Hari Valentine

Juanda B Rustam
Karya Juanda B Rustam Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 Februari 2016
Hari Valentine

?Buat apa merayakan hari Valentine? Itukan simbol kematian.?

?Kalau kasih sayang cuma 14 Februari, hari lainnnya tinggal bencinya.?

?Hari Valentine itu budaya barat, Indonesia itu budaya timur. Jangan mau dipengaruhi budaya barat.?

?

Pendapat diatas hanyalah sebagian kecil yang terlontar dari mulut masyarakat Indonesia. Kebebasan berpendapat memang sudah menjadi hak kita sebagai manusia. Tetapi sebagai bangsa Indonesia, apakah kita juga harus sebebas-bebasnya melakukan apa yang kita inginkan? Dan tidak lagi menjaga budaya yang diwariskan oleh leluhur kita? Atau mungkin, rasa malu jika tidak mengikuti tren yang ada?

Sebelum dibahas lebih jauh, mari kita telaah dulu, apakah sebenarnya hari Valentine itu.

Hari Valentine itu adalah pengabadian atas meninggalnya seorang pemuda yang bernama Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 Masehi. Di saat itu, Santo Valentine adalah seorang pahlawan yang teguh mempertahankan keyakinannya. Tidak ada secuil pun hal yang berkaitan dengan cinta.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang di segala penjuru dunia merayakannya dengan mengirimkan pesan cinta, memberi hadiah dan hal lainnya atas nama kasih sayang di tanggal 14 Februari. Begitu juga yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Fenomena ini juga digaungkan oleh sebagian besar brand, media elektronik, media cetak dan media dijital. Pada akhirnya, hari Valentine yang disebut juga hari Kasih Sayang ini sudah membudaya di Indonesia.

Setelah semuanya berjalan, bagaimanakah kita seharusnya?

BERUBAHLAH UNTUK KEBAIKAN.

Janganlah merayakan hari Valentine sebagai sebuah kewajiban. Ketika 14 Februari tiba, kita tidak harus memberikan sesuatu kepada orang yang kita cintai. 1 hari, tidak akan membuat kita cinta untuk selamanya. Butuh waktu, kesabaran, keikhlasan, saling menghargai dan memahami dan hal lainnya yang tiada henti untuk sebuah cinta.

Bunga, perhiasan, coklat, kata-kata cinta dan apapun hanyalah sebuah simbol, tidak lebih dari itu. Jika hal itu adalah pembuktian cinta, maka seumur hidup cinta yang dimiliki hanyalah simbol belaka dan bukan kejujuran perasaan.

Jika seandainya teman, saudara atau siapa saja yang kita kenal ingin merayakan hari Valentine bersama, berpedomanlah pada agama yang kita miliki. Jika tidak sesuai, berikanlah penolakan yang sebaik-baiknya. Janganlah jadikan perbedaan, merusak hubungan yang sudah terjalin baik.

Lain pula, dengan pengalaman saya tentang hari Valentine. Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman satu rumah kos sewaktu kuliah, mendapatkan sebuah bingkisan besar yang berisi makanan dan minuman lezat. Bingkisan tersebut diberikan oleh seorang teman kuliah perempuan kami, dia memang anak orang kaya. Dia memberikan bingkisan itu karena hari Valentine. Dan, dia menganggap kami adalah sahabatnya begitu juga sebaliknya dengan kami.

Saya dan teman-teman sangat kagum dengan kemurahan hatinya untuk memberi. Masalahnya adalah: niat memberi yang benar dengan alasan yang salah. HARI VALENTINE, itulah alasan dia memberikan kami bingkisan. Kami menerima bingkisan itu untuk tidak menyinggung perasaannya.

Lalu, saya dan teman-teman sepakat kalau bingkisan itu diberikan kepada yang membutuhkan. Kami pun membagi-bagikannya ke beberapa anak jalanan, dan mereka senang menerimanya.

Anak-anak dan para remaja adalah generasi berikutnya bagi bangsa Indonesia. Bagi para orang tua dan guru, berusahalah sebaik dan sedini mungkin, untuk menjelaskan kepada mereka tentang hari Valentine. Jangan memberikan pemahaman yang salah.

Tiada gunanya memperdebatkan hari Valentine tanpa mendapatkan solusi yang tepat. Jika memang dengan alasan kasih sayang, bukankah setiap hari yang kita lakukan karena kasih sayang terhadap seseorang?

  • view 169