DIA (YANG DULU PERNAH SEDEMIKIAN RUPA KUSAKITI)

Januari Pratama Nurratri
Karya Januari Pratama Nurratri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juli 2016
DIA (YANG DULU PERNAH SEDEMIKIAN RUPA KUSAKITI)

Jogja, 11 Juli 2016

Telak. Aku percaya bahwa siapa yang menanam akan mengetam. Semua bermula ketika aku masih duduk di bangku SMA.

Tahun 2010.

Saat itu aku adalah seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Pelajar Jogjakarta. Aku termasuk murid yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan. Sekolah kami sedang membuka pendaftaran calon siswa baru. Itu artinya, serangkaian tradisi kegiatan MOP-ODT-Kemah akan segera dilaksanakan. Aku terdaftar sebagai salah satu panitia di ketiga acara tersebut.

Selama mempersiapkan acara-acara tersebut, kami sering mengadakan rapat, diskusi, dan simulasi-simulasi ringan sebelum hari H. Tak jarang kami terpaksa harus membolos jam pelajaran atau pulang sampai larut petang demi matangnya persiapan penyambutan terhadap siswa baru. Sejak saat itulah aku mulai mengenal sosoknya.

Dalam ketiga acara besar tersebut, aku selalu melihat namanya terdaftar sebagai sie. Properti atau perlengkapan. Dia humoris, namun tak banyak bicara. Tak tampak menonjol atau dominan, namun aku tahu semua orang segan padanya. Dia selalu cekatan dalam bekerja. Ibnu Thufail namanya.

Aku sendiri hampir tidak pernah berinteraksi langsung dengannya. Kami beda jurusan sehingga tidak terlalu saling mengenal satu sama lain pada awalnya. Tapi, entah siapa yang memulai, kami pun berteman dan berinteraksi seperti kawan-kawanku.

Aku masih ingat, kala itu kelasku ada di lantai 2 tepat diatas halaman utama sekolah. Setelah menaruh tas di bangku pagi-pagi, kebiasaanku adalah mengintai siapa saja yang sudah datang ke sekolah dari balkon depan kelas. Ketika dia datang, aku selalu berteriak dari atas, “Srontooot!”, menyapanya yang kemudian hanya dibalas dengan senyum sederhana. Tidak ada yang aneh dari hubungan kami berdua. Kami pun merasa demikian.

Lagi-lagi entah siapa yang memulai, kami menjadi sering berbalas pesan satu sama lain. Aku pun tak ingat apa saja yang kami obrolkan sampai betah berbalas sms berhari-hari. Tidak pula aku ingat kapan kami memutuskan untuk jadian dan siapa yang menyatakan perasaan duluan. Singkatnya, akhirnya aku dan Thufail pun berpacaran.

Tak banyak teman-teman yang tahu hubungan kami. Tidak juga dengan sengaja merahasiakan, hanya kami merasa tidak perlu memamerkan hubungan semacam itu. Berbalas pesan masih menjadi media komunikasi paling efektif bagi kami. Dalam setiap pertemuan di organisasi atau kepanitiaan, kami justru menghindari interaksi secara langsung karena malu.

Suatu ketika ada agenda pelantikan anggota pleton inti sekolah kami. Seperti biasa dia ditunjuk sebagai sie property, sedangkan aku membantu di sie PPPK. Malam hari saat istirahat, panitia yang tidak memiliki ruang khusus berebut mencari posisi nyaman untuk tidur. Aku dan rekan-rekan PPPK tentu tidak perlu repot-repot karena basecamp kami ada di UKS yang cukup nyaman. Sebagian panitia pun mengungsi ke UKS, termasuk dia. Dengan santai dia mengambil posisi tepat di bawahku (di lantai) dan tertidur disitu. Aku yang sudah nyaman tiduran di sebuah bangku justru salah tingkah dan tidak bisa tidur nyenyak. Ah, waktu itu bahagia kami sederhana.

Lain waktu ketika sekolah kami mengadakan olimpiade MIPA untuk pelajar SMP, kami berdua turut terlibat dalam kepanitiaan di dalamnya. Kala itu aku menjadi pembaca soal putaran final. Saat akan mengambil kumpulan soal, aku berpapasan di tangga dengan dia yang sibuk membawa LCD ke lantai atas untuk persiapan final. Tak sepatah kata terucap. Wajah kami sama-sama bersemu merah. Kami pun berlalu dengan cepat sambil senyum-senyum sendiri karena malu bercampur bahagia.

