Kondisi Jalan Raya Mencerminkan Pengelola Kotanya

JoJo -
Karya JoJo - Kategori Psikologi
dipublikasikan 09 Februari 2016
Kondisi Jalan Raya Mencerminkan Pengelola Kotanya

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya sibuk menemani seorang sahabat yg sudah lama tak berada di Indonesia. Sepanjang 16 tahun terakhir ini ia hidup di San Fransisco, California. Yang menonjol darinya selama saya temani adalah kesukaannya berjalan kaki. Ini berbeda dengan orang Jakarta yg sering memilih menggunakan kendaraan padahal untuk jarak yg hanya 15 menit (apalagi lebih) berjalan kaki.

Manjakah penduduk Jakarta? Mungkin juga. Namun apa yg dikeluhkan sahabat ini saat berjalan kaki di Jakarta cukup masuk akal dan menjelaskan mengapa orang Jakarta menyukai menggunakan kendaraan daripada berjalan kaki. Pejalan kaki di Jakarta sulit merasa menjadi manusia, karena misalnya trotoir dipenuhi, jika tidak berlubang, oleh pedagang kaki-lima yg merasa tak punya pilihan untuk mencari makan. Lalu ketika berjalan di badan jalan, maka kendaraan bermotor, terutama roda dua akan mudah menyeruduk kita begitu saja. Saat kita ingin menyeberang jalan, kendaraan bermotor sering merasa lebih berhak untuk menggunakan jalan dibanding pejalan kaki. Trotoir di daerah elit sekalipun, seperti Menteng, bisa dalam kondisi yg memprihatinkan karena tidak dibuat dengan pengawasan yg ketat, alias amburadul.

Jakarta memang sudah mendapatkan gubernur baru, Jokowi-Ahok, yg menurut banyak orang sudah melakukan yg lebih baik daripada banyak gubernur sebelumnya sepanjang puluhan tahun terakhir. Namun menurut sahabat saya ini, satu tahun lebih pemerintahan Jokowi-Ahok tentu belum bisa menunjukkan hasil yg nyata.

Jalan raya kota besar, apalagi jalan raya ibukota sebuah negeri seharusnya menjadi potret tentang kinerja pemerintahnya. Korupsi di negeri ini, sebagaimana yang katanya sedang diberantas, selalu nampak jejaknya di jalan raya, misalnya dalam bentuk kondisi permukaan jalan atau kondisi rambu-rambu atau lampu lalu-lintas. Begitu juga kemacetan dan amburadulnya lalu-lintas di Jakarta menggambarkan bagaimana pemerintah yg belum bekerja maksimal untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, misalnya kebutuhan pada tranportasi umum yang layak. Gubernur Jakarta sebelumnya, Fauzi Bowo, bahkan pernah menuding pengguna sepeda motor sebagai penyebab kemacetan lalu-lintas di Jakarta. Fauzi bahkan menyebut pertumbuhan pengguna sepeda motor dengan sebutan yang kasar, yaitu ?seperti kucing beranak? Padahal, seharusnya gubernur ini bertanya, mengapa orang ramai-ramai menggunakan sepeda motor, bukan menggunakan transportasi umum.

Berjuta-juta pengguna sepeda motor lainnya di Jakarta memilih menggunakan sepeda motor karena amat terpaksa. Mengendarai sepeda motor pada jam-jam macet bukan kegiatan yang nyaman atau membanggakan. Karena resikonya besar untuk mengalami berbagai kecelakaan dan sakit karena terkena polusi langsung di jalanan. Namun berjuta-juta orang lainnya memilih menggunakan sepeda motor karena sistem transportasi umum yang tersedia adalah relatif mahal dan terutama tidak layak karena tidak menjadi prioritas bagi pemerintah.

