YOGYAKARTA, GUDANGNYA MARCHING BAND UNIVERSITAS

Januari Pratama Nurratri
Karya Januari Pratama Nurratri Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 11 Juli 2016
YOGYAKARTA, GUDANGNYA MARCHING BAND UNIVERSITAS

Kota Yogyakarta sejak jaman dahulu dikenal sebagai Kota Pelajar. Berbondong-bondong orang dari berbagai penjuru tempat menuntut ilmu di Kota Gudeg ini. Tak heran, banyak cendekia-cendekia yang lahir dari berbagai kampus terkenal di Yogyakarta. Demi mempertahankan julukan Kota Pelajar, banyak sekali kampus-kampus maupun sekolah tinggi yang kemudian bermunculan di kota ini. Semua institusi pendidikan berlomba-lomba meningkatkan kualitas, mengukir prestasi, dan menghasilkan output-output yang bermanfaat di dunia luar. Berbagai komunitas mahasiswa, forum-forum kecil, kegiatan kemahasiswaan yang bersifat akademis dan non akademis pun banyak dibentuk untuk mengembangkan potensi serta member wadah bagi  minat bakat mahasiswa, tak terkecuali marching band.

Aktivitas marching band di Kota Pelajar ini memberikan warna tersendiri bagi para peminatnya. Sampai saat ini tercatat ada 7 unit marching band yang ada di Yogyakarta. Hebatnya, semua unit marching band tersebut adalah unit-unit marching band universitas. Pemerintah Yogyakarta memang tidak memiliki unit marching band, begitu pula dengan perusahaan-perusahaan serta sekolah-sekolah yang ada di Yogyakarta. Unit kegiatan di sekolah-sekolah di Yogyakarta rata-rata berbentuk drum band yang menjamur di tingkat TK dan SD. Keberadaan 7 unit marching band kampus tersebut menjadikan Yogyakarta terasa semakin Istimewa.

Seperti yang telah saya sampaikan di tulisan sebelumnya tentang karakteristik berbagai unit marching band, memiliki 7 marching band di kota yang tidak terlalu besar merupakan hal yang tidak mudah. Ketujuh band kampus tersebut seringkali mengikuti kejuaraan yang sama. Sekali lagi, semua proses persiapan menuju kejuaraan dilakukan sendiri oleh teman-teman mahasiswa yang merangkap sebagai anggota marching band. Bisa dibayangkan sulitnya mencari sponsorship di kota yang tidak memiliki banyak perusahaan untuk 7 kegiatan yang sama. Terlebih nominal yang dibutuhkan tidak sedikit, paling tidak di kisaran 50 juta keatas. Jadilah setiap musim pre-competition manajerial band-band kampus tersebut bergerilya dan berlomba-lomba mendapatkan donasi dan sponsor. Siapa cepat, dia dapat.

Hampir semua band di Yogyakarta menghadapi permasalahan yang serupa mulai dari kekurangan SDM, keterbatasan dana, sampai dengan kondisi peralatan yang belum lengkap. Oleh karena itu, merupakan peraturan tidak tertulis yang berlaku diantara band-band kampus tersebut untuk selalu saling membantu satu sama lain. Berangkat dari penderitaan yang sama tersebut, muncul beberapa kebiasaan unik yang terjadi diantara band-band universitas tersebut. Ketika sama-sama melakukan persiapan kejuaraa dengan jadwal yang super padat, bidang perlengkapan di pengurus atau manajerial band tersebut selalu mencari celah untuk memenuhi kebutuhan peralatan mereka. Seringkali ketujuh unit tersebut saling memberitahukan jadwal latihan satu sama lain, sehingga apabila ada jadwal latihan yang berbeda dari salah satu band mendapat dijadikan celah untuk meminjam sementara peralatan yang sedang tidak digunakan. Di hari lain, secara bergantian peminjaman alat tersebut secara bergiliran dilakukan demi memenuhi kekurangan alat di unit masing-masing. Tak jarang ketika alat yang dipinjam tidak boleh dibawa ke unit peminjam, mereka terpaksa membawa pemainnya untuk berlatih di unit band tersebut demi dapat berlatih menggunakan alat yang sesuai.

Selain peralatan, pinjam-meminjam SDM atau anggota juga tak jarang dilakukan oleh band-band kampus tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa band kampus pasti mengalami kesulitan dalam mencari dan mempertahanan pemainnya. Hal tersebut disebabkan karena tekanan yang luar biasa ketika menghadapi kejuaraan, kesulitan membagi waktu dengan kegiatan lain, lebih suka nongkrong atau bermain dengan teman-temannya, atau alasan-alasan yang lainnya. Untuk mensiasati kekurangan komposisi pemain, terkadang pengurus unit melakukan audiensi peminjaman SDM atau pemain ke unit lain selama masa kejuaraan. Suatu saat ketika unit tersebut membutuhkan tambahan pemain, unit yang pernah meminjam tersebut membalas budi dengan bergantian meminjamkan pemainnya. Kebiasaan tersebut justru mempererat tali persaudaraan diantara unit-unit yang berjuang dalam keterbatasan tersebut, didasari oleh perasaan senasib sepenanggungan.

