SEMUA KARENA MARCHING BAND

Januari Pratama Nurratri
Karya Januari Pratama Nurratri Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Oktober 2017
SEMUA KARENA MARCHING BAND

Dulu sewaktu masih menjadi anggota dan diberi macam-macam amanah di unit, rasanya pengen cepet-cepet lulus supaya bisa bebas. Dulu rasanya tidur siang dan kongkow bareng teman-teman merupakan sesuatu yang mewah yang tidak bisa dilakukan setiap hari. Dulu rasanya bosan sekali setiap hari harus latihan dan ketemu teman-teman di unit.

Ketika menjadi anggota, rasanya sedih sekali mau ikut kejuaraan tetapi nggak punya biaya. Meskipun terbiasa makan bareng-bareng lauk gorengan setiap band camp, terbesit di pikiran ingin merasakan proses di band yang kaya raya seperti band-band perusahaan. Sempat jengkel juga waktu tahu para pemain di band-band kaya dibayar saat latihan dan tampil, sedangkan kami malah seringnya membayar untuk kebutuhan pribadi bahkan unit.

Kalau dihitung-hitung, selama kurang lebih 5 tahun mengabdi di unit, banyak sekali hal yang sudah kukorbankan. Waktu dan kebersamaan dengan orang-orang tersayang, IPK dan nilai kuliah, materi, serta tentu saja jam tidur siang hehehe. Belum lagi menghitung penderitaan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama bergabung dalam marching band kampus. Dihukum berkali-kali karena terlambat latihan, pulang malam dan belum mengerjakan tugas, dimarahi pelatih, menjadi baby sitter para pemain yang menguras banyak energi, dan masih banyak lagi. Jiwa dan raga akan selalu terfokus pada marching band sejak awal bergabung sampai dengan lulus kuliah (buat yang nggak mengundurkan diri di tengah jalan).

Teman-teman dikampus sering heran, kok kami ini nggak punya capek buat latihan setiap hari sampai malam. Malahan beberapa orang menganggap kami kurang kerjaan. Disaat yang lain sibuk mengerjakan tugas atau belajar, kami serasa nggak ada kerjaan dan sempat latihan sampai larut malam. Aku sih senyum-senyum aja kalau ada yang nyeletuk begitu. Kalau kata orang, for those who understand, no explanation necessary; for those who don’t, no explanation is possible. Percuma aja menjelaskan sama orang yang nggak ngerti atau nggak mau ngerti, bagi mereka, kegiatan kami tidak masuk akal dan buang waktu.

Kami para anggota marching band juga manusia biasa. Secinta-citanya kami dengan kegiatan ini, tentu saja kami sering merasa lelah dan jenuh. Berkali-kali berpikiran untuk keluar dari marching band karena berbagai alasan. Jenuh dan baper karena dimarahi pelatih sering menjadi alasan utama untuk berhenti berjuang. Atau ketika tidur siang dan ajakan bermain jauh lebih menggiurkan daripada latihan, disitu aku merasa pengen udahan saja. Rasanya fisik dan mentalku sudah tidak kuat menghadapi makian pelatih atau proses yang padat dan sangat panjang. Buat apa juga aku ikut gedumbrengan setiap hari mengorbankan kuliah dan waktu istirahat tanpa mendapatkan apa-apa.

Tetapi setiap muncul pikiran untuk mengundurkan diri, selalu ada teman-teman yang berhasil meyakinkanku untuk bertahan. Bukan karena apa-apa, tetapi karena aku berjuang bersama mereka sejak belum menjadi siapa-siapa sampai diberi kepercayaan untuk menjadi bagian dari unit. Bahkan sampai diberi kepercayaan untuk menempati posisi puncak didalam struktur organisasi. Rasanya nggak tega begitu saja meninggalkan unit, meninggalkan tempat aku menghabiskan sebagian besar waktuku di kampus. Lagi-lagi aku memutuskan untuk bertahan menyelesaikan masa aktif keanggotaan sampai lulus kuliah.

Ketika purna tugas sebagai pengurus atau manajerial, aku merasa sangat bahagia. Rasanya seperti sudah selesai melaksanakan tugas negara yang sangat berat. Rasanya bebas, tidak lagi terbebani oleh suatu tanggungjawab. Biasanya setelah purna tugas sebagai pemain, manajerial, atau pengurus, aku menghabiskan beberapa hari untuk balas dendam. Aku bisa tidur sepuasnya, jalan-jalan kemanapun, nongkrong ditempat-tempat gaul, temu kangen atau quality time dengan keluarga dan teman-teman, serta banyak hal lain yang kulakukan.