Memilih transportasi umum di Jakarta adalah sebuah pilihan yang tragis, karena kendaraan umum harus terseok-seok menembus lautan motor dan kendaraan pribadi roda empat yang hanya diisi oleh satu orang. Paling tidak memerlukan waktu satu jam untuk bisa mencapai tempat yang kita inginkan. Bayangkan berapa energi yang dikuras dan bagaimana kesehatan dihancurkan setiap pagi? Itu belum menghitung rasa kemanusiaan yang lumat diinjak-injak, karena terpaksa melihat orang-orang dan kita sendiri saling sikat dan hantam di dalam kendaraan umum dan di jalan raya. Tentu kondisi ini bisa membuat produktivitas menjadi berkurang ketika sudah sampai di tempat bekerja atau tempat beraktivitas utama. Demikian juga pada sore hari, perjalanan tragis akan terulang kembali. Kondisi sore hari bahkan bisa lebih parah dari pagi hari.

Kondisi ini tentu membuat kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup menjadi lebih sedikit, misalnya untuk menambah pengetahuan atau skill lain yang mungkin dibutuhkan di tempat bekerja. Atau untuk memiliki kegiatan lain yang bisa memperbaiki kualitas hidup kita setelah bekerja, misalnya berolahraga, kegiatan relaksasi lain atau berorganisasi di lingkungan rumah. Memilih untuk menggunakan sepeda motor adalah pilihan untuk menghemat ratusan ribu rupiah setiap bulannya dan sekaligus juga bisa menghemat waktu. Meski ada resiko mengalami kecelakaan yang lebih besar dan kerusakan paru-paru dan mata karena polusi, namun itu bisa dikurangi dengan berbagai peralatan keselamatan.

Lautan sepeda motor di jalan raya yang amburadul ini tentu akan otomatis hilang jika transportasi umum tersedia secara baik. Itu yg sekarang sedang dikerjakan oleh Jokowi-Ahok, namun sayangnya masih mendapat hambatan dari DPRD sendiri yg belum menyetujui penggunaan anggaran yg tersedia untuk membeli 4000 bis lagi.

Di bawah ini adalah beberapa catatan saya tentang kondisi jalan raya Jakarta beberapa minggu terakhir ini:

?

  1. Kondisi permukaan jalan yang mulus agar tidak menghambat kelancaran lalu-lintas dan tidak menjadi jebakan berbahaya.

Meski menggunakan sepeda motor adalah sebuah pilihan terpaksa, namun jalan raya di Jakarta dan sekitarnya masih bukan jalan yang aman bagi pengguna sepeda motor, karena begitu banyak lubang yang menganga yang siap membantai pengguna sepeda motor. Jika tidak celaka karena jatuh masuk ke dalam lubang, pengguna sepeda motor bisa celaka karena berusaha menghindarinya dan atau tertabrak pengguna jalan lainnya.

Berjuta-juta pengguna jalan tentu tidak ingin yang muluk-muluk, mereka hanya ingin diperlakukan di jalan raya oleh pemerintah sesuai dengan kewajiban yang telah mereka tunaikan, misalnya membayar pajak. Seharusnya tidak boleh ada satu lubang pun yang menganga, atau malah seharusnya mereka tidak dibiarkan memilih menggunakan sepeda motor, jika pemerintah menyediakan transportasi umum yang layak.

?

  1. Sistem pengelolaan dan perawatan permukaan jalan raya yang efisien

Meski gubernur Jakarta sudah berganti, namun sistem pengelolaan dan perawatan jalan belum lagi terlihat efisien. Di jaman gubernur sebelumnya, perbaikan jalan sering menunggu hingga kondisi jalan begitu rusak (dan korban berjatuhan) agar pekerjaan dapat dilakukan sekaligus bukan sedikit-sedikit pada saat muncul lubang baru yang masih kecil. Biasanya mereka bahkan memberikan satu lapisan aspal baru setebal hingga 20cm di atas seluruh permukaan jalan, rusak atau tidak rusak sehingga jalan semakin tahun semakin tinggi hingga trotoir harus disesuaikan (diperbaiki) lagi dengan ketinggian jalan.