Ada banyak momen dimana kami saling tersipu malu karena ketahuan bertemu tatap. Juga momen dimana kami saling jaim karena nggak ingin terlihat konyol didepan satu sama lain. kami jarang bertengkar serius, bahkan hampir tidak pernah.

Beberapa bulan usia hubungan kami, pada akhirnya kami memutuskan untuk bertemu diam-diam setiap pulang sekolah. Selasar kelas XI IPA 1 menjadi basecamp tetap untuk bertemu, karena tempat tersebut selalu sepi dari jangkauan orang-orang. Awalnya selalu malu-malu dan bingung mau mulai ngobrol dari mana, tetapi selalu berakhir dengan nggak mau pisah. Betul memang lirik lagu jaman dahulu,

Resah dan gelisah menunggu disini

Di sudut sekolah, tempat yang kau janjikan

Ingin jumpa denganmu, walau mencuri waktu

Berdusta pada guru

Saat malam menjelang dan masing-masing dari kami selesai mengerjakan PR, kami selalu SMS-an sampai mengantuk. Dia sering sekali minta dikirimi kata-kata indah. Buat obat kangen, katanya. Sampai pagi hari sebelum pelajaran dimulai, kami masih saja SMS-an bercerita tentang banyak hal. Kelas kami yang berhadap-hadapan sering membuat kami saling mencuri pandang dan tersipu malu kalau ketahuan.

Cerita indah itu terus berlanjut, sampai ketika libur kenaikan kelas, aku diajak Ibu membantu kepanitiaan jamboree nasional hisbul wathan di Kaliurang. Lumayan lah daripada nganggur, pikirku. Aku sangat menikmati acara yang berlangsung seminggu penuh itu. Aku mendapat banyak teman baru dari pesantren. Mereka seru-seru. Dan keseruan bersama mereka yang perlahan membuat hubunganku dan Zusron berjarak.

Saat itu aku masih SMA. Belum tau akan dibawa kemana hubungan spesial laki-laki dan perempuan berakhir. Atas nama punya teman baru dan jenuh dengan hubungan yang terkesan monoton, intensitasku dengan dia semakin berkurang. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya besar bagi dia. Nggak ada angin nggak ada hujan, nggak tahu salah dimana, kok tiba-tiba dijauhi. Sampai suatu hari aku nggak lagi pernah membalas pesan-pesannya, nggak juga menjawab ratusan panggilannya via telepon.

Merasa diabaikan, dia nekat menungguku untuk menerima penjelasan langsung. Sejak bel pulang sekolah berbunyi, dia dengan sabar menungguku di pos satpam karena tahu aku pasti akan pulang lewat situ. Sampai sore hari aku nggak berani pulang. Baru akhirnya menjelang adzan maghrib aku pulang ditemani kawanku. Dia meraih lengan dan menahanku. Aku acuh dan lurus saja hendak mengambil motor di parkiran. Aku tak peduli dengan sorot matanya yang penuh luka dan amarah. Tak kuduga, dia nekat mencegat motorku. Lama aku tertahan disana tanpa berani menjelaskan sepatah kata pun. Aku pun berhasil pulang (waktu itu) tanpa merasa bersalah.

Itulah kali terakhir aku melakukan kontak dengannya. Dia yang sejak awal kulihat keseriusannya menjalani hubungan. Dia yang tak pernah menuntut apa-apa dariku. Dia yang selalu mendukung setiap keputusanku. Sampai dengan aku mengakhiri hubungan tanpa kejelasan  ini, dia terpaksa harus menerima keputusan sepihak.

Lama setelah itu kami pun menjalani kehidupan kuliah masing-masing. Sibuk dengan dunia baru serta kawan-kawan baru. Aku berhasil diterima di salah satu PTS terkemuka di Jogja, mengambil jurusan Hubungan Internasional setelah sebelumnya hampir mogok kuliah karena sesuatu. Dia, kudengar kabar dari teman-temannya diterima di jurusan Biologi UGM lewat  jalur undangan.