Ada rasa bangga, bahagia, dan puas yang tak ternilai harganya saat kita berhasil menjalankan kewajiban dengan baik. Hal tersebut baru bisa kita rasakan setelah kita melewati fase-fase sulit dimana tidak banyak orang yang mampu bertahan dalam kondisi tersebut. Tanpa kita sadari, sebenarnya justru dalam masa-masa sulit dan kepepet tersebut kita banyak belajar. Seperti kata pepatah, setelah kesulitan selalu ada kemudahan, atau selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa.

 

Ini nih yang bikin nggak bisa move on dari marching band, paket komplit pembelajaran hidup

Aku sendiri baru merasakan banyak manfaat yang kuperoleh dari marching band justru setelah tidak lagi menjadi anggota aktif. Setelah lulus kuliah dan secara otomatis menjadi alumni marching band, aku hura-hura melakukan semua kegiatan yang ingin aku lakukan. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Kurang dari sebulan menganggur, aku yang terbiasa berkegiatan dari pagi sampai malam mulai merasa bosan. Disini aku baru merasakan, ternyata lebih enak capek karena seharian berkegiatan daripada capek karena seharian menganggur hehehe. Aku pun berinisiatif untuk melamar pekerjaan di berbagai instansi.

Ketika teman-temanku sesame lulusan sarjana mematok untuk bekerja di perusahaan yang bonafit, aku tidak gengsi untuk memulai karir benar-benar dari nol dengan menjadi pengajar di sebuah bimbel. Toh waktu di marching band dulu aku juga memulai dari nol sebelum menjadi ketua, pikirku. Di bimbel tersebut, aku sering mengeluarkan ide-ide kreatif sebagai metode belajar para siswa yang kemudian diikuti beberapa pengajar disana. Aku sadar bahwa proses menjadi kreatif ini kudapatkan ketika belajar di marching band. Keterbatasan dana seringkali memaksa kami untuk melakukan sesuatu yang kreatif dan inovatif. Hal tersebut secara tidak langsung kuterapkan dalam pengalaman pertamaku bekerja.

Aku sempat menjadi admin gudang di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang telekomunikasi sebelum diterima bekerja di salah satu dinas di kota Jogja. Saat bekerja di dinas inilah aku merasa banyak menerapkan ilmu-ilmu yang kuperoleh di marching band untuk mendukung kinerjaku. Di  dinas tempatku bekerja, setiap pagi kami diwajibkan untuk mengikuti apel pagi. Teman-temanku banyak yang tidak terbiasa dengan adanya apel pagi karena rata-rata terakhir mereka mengikuti upacara saat SMA. Aku bersyukur karena diajarkan tata cara apel sewaktu di marching band. Aku pun tidak canggung mengikuti apel dengan khidmat, dan selalu datang tepat waktu karena sudah dibiasakan selama bertahun-tahun. Selain itu, meskipun aku adalah pegawai yang paling muda, tetapi aku tidak pernah mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan cepat dan bergaul di lingkungan kantor. Hal tersebut terjadi karena aku sudah terbiasa bergaul dengan ratusan orang dengan berbagai karakter dan latar belakang sewaktu ada di marching band.

Contoh lain adalah menghadapi supervisor yang perfeksionis. Atasanku dikantor adalah ibu-ibu yang perfeksionis serta terkenal pedas omongannya. Beberapa temanku tidak tahan dengan sistem kerja dan kata-kata atasanku karena terlalu menyakitkan hati. Padahal aku merasa biasa-biasa saja dan tidak pernah takut menghadapi atasanku. Dimarahin pelatih jauh lebih menyeramkan daripada dimarahi atasanku itu. Banyak lagi hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari saat belajar di organisasi, dan akhirnya bermanfaat di kehidupan dimasa depan.

Selain bekerja di dinas, aku pernah beberapa kali mengisi latihan dasar atau seminar kepemimpinan di beberapa tempat. Materi organisasi yang kubawakan biasanya adalah hasil renungan tentang pengalamanku di dunia marching band. Pengalaman menjadi danlat (komandan latihan) membuatku tidak canggung lagi untuk berbicara didepan umum. Aku juga nggak pernah malu-malu untuk mengemukakan pendapat kepada orang lain.

Aku bersyukur bahwa dulu nggak jadi mengundurkan diri dari marching band. Nggak kebayang betapa menyesalnya aku karena aku justru lebih banyak belajar dari marching band. Bekal kemampuan sekecil apapun akan terasa berguna di masa depan. Bekal kemampuan hasil dari praktek selama berorganisasi di kampus yang tidak bisa didapatkan di bangku kuliah. Buat kamu yang masih sekolah atau kuliah, mumpung masih ada waktu carilah kegiatan yang bisa mengembangkan kemampuanmu sekaligus membekali dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena Cuma jadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang).

  • view 299