Mudik Asik 2016

Januari Pratama Nurratri
Karya Januari Pratama Nurratri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Juli 2016
Mudik Asik 2016

Mudik lebaran memang sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Nggak peduli seberapa jauh, nggak peduli berapa mahal ongkosnya, menjelang lebaran pasti sebagian besar menjalankan tradisi tersebut. Fakta menunjukkan bahwa mudik lebaran merupakan salah satu migrasi terbesar di dunia. Semua orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman demi merayakan lebaran dan melepas rindu dengan keluarga tercinta.

Karena itu, mudik selalu punya cerita yang mengesankan dihati.

Aku masih ingat jelas bagaimana kedua orangtuaku selalu mengupayakan mudik agar bisa berlebaran dirumah orang tua ayahku sejak kecil. Waktu itu kendaraan umum menjadi satu-satunya pilihan untuk mudik karena kami masih kecil. Perjalanan Jogja-Karanganyar selalu menyenangkan karena ibu pandai membawa suasana. Panas, macet, dan lelah karena harus berpindah dari satu bus ke bus lain menjadi tidak terasa. Tempat tinggal kakekku memang berada di daerah pelosok. Untuk mencapainya saja kami perlu 3 kali berganti bus dari Jogja, kemudian disambung dengan ojek sampai ke depan rumah.

Setelah aku dan adikku duduk di bangku SD, ayah mengajak kami mencoba pengalaman lainnya. Tahun demi tahun kami tidak lagi mudik menggunakan bus, melainkan naik motor. Selain lebih irit ongkos, ternyata lebih cepet sampe juga hihi. Kami sama sekali nggak keberatan naik motor bonceng empat plus bawa tas gunung gede untuk bekal selama mudik. Jalanan menuju kampung halaman ayah nggak pernah membosankan, sepanjang jalan kanan-kiri dipadati sawah-sawah hijau atau deretan hutan karet. Seruuu :)) Waktu itu kami nggak berpikir tentang bahaya berboncengan lebih dari 2 orang, toh kami semua pake helm, sarung pangan, kaos kaki, dan sleyer untuk melindungi diri. Sama seperti kebanyakan orang, kami cuma pengen cepet-cepet sampe kampung supaya bisa berkumpul dan bermain dengan saudara-saudara.

Agak besar sedikit, kami berdua sudah SMP, ayah nggak mau lagi bawa satu motor untuk mudik. Alhamdulillah waktu itu ada rejeki untuk beli motor satu lagi sehingga kami pulang kampung pakai 2 motor. Alhamdulillah grand astrea tua kami masih sanggup diajak naik-turun gunung. Baru ketika ayah ada rejeki lebih dan bisa beli motor lagi, astrea kami dipensiunkan. Perjalanan pulang nggak pernah dipaksakan. Ketika lelah dijalan dan tiba waktu sholat atau makan, ayah dan ibu selalu berhenti untuk beristirahat.

Sejak kakek dan nenek dari Ibu meninggal, kami selalu mudik bersama bude yang sudah sebatang kara karena beliau memutuskan untuk tidak menikah. Tahun lalu kami nekat mengajak bude mudik naik motor, hasilnya di perjalanan pulang beliau hampir pingsan karena kepanasan dan kelelahan. Makanya Bapak pengen sekali bisa beli mobil agar kami tidak kerepotan saat mudik. Alhamdulillah Allah nggak habis-habis memberi rejeki kepada ayah saya sehingga tahun ini beliau mampu membeli sebuah mobil. Cita-cita Ayah sederhana, masih bisa tetep mudik bareng-bareng meskipun usia semakin bertambah. Sewaktu membeli mobil beliau berkata, "bismillah, semoga mbarokahi ya, nduk. semoga bisa ngajak ibu sama budemu mudik dengan nyaman". Saya pun mengamini dalam hati. 

Adikku bertugas sebagai sopir sepanjang perjalanan pulang-pergi mudik, karena dia satu-satunya yang bisa nyupir dengan baik dan punya SIM A. Bapak duduk disebelahnya bertindak sebagai navigator. Aku, Ibu, dan Bude duduk manis di belakang dengan setia menyediakan minuman atau cemilan kepada mereka agar tidak ngantuk. Kami berangkat mudik setelah selesai menunaikan sholat Ied di rumah dan menjamu tetangga kanan-kiri yang berkunjung. Perjalanan berangkat dapat dibilang lancar walaupun sempat terjebak macet di daerah Prambanan. Kami sempat mampir kerumah Pakdenya ibu di Solo, meskipun pakai acara nyasar berkali-kali karena ada pengalihan jalan.

Berangkat pukul 11 siang, pukul 5 sore kami sampai. Maklumlah, agak molor dari waktu normal karena macetnya mobil beda sama motor hehe. Sampai kampung halaman kami disambut saudara-saudara. Malam itu juga keluarga besar kami mengadakan pertemuan trah secara informal untuk pertama kalinya. Aku senang bukan main bisa kenal dan ketemu saudara-saudara yang sebelumnya belum kukenal. Beberapa tahun belakangan sejak kakek dan nenek dari ayah dan ibuku meninggal, lebaran sudah nggak berasa seperti lebaran. Meskipun kami tetap merayakan, rasanya berbeda, kesepian selalu melanda. Alhamdulillah lebaran kali ini terasa lebih hidup karena kami dapat berkumpul kembali.