Tahun demi tahun berlalu. Hampir setiap tahun angkatan kami mengadakan buka bersama. Dan hampir setiap tahun pula aku dilingkupi perasaan bersalah ketika berjumpa kembali dengannya. Hingga akhirnya selalu kuberanikan diri membuka obrolan meskipun lewat pesan-pesan singkat. Dia (yang dulu pernah sedemikian rupa kusakiti) masih saja membalas pesan dengan cara yang sama, sopan dan menyenangkan.

Tahun 2016.

Salah satu rekan kerjaku di OSIS saat SMA memposting foto groufie di salah satu media sosial. Captionnya “masnya yang pegang kamera mau lanjut kuliah di Belanda dan lagi cari calon istri”. Deg! Aku kenal betul siapa yang pegang kamera dalam foto itu, dia (yang dulu pernah sedemikian rupa kusakiti).

Hatiku tiba-tiba sakit. Perasaanku diliputi rasa bersalah yang luar biasa. Teringat betapa aku dulu menyia-nyiakan seseorang yang luar biasa. Aku buka satu demi satu akun sosial media miliknya. Baru kuketahui bahwa sebelum lulus kuliah, dia menjabat sebagai seorang ketua suatu organisasi bergengsi di jurusannya. Selain itu dia merupakan mahasiswa berprestasi di jurusannya yang aktif mengikuti berbagai kegiatan lingkungan. Dia sering bepergian ke luar pulau, bahkan ke luar negeri untuk urusan kegiatannya. Kabar terbarunya adalah dia (yang dulu pernah sedemikian rupa kusakiti) memperoleh beasiswa lpdp jalur afirmasi untuk melanjutkan pendidikan di Belanda.

Kurenungkan semuanya. Kuuraikan satu per satu. Allah pasti telah menjawab doa di setiap sujud panjangnya. Allah memberikan kado yang indah atas kesederhanaannya selama ini. Kutahu mimpinya sederhana, menjadi pionir sarjana bagi keluarganya. Tapi Allah Maha Baik Hati memberikan jauuuh lebih banyak dari yang ia minta.

Aku malu dengannya. Aku malu dengan diriku sendiri. Aku lulus dengan predikat cumlaude setahun lebih dulu, tetapi belum banyak yang bisa kuperbuat setelah itu. Sedangkan dia, Allah memudahkan jalannya menggapai cita-cita.

Tidak. Aku sama sekali tidak iri dengannya. Aku pun turut berbahagia. Hanya saja aku merasa tertampar. Dia (yang dulu pernah sedemikian rupa kusakiti) membuktikan bahwa dirinya bukan sosok biasa. Kesederhanaannya menjadikan dirinya pribadi yang tidak sederhana. Sampai saat ini sungguh aku merasa bersalah atas apa yang pernah kuperbuat. Allahu robbi, apa yang harus kulakukan?

Sekali lagi kuberanikan diri mengirim sebuah pesan. Mumpung masih di bulan Syawal, aku mengucapkan selamat idul fitri dan meminta maaf kepadanya. Jawabannya sungguh diluar dugaan, “insya Allah diantara kita nggak pernah ada masalah”. Ya Rabb, muliakanlah hamba-Mu yang satu itu. Pesanku itu berlanjut dengan basa-basi singkat tentang kehidupan masing-masing. Luar biasanya lagi, dia dengan senang hati mengirimkan essay yang membuatnya lolos beasiswa kepadaku. Buat referensi, katanya. Tak pernah ada dendam di hatinya. Aku yakin luka itu tidak mudah ia sembuhkan. Namun aku selalu mengagumi caranya mengikhlaskan, caranya menyikapi sesuatu dengan sederhana. Sesederhana sikapnya.

Seberapa banyak pun aku meminta maaf, rasanya perasaan bersalah tidak akan pergi dari diriku. Lewat ini, kutitipkan sebaris doa kepada Tuhanku. Ya rabbi, mudahkanlah jalannya, lancarkanlah rizkinya, dekatkanlah jodohnya, muliakanlah ia, jagalah pribadinya, dan selamatkanlah ia di dunia maupun di akhirat. Amiiin.

 

                                                                                                                                                Tertanda,

 

 

                                                                                                Aku (yang dulu pernah menyakitimu sedemikian rupa)

  • view 210