hanya peduli dengan eksistensi diri, adalah sebagian gejalanya. Ini semakin di perkeruh pemberitaan media yang melulu menguras sebangsa: wacana full day school; kekerasan terhadap guru; dan kembali lagi, kopi sianida. Ya. Kita lupa akan hal-hal ini: persaingan sudah memasuki lintas benua, inovasi dan penemuan baru terus berdatangan, dan masih banyak yang membutuhkan kita. Entah karena terbiasa atau sempitnya pikiran, penulis kurang tahu persis. Yang jelas, ketika memulai satu hal, begitu besar energi yang kita perlukan. Duh! Rasanya amat berat.

Pilihan

Itulah sebabnya mengapa kita selalu tertinggal, sementara negara lain semakin cakap, terampil, dan lincah. Baiklah! Kembali lagi ke persoalan intinya, memulai. Penulis ingin mengajak Anda melihat kisah dua anak muda ini: Adi Pramudiya dan Rio Haryanto. Bermula dari melihat lahan yang tidak terurus di Jonggol, Adi memilih terjun menjadi petani. Mulai dari menanam singkong, lalu beralih ke lengkuas sampai sekarang. Semua ia pelajari langsung dari ahlinya, Pak Aman. Adi pun berhasil menjangkau seluruh pasar induk di Jabodetabek, bahkan hasil pertaniannya sudah menembus pasar ekspor luar negeri pada 2014; di antaranya Belanda dan Jerman.

Dari bertani, ia belajar kehidupan, menghargai jerih payah petani berletih-letih untuk menghasilkan sebulir nasi. Penulis masih teringat ucapannya yang menyentak hati: “Kalau tidak ada petani, kalian tidak akan makan.” Jelas kalimat ini menggambarkan profesi petani yang masih di pandang dengan perspektif miring karena permainan harga para tengkulak. Adi tak tinggal diam. Ia mendirikan sebuah komunitas untuk menularkan kecintaan pada pertanian ke generasi muda: Rumah Menanam Indonesia. Dan ia masih bermimpi, “Saya ingin menghidupkan Indonesia lagi jadi negara agraris, yang bangga dengan petaninya.”

Perjuangan berat juga dialami pembalap kita, Rio Haryanto. Menempuh laga F1, ia sudah harus berjuang soal pendanaan. Itu pun masih belum selesai, sebab belum menutupi kekurangan dana. Sudah begitu DPR tidak menyetujui anggaran untuk mendanainya. Terlintas dalam benak penulis: “Sesulit itukah mengharumkan nama bangsa?” Tapi kenyataannya memang pahit. Tak ada yang mau membantu meski Menpora -beserta seluruh jajarannya- sudah berjuang keras mendapatkan sponsor. Hanya Pertamina! Lainnya tidak. Akibatnya posisi Rio sebagai pembalap utama harus digantikan Esteban Ocon.

Penulis yang menggemari dunia balap sesungguhnya sangat menyayangkan hal ini. Terlebih ketika membaca komentar pasukan penebar kebencian dan sakit hati di sosmed. Harus diakui, keterlibatan kolektif kita masih amat kurang. Kita lebih suka saling menghujat dan menyalahkan ketimbang bertindak nyata. Hasilnya sudah terlihat: kita menjadi sebuah negara yang morat-marit dengan segala persoalan yang membelenggu kita sendiri. Benar. Tak banyak yang menyadari bahwa pilihan kita saat inilah yang kelak menentukan sejarah bangsa.

Sekarang Juga

“Jangan kebanyakan curhat, perbanyak eksekusi.” Itulah pesan dari seorang teman, Jombang Santani Khairen. Semula penulis tidak memahami mengapa ia berkata demikian. Namun pendirian Benjamin Franklin dengan gamblang mempertegas hal tadi. “You can do anything that you set your mind to.” Ya! Pikiran kita adalah energi kita. Ia bisa membawa kita memperkaya visi, membangun karakter, melengkapi diri menuju sebuah pencapaian; dan sebaliknya merapuhkan keberanian, mengancam nilai-nilai luhur berbangsa-bernegara, mematikan kebersamaan. Lantas pilih yang mana?

Kita bisa belajar dari EKI Dance Company bagaimana membangun gotong-royong dalam asas kekeluargaan. Jadi para penari pertama-tama diajak membenahi hidupnya: mulai dari cara makan, jam tidur, hingga kesantunan. Bahkan untuk keluar asrama saja mereka harus ijin. Semua dijalankan dengan fondasi kedisiplinan. Disiplin diri. Makin terkagum akan tagline para anggota EKI:  “In Art We Unite”. Apalagi mendengar pernyataan pendirinya, Aiko Senosoenoto dan Rusdy Rukmarata. “Hasil seni yang bagus bukan hanya satu orang, tapi banyak orang.” Yang dihidupkan bukanlah ego, melainkan semangat berkolaborasi. Dan itu semua dilakukan demi satu tujuan: mengenalkan seni Indonesia ke penjuru dunia.

Sampai disini perlu kita renungkan: “Sadarkah bahwa Nusantara saat ini hasil dari apa yang kita lakukan dan percayai sejak lampau?” Kalau masih melekat sikap berlarut-larut (nanti, tunda, tunggu, undur, dan seterusnya), maka buatlah sebuah tindakan bermakna. Sekarang juga! Lebih baik daripada berdiam diri, kan? Sekarang Anda sudah mengerti apa yang membuat kita selama ini tidak mendapatkan apa-apa. Kita terlalu takut akan kegagalan dan ketidakpastian. Kalau sudah begitu cuma bisa menyesal, bilang tersesat, salah jalan, dan ...... Silahkan cari jawabannya sendiri. Penulis tidak ingin membahas lebih lanjut disini.

The Better

Saatnya bangkit-bergerak memajukan Indonesia dengan motto “The Better”. Menjadi lebih baik. Ya dalam menjaga api optimisme, berparadigma, membuka wawasan, mengayomi kepentingan bersama, menggerus hasrat menguasai, dan masih banyak lagi. Intinya menggugah rasa memiliki Indonesia. Ini pentingnya memelihara persatuan, sebab ia bisa menembus batas lumrah manusia dengan mengedepankan kearifan lokal. Dan itulah cara mewujudkan kehidupan harmonis dan penuh kedamaian, mengawali perjalanan sebagai bangsa elegan, kreatif, dan bernilai.

Berhenti mengeluh dan membuat tanggapan negatif. Belalah yang selama ini tak pernah mendapat keadilan dan kesejahteraan. Penulis ingin mengutip pernyataan Socrates berikut ini: “The secret of change is to focus all your energy, not on fighting the old, but on building the new.” Benar adanya. Dan memang kita perlu bertanya pada diri, apakah kita masih mengutuki masa lalu, atau menyongsong masa depan. Jawabnya tergantung langkah yang kita ambil sekarang. Pesannya cuma satu: mulailah. Dengan memulai, cakrawala kita akan terbuka luas, melihat dunia yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Maukah? Selamat ulang tahun ke-71, Tanah Air tercinta. Semoga kita tak pernah membiarkan diri (fisik dan mental) kita terjajah.

Juan Karnadi
Mahasiswa Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

  • view 241