Keesokan harinya, saatnya 'ujung' (berkunjung) kerumah saudara-saudaranya Bapak. Ada sekitar 5-6 rumah yang kami kunjungi seharian penuh, dari ujung utara-timur-selatan-barat. Menjelang ashar, Ibu mengajak kami untuk menikmati sunset di Candi Sukuh. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah kakek, tetapi sampai saat ini kami belum pernah sekalipun berkunjung kesana. Setibanya disana, sayang sekali loketnya sudah tutup dan udaranya berkabut sehingga kami tidak bisa menikmati sunset. Maka kemudian kami memutuskan untuk pulang.

Dijalan pulang, kami memilih rute yang berbeda dari saat berangkat untuk menghindari perbaikan jalan. Ternyata kami malah nyasar karena Bapak lupa jalan :(( Sesaat kami meminggirkan mobil untuk bertanya pada penduduk setempat. Jalanan kebetulan sangat ramai oleh wisatawan dari berbagai penjuru kota. Naasnya, ketika memundurkan mobil untuk melanjutkan perjalanan, terjadi miskomunikasi antara adikku dengan bapak yang memberi aba-aba di belakang mobil. Entah seperti apa kejadiannya, ketika aku menengok ke belakang, aku melihat tubuh Bapak sudah terjepit badan mobil kami dengan mobil pengguna jalan lain. Otomatis kami semua yang ada di dalam mobil panik. Alhamdulillah Bapak nggak luka sedikitpun, hanya perutnya sedikit terdorong mobil. Si empunya mobil lain mempermasalahkan kejadian tersebut dan terbawa emosi sehingga sempat terjadi ribut-ribut di jalan. Adikku pun tersulut emosi. Meskipun aku dan Bapak sudah berkali-kali emminta maaf atas peristiwa yang tidak disengaja itu, tetap saja ketegangan tidak mereda. Penduduk sekitar pun segera melerai kami, dan akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa mempermasalahkan lagi.

Sempat muncul "awkward moment" selama beberapa saat di mobil. Kami sibuk meredakan emosi masing-masing dan menenangkan diri. Masih ada satu tempat saudara untuk dikunjungi sebelum pulang kerumah. Sampai dirumah saudara, kami sudah bisa mengendalikan diri dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi ternyata Bude tidak demikian. Beliau masih syok dengan kejadian tadi sehingga sepanjang sisa perjalanan matanya memerah karena menahan tangis. Beliau juga enggan makan ataupun ngobrol dengan saudara-saudara lainnya. Ketika tiba dirumah pun beliau langsung tidur tanpa babibu.

Syukurlah keesokan harinya Bude sudah mau ngobrol dan makan seperti biasa. Mungkin beliau lelah setelah seharian bepergian, ditambah dengan insiden menegangkan kemarin. Hari itu jadwal kami adalah kembali ke Jogja. Pukul 9 pagi kami sudah siap untuk berangkat. Lagi-lagi ditengah perjalanan kami nyasar sampai masuk ke tengah-tengah hutan karet. Maksud hati hendak mengambil jalan pintas, apa daya salah  belok hehe. Apesnya, jalan yang kami lalui berbatu tinggi-tinggi sehingga tidak memungkinkan bagi kami semua berada didalam mobil. Aku, Ayah, dan Ibu memutuskan untuk keluar dan berjalan sampai bertemu jalan yang halus.

Begitu membuka pintu mobil, serta merta kami diserbu oleh puluhan nyamuk. Nyamuk-nyamuk tersebut tidak menghalangi aku dan ibu yang nekat selfie ditengah hutan meskipun sambil sibuk menghalau hehe. Sampai masuk ke dalam mobil pun nyamuk-nyamuk itu masih setia mengikuti. Jadilah sepanjang sisa perjalan kami semua sibuk mengeluarkan nyamuk dari mobil. "Ini mah mudik bonus piknik ke taman safari, lewat hutan-hutan", celetukku geli. Setelah memastikan tidak ada lagi gangguan, kami pun bisa menikmati perjalanan.

Berhubung hari Jumat dan waktu menunjukkan pukul 11.30, Ayah dan Adikku merapatkan mobil ke sebuah masjid untuk menunaikan ibadah Jumat. Sembari menunggu mereka, kami para wanita nge-tem di sebuah warung soto. Giliran selesai sholat Jumat dan para pria istirahat makan siang, kami bergantian ke masjid untuk melakukan jamak qoshor dzuhur-ashar. Subhanallah, masjidnya berukuran 9x9 meter itu sejuuuknya bukan main karena dilengkapi 4 buah AC dan beberapa kipas angin. Salut untuk pengurus masjid yang berupaya sedemikian rupa menyamankan para jamaahnya.

Usai beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan Solo-Jogja. Jalanan relatif lancar meskipun kami sempat dihentikan beberapa saat di daerah Kandang Menjangan untuk memberi kesempatan rombongan pak Jokowi yang menunaikan sholat Jumat di Solo berlalu.

Ternyata kenaasan mudik kami belum cukup sampai disitu. Didaerah paling macet, di seputaran Prambanan, AC mobil mendadak tidak bisa berfungsi dan justru mengeluarkan hawa panas. Subhanallah kami sibuk kipas sana kipas sini. Emosi pun tidak terkendali karena kondisi jalan yang panas dan macet luar biasa. Tapi kami tidak ambil pusing, masing-masing berusaha menikmati perjalanan meskipun kondisinya sangat tidak nyaman. Serba salah memang, kaca jendela dibuka panasnya langsung menyengat, kalau ditutup, tidak ada sirkulasi udara yang masuk. Alhamdulillah, kami berhasil melalui cobaan demi cobaan dan sampai dirumah dengan selamat.

Meskipun tidak mulus nan lancar, tapi mudik lebaran menjadi lebih berwarna dan berkesan daripada tahun-tahun sebelumnya. Maturnuwun Gusti Allah :))

  • view 256