Guruku, Womenprenuer

Jaya Purnama
Karya Jaya Purnama Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 10 Februari 2016
Guruku, Womenprenuer

Eka yulianti, perempuan yang lahir pada tanggal 18 Januari 1988 di Jakarta ini, merupakan salah satu dari banyak perempuan Indonesia yang mampu menginspirasi. Bukan saja menginspirasi teman-teman seumuran, dia juga banyak menginspirasi anak-anak muda di tempat tinggalnya. Perempuan yang sehari- harinya mengajar di SD Negeri 07 Tanah Tinggi, Senen Jakarta ini adalah sosok perempuan yang tangguh, rajin dan penuh semangat.

Mengajar adalah aktifitas rutin yang ia geluti saat ini, baginya menjadi sesorang guru merupakan sarana pengabdian. Maka tak heran, jika dalam menjalankan rutinitasnya sebagai guru, dia seolah tidak pernah merasa lelah. Karena, atas dasar niatnya yang tulus buih- buih lelah menjadi pemacu semangat untuk terus mengabdi memberikan ilmu bagi anak-anak didiknya.

Doanya kepada anak-anak muridnya adalah kelak mereka (red. Murid-murid sekolah dasar) menjadi anak-anak yang cerdas yang mampu menggenggam dunia, berhasil dalam cita-citanya dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Itulah singkat doa yang selalu mengiringi aktifitasnya.

Merintis usaha

Ditengah kesibukanya sebagai seorang guru, ternyata tidak membuat dia meninggalkan cita-citanya untuk membangun sebuah usaha. Seperti kebanyakan perempuan pada umumnya yang memiliki hobi atau kegemaran, dia juga memiliki hal yang sama. Mungkin ini yang membedakan, hobi atau kegemaran yang ia miliki membawanya untuk mewujudkan cita-citanya dalam membangun usaha. Kegemaran terhadap fashion, menjadi langkah awal dia mendirikan usaha hijab.

Ekaraya Hijab's, begitulah ia memberi nama/nerek pada usaha hijabnya. Hari demi hari, ia menjalankan aktifitas mengajar dan usahanya. Keduanya, ia jalankan dengan penuh semangat, kecerian dan penuh suka cita. Karena kedua aktifitas ini seolah sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, cerita lain mulai hinggap pada roda kehidupannya. Hakikatnya roda kehidupan, ia pun merasakan berada pada putaran paling bawah. Usaha yang ia geluti, mulai mendapat batu sandungan. Ternyata, Tuhan berkata lain, mungkin berkat doa dari orang-orang yang menyayanginya. Putaran roda kehidupannya kembali berputar cepat. Dan kini, ia kembali berada pada putaran paling atas.

lagi- lagi karena kerendahan hatinya, puncak kesuksesan yang ia raih tidak membuat ia menjadi sombong dan cepat berpuas diri. Dan sebagai bentuk syukur-NYA, ia selalu menyisihkan sedikit rezekinya yang nantinya dipergunakan untuk membantu murid- murid yang kurang beruntung di tempat ia mengajar. Terkadang ia gunakan untuk membeli hadiah bagi murid-muridnya sebagai motivasi untuk lebih giat lagi.

  • view 191