Padahal ketika lubang yang masih kecil tentu tidak diperlukan peralatan-peralatan besar seperti mesin giling aspal dan lain-lainnya, cukup dengan mesin penumbuk aspal yang dapat dioperasikan dengan tangan oleh satu orang. Uang ratusan juta setiap bulannya dapat dicegah untuk masuk ke dalam kantung para kontraktor perbaikan jalan dan dialokasikan ke pembangunan sarana olah raga atau kegiatan produktif lainnya bagi para remaja atau hal-hal produktif lainnya.

?

  1. Rambu, baik tanda maupun lampu lalu-lintas, atau alat-alat lain seperti lampu penerangan di malam hari.

Rambu dan marka yang tidak jelas, rusak atau salah bisa menghasilkan ketidakpastian aturan sehingga jalan menjadi acak-acakan dan membahayakan pengguna jalan. Sementara rambu yang dipasang namun tidak ditegakkan, menghasilkan ketidaktegasan dalam penegakan hukum yang mengakibatkan kecenderungan untuk ketidakpatuhan pengguna jalan. Rambu yang tidak ditegakkan ini akan menimbulkan rasa frustasi dan ketidakamanan dan ketidaknyamanan.

?

  1. Trotoir paling tidak harus tersedia di satu sisi jalan untuk melindungi pejalan kaki dan untuk kelancaran lalu-lintas.

Ketiadaan trotoir menggambarkan ketidakkepedulian pemerintah untuk melindungi pejalan kaki. Trotoir tidak boleh digunakan untuk fungsi lain, misalnya untuk berdagang. Pemerintah harus mampu menyediakan tempat-tempat berdagang yang layak dan masuk akal, jika pedagang kaki-lima tidak boleh menggunakan trotoir atau jalan raya.

?

  1. Penegakan hukum lalu-lintas

Jika dipasang sebuah rambu untuk tidak parkir, maka hukum di tempat itu harus terus-menerus ditegakkan. Jalan raya di sekitar sekolah dan tempat ibadah harus menjadi prioritas utama dalam penegakan hukum lalu-lintas, karena sekolah dan tempat ibadah adalah 2 tempat di mana orang belajar menjadi lebih baik dan di mana orang berserah-diri kepada Tuhan, bukan untuk melanggar aturan. Demikian juga jalan raya di sekitar departement pemerintah dan instansi pemerintah harus menjadi contoh penegakan hukum lalu-lintas.

?

  1. Transportasi Umum yang layak.

Kita cenderung berpendapat bahwa angkutan umum adalah biang keladi atau penyebab kemacetan lalu-lintas. Mereka akan berhenti di mana saja dan menyerobot apa saja untuk bisa lebih cepat untuk mendapatkan penumpang. Tapi coba anda berada pada posisi pengemudi angkutan umum, seperti bis, metromini, angkot atau mikrolet. Beban hidup mereka terlalu berat untuk mereka pikul sekaligus sebagai alat pemerintah dalam menyediakan transportasi umum. Beban hidup mereka antara lain adalah rumah yang layak, biaya sekolah anak-anak, biaya kesehatan, yang tidak termasuk biaya untuk rekreasi atau pun biaya untuk mendapatkan pendidikan tambahan agar bisa memiliki daya saing dibanding orang lain. Dengan beban hidup sebegitu besar kita mau berharap mereka bisa menjadi agen pemerintah yang baik dalam menyediakan transportasi umum? Tentu itu gila!

