Inkubator Gratis Untuk Nusantara

Juan Karnadi
Karya Juan Karnadi Kategori Kesehatan
dipublikasikan 27 Juli 2016
Inkubator Gratis Untuk Nusantara

Beginilah kisah getir dari salah seorang ibu bayi prematur. Belum melahirkan saja sudah di buat cemas oleh dua orang dokter. Satu dokter kandungan dan satunya dokter anak. Sama-sama memberi ketidakpastian. Sesudahnya malah jadi semakin gelisah. Dengan nada pilu, ia bercerita mahalnya biaya perawatan (ruang NICU) di rumah sakit yang seharinya bisa mencapai Rp 10 juta. Sementara BPJS tak bisa dipakai. Ia pun memutuskan membawa pulang bayinya, dan merawatnya di rumah. Dan sang bayi akhirnya meninggal dalam keadaan kronis: pecah pembuluh darah. Sungguh tragis!

Menolong Bayi

Kasus diatas menjadi potret betapa sulitnya mendapat layanan kesehatan secara menyeluruh. Makin ke Timur makin sedikit aksesnya. Ditambah lagi dengan biaya yang tidak terjangkau. Ini tentu menjadi persoalan sendiri bagi warga yang jauh dari sejahtera, kala mereka mengalami kesusahan menyelamatkan anak bayinya ditengah perjuangan menafkahi keluarga. Rumah terjual, sepeda motor dijual, perjalanan menuju rumah sakit begitu jauh. Ya. Semua itu membuat mereka sangat tertekan.

Maka dibuatlah program peminjaman inkubator gratis. Tidak hanya untuk bayi prematur saja, tapi juga bayi kuning -sudah dengan paket fototerapinya. Apa saja yang kami lakukan? Jadi sebenarnya persebaran inkubator gratis ini sudah ada di berbagai daerah. Selain bisa ditemui di Jabodetabek dan Jawa, juga di luar Jawa seperti Aceh, Kalimantan Barat, dan Makassar. Dan sudah siap menjangkau Papua. Yang meminjam pun datang dari beragam kalangan, mayoritas dari kaum prasejahtera. Pernah kami meminjamkan inkubator untuk bayi kembar tiga.

Kami juga membangun kerjasama dengan institusi kesehatan yang menjadi mitra kami: R.S. Fatmawati; RBC (Rumah Bersalin Cuma-Cuma) Bandung; dan Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh. Dan yang memegang peranan utama adalah agen relawan yang memungkinkan semua itu terjadi. Merekalah yang mengantar dan mengambil, memelihara; bahkan ada yang mengganti biaya produksi inkubator juga. Semua kami jalankan dengan asas kebersamaan. Bila ada yang kekurangan inkubator, bisa meminjam dari agen lainnya. Disinilah pentingnya komunikasi secara berkesinambungan sambil bahu-membahu menolong bayi.

Selain itu, kami juga memiliki platform startup online guna memudahkan pencarian informasi kegiatan peminjaman inkubator gratis untuk Nusantara. Anda bisa buka website kami di www.inkubator-gratis.org atau temukan di Google dengan kata kunci “inkubator gratis”. Disana anda bisa melihat informasi terkait peminjaman. Kami juga menyediakan fitur donasi, menggalang dana dari publik secara online untuk menunjang biaya operasional, dan utamanya nanti untuk biaya rumah sakit peminjam inkubator.

Yang Culas

Tentu ada pihak-pihak yang begitu culas menentang program ini. Siapa saja? Pertama, sudah pasti para dokter yang ingin mencari keuntungan semata. Dokter-dokter ini biasanya mengadakan kerjasama dengan pihak farmasi, menjual obat tertentu dengan harga fantastis. Berlipat ganda. Selain komisi, juga dapat bonus fasilitas seperti mobil, dan liburan. Jelas ini membuat biaya berobat sangat mahal dan masyarakat kian resah.

Kedua rumah sakit yang enggan bersentuhan dengan rakyat kecil. Mereka cenderung abai terhadap isu kesehatan disekitarnya. Indikatornya? Penelantaran, komersil, tidak ada pertanggungjawaban, dan seterusnya. Hingga akhirnya berujung kematian, mencerminkan buruknya pelayanan dari rumah sakit. Ketiga, pengusaha alat kesehatan, yang takut kehilangan pendapatan dengan hadirnya alat-alat kesehatan yang jauh lebih sustainable. Siapa sih yang rela kehilangan penghasilan menjanjikan begitu saja. Kenapa tidak tawarkan mereka menjadi mitra? Alih-alih mengajak, kita justru malah memberangus ide dan inovasi kesehatan brilliant yang sebenarnya bisa menolong jutaan rakyat, melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kementrian Kesehatan beserta seluruh jajarannya. Tampak sekali dari aspirasi dan kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan umum. Kita benar-benar sudah gila memeras orang sakit.

Para ilmuwan, bukalah mata hati Anda! Jumlah orang sakit kian terus bertambah setiap harinya. Kalau bukan kita yang memberdayakan dan mengurus mereka, siapa lagi? Bangsa kita sesungguhnya telah membiarkan sebagian calon generasi penerusnya mati sia-sia. Tak ada artinya riset kalau cuma jadi onggokan menggunung saja di gudang; tanpa bisa menolong jutaan orang di daerah terpencil sana. Apalagi bayi prematur yang sudah harus berjuang sejak dilahirkan. Hidup atau mati! Kedinginan di malam hari, terancam di rumah sakit karena ketidakpedulian kita. Jangan mau digerus kapitalisme. Bantulah yang selama ini terpinggirkan, tak pernah di jangkau, dan tak tersejahterakan. Benar. Kaum marginal itulah. Amalkan ilmu kita untuk itu.

Bahagia Saat Berbagi

“Everybody is looking for penny, but hardly wants to do charitable deeds.” Ya. Jelas sekali pepatah ini. Kalau urusan uang, sepeser pun kita tak mau mundur. Keliru kalau bahagia itu hanya untuk keluarga dan relasi kita. Justru harus dibagikan. Maka motto ini menjadi pegangan teguh kami: “Bahagia Saat Berbagi”. Barulah dengan menjadi abdi sosial kita sadar bukan hanya kita saja yang susah. Sebab manusia adalah keluaran dari khalayak luas. Ia harus tinggal, tumbuh, dan berkarya demi kemashalatan bersama. Tepat sekali pesan dari Paus Fransiskus, “Menjadi bahagia adalah berhenti menjadi korban masalah dan memilih menjadi pelaku dalam sejarah hidup itu sendiri.”

Perjalanan kami selama lebih dari 4 tahun membuat kami bersyukur karena masih diberi kesempatan berbuat kebaikan untuk sesama. Bagi kami, yang paling membahagiakan adalah ketika melihat mereka tersenyum lagi, tertawa lepas setelah berletih-letih melewati segala kesulitan hidup. Oleh karena itu kedepannya kami ingin mencapi 300-400 kota dan kabupaten seantero Indonesia, ke desa-desa terpencil yang belum terjangkau. Dan mimpi kami mungkin lebih dari itu setelahnya. Ayo, gotong royong kita tolong bayi Nusantara. Karena hidup adalah kebahagiaan yang harus kita bagikan.

Juan Karnadi
Teknik Komputer UI
Divisi Digital Tim Inkubator UI / Yayasan Bayi Prematur Indonesia

  • view 407