Meskipun persaudaraan diantara unit-unit universitas tersebut sangat kuat, pada saat kejuaraan mereka tetaplah rival satu sama lain yang berlomba untuk menjadi yang terbaik.pinjam meminjam alat dan SDM atau saling membantu selama proses tidak lantas membuat band-band tersebut saling mengalah di lapangan. Masing-masing berusaha keras menunjukkan yang terbaik dalam 12 menit penampilannya. Namun demikian, ada satu tradisi unik dari band-band Jogja ketika usai mengikuti kejuaraan. Seusai pertandingan, seluruh unit marching band yang mengikuti kejuaraan tersebut berkumpul di salah satu sudut tribun untuk bersama-sama mendengarkan pengumuman kejuaraan. Ketika salah satu band Jogja berhasil memperoleh juara di salah satu nomor kejuaraan, seluruh band Jogja akan  turut riuh bersorak, tak peduli unit mereka atau bukan, mereka sama-sama membawa nama baik Yogyakarta. Mereka membakar gedung Istora Senayan dengan teriakan yang membahana. Sungguh, rasa haru dan merinding selalu menyelimuti para anggota marching band kampus Yogyakarta tatkala melakukan ritual tersebut. Alhamdulillah, peringkat unit-unit marching band Yogyakarta selalu dapat dibanggakan dan diperhitungkan oleh rival-rival lainnya. YOGYAKARTA! Prok prok prok prok prok.

Kebersamaan unit marching band universitas di Yogyakarta yang telah terjalin selama bertahun-tahun kemudian mencetuskan sebuah ide untuk membentuk suatu komunitas besar. Muncullah nama “Keluarga Besar Marching Band Yogyakarta” atau KMBMY untuk mewadahi silaturahmi diantara mereka. Seiring berjalannya waktu, sejak 2008 komunitas tersebut memiliki agenda rutin berjudul “Jogja Marching Day”. Acara yang kerap disingkat JMD tersebut merupakan sebuah latihan gabungan seluruh marching band Yogyakarta yang berakhir dengan penampilan materi latihan tersebut. Acara ini selain diikuti oleh marching band di Yogyakarta juga diikuti oleh beberapa unit marching band tetangga seperti dari Bandung, Solo, Purwokerto, bahkan Lombok. JMD diikuti oleh lebih dari 1000 partisipan setiap tahunnya yang terdiri dari peserta, panitia, pemateri, pengisi acara, dan penonton. Tuan rumah acara ini secara bergiliran adalah unit-unit marching band di Yogyakarta. Acara tersebut menjadi ajang anggota marching band untuk memperluas pergaulannya, menambah wawasan, bahkan mencari jodoh.

Selain Jogja Marching Day, KBMBY sejak tahun 2013 juga melaksanakan Jogja Marching Concert, sebuah konser pagelaran yang diikuti seluruh unit marching band di Yogyakarta sebagai konser pamit sebelum menuju kejuaraan. Kepanitiaan Jogja Marching Concert dilakukan oleh masing-masing perwakilan dari tujuh unit kampus di Jogja. Jogja Marching Concert atau yang biasa disingkat JMC ini sering juga disebut sebagai mini GPMB (kejuaraan nasional marching band), karena sering digunakan sebagai ajang uji coba kekuatan mental tim serta mengukur kekuatan sementara sebelum berangkat kejuaraan. Masing-masing tim yang akan berangkat kejuaraan menampilkan pertunjukan yang akan mereka bawa untuk bertanding. Sampai saat ini, animo masyarakat, terutama penggemar marching band terhadap acara ini sangat besar. Hal tersebut dilihat dari tiket acara yang selalu sold out saat pre order.

Keberadaan marching band universitas di Yogyakarta membuktikan bahwa kompetisi dapat berjalan secara sehat dan fair, bahkan saling membantu satu sama lain. Saat ini, banyak unit marching band lain dari luar kota, terutama arching band universitas yang sering bertandang mengunjungi band-band kampus di Yogyakarta sekedar melihat-lihat proses latihan dan mengobrol mengenai perkembangan dunia marching band.  Adanya Keluarga Besar Marching Band Yogyakarta atau KBMBY juga semoga dapat memotivasi unit-unit marching band yang ada didaerah lain agar dapat menjalin persaudaraan dengan sesama anggota marching band lainnya. Saya pribadi bahkan mempunyai cita-cita untuk membentuk komunitas marching band kampus se-Indonesia. Hehehe

  • view 430