Untunglah gubernur sekarang mulai memikirkan untuk lebih memperbaiki transportasi umum, karena transportasi umum memang seharusnya dianggap sebuah investasi bagi sebuah aktivitas ekonomi sebuah daerah. Jika aktivitas ekonomi lancar, misalnya karena tersedia transportasi umum yang baik dan jalan yang relatif tidak macet dan kacau-balau, maka pemerintah pun bisa diuntungkan karena lancarnya sebuah aktivitas ekonomi. Sehingga tidak salah jika pemerintah ikut mensubsidi transportasi umum dengan cara memberi tunjangan bagi para pengemudi angkutan umum, seperti tunjangan rumah, kesehatan, dan pendidikan. Saya yakin besarnya tunjangan bagi para pengemudi angkutan umum ini tidak akan lebih besar dari besar pemborosan bahan bakar yang terbuang pada saat terjadi kemacetan di jalan-jalan raya. Menurut Kompas (5/11/2007), kemacetan ini telah menimbulkan kerugian material sebesar 42 triliun rupiah. Apalagi jika mempertimbangkan sumbangan yang diberikan oleh kemacetan pada global warming.

?

  1. Ketertiban dalam pemanfaatan jalan raya, misalnya bukan untuk berdagang termasuk di trotoir.

Banyak jalan raya digunakan oleh untuk tempat berdagang atau menjalankan usaha seperti bengkel dan lain-lain. Ini menggambarkan ketidakmampuan pemerintah dalam mencari jalan keluar bagi sektor informal untuk berkembang secara tertib. Juga menggambarkan pemerintah yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga miskin di kota-kota besar, sekaligus tidak mampu mengatur arus urbanisasi. Jika Pemerintah bisa dan sudah menyediakan tempat yang layak bagi sektor informal ini, tentu jalan raya harus ditertibkan dengan keras dan tegas dari penggunaan yang melenceng, seperti berdagang. Memang ini soal yg kompleks, namun bukankah itu tugas pemerintah yg terpilih.

?

  1. Pengaturan lalu-lintas yang cerdas dan dengan riset yang cukup.

Sering kita melihat cara pengaturan lalu-lintas yang tidak cerdas dan telah berlangsung untuk waktu yang lama. Misalnya putaran U-Turn yang berada di daerah yang cukup padat lalu-lintasnya. Efek dari U-Turn yang salah tempat ini adalah kemacetan dari 2 arah, padahal tadinya hanya 1 arah saja. Mestinya jika ada riset atau peninjauan secara teratur, U-Turn ini sudah dipindahkan ke hanya beberapa ratus meter saja dari tempat semula. Meski menjadi lebih jauh bagi pengguna jalan yang ingin berputar, namun akan lebih lancar. Begitu juga letak halte bis yang justru menghambat arus lalu-lintas atau tidak adanya larangan parkir atau berhenti di tempat-tempat yang seharusnya ada.

Pemilihan Umum sebentar lagi akan digelar. Jalan raya kota-kota besar kita masih amburadul dan memalukan. Apakah para pemenang pemilu nanti akan terus membuat anda menjadi bangsa yang memalukan karena setiap hari berjam-jam bergumul di kemacetan dan di jalan yg pengelolaannya amburadul? Apakah kita akan dibiarkan terus-menerus kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih produktif karena energi kita habis dibantai di jalanan? Apakah kita akan terus-menerus menunduk malu ketika wisatawan mancanegara datang dan melihat jalan raya kita yang menggambarkan rendahnya derajat bangsa ini?

  • view 256

  • M Rahardjo
    M Rahardjo
    6 bulan yang lalu.
    Halo saya Jojo Rahardjo penulis artikel ini. Sebenarnya saya sudah menulis 60 artikel tentang positivity atau kebahagian di Inspirasi.co ini. Namun entah kenapa cuma ada 10 di sini. Saya pun kehilangan password untuk masuk ke akun saya di sini.

    Tapi tak apa, karena saya sudah memposting ulang semua tulisan saya di https://kompasiana.com/mjr

    Silahkan kunjungi link di atas ya, dan simak berbagai cara untuk menjalani hidup yang lebih maksimal melalui riset-riset neuroscience atau riset-riset positivity.

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Lengkap dan bernas...^_