35 Tahun Berkarya, Denny JA Produktif Menghasilkan Aneka Pencapaian

JoJo -
Karya JoJo - Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 September 2017
35 Tahun Berkarya, Denny JA Produktif Menghasilkan Aneka Pencapaian

Jojo Rahardjo
Penulis 60 artikel tentang positivity
kompasiana.com/mjr
DisasterChannel.co

Sepanjang 35 tahun sejak tahun 1983 Denny JA menghasilkan 51 buku (fiksi, non-fiksi), 7 film, 50 video dari berbagai topik disksi. Juga video pementasan teater, lagu, dan tentang lukisannya. Denny JA pantas disebut memiliki multi talenta dan karya-karya nya memang layak disimak, karena menggambarkan aneka pergolakan gagasan di Indonesia periode peralihan jaman pra-Teknologi Informasi dan Teknologi Informasi, yaitu abad 20 ke abad 21.

Situs Inspirasi.co yang dibangunnya sejak beberapa tahun lalu menyediakan daftar semua karyanya dalam satu link online: https://www.inspirasi.co/dennyja/20574_karya-budaya-pemikiran-denny-ja--esai-puisi-lagu-film-teater-dan-lukisan. Kita bisa mencermati semua karyanya sejak masih di tahun pertamanya di universitas, termasuk polemik yang diikutinya di harian Kompas di tahun 1985/86 melawan Sutan Takdir Alisyahbana soal 50 Tahun Polemik Kompas. Terlibat juga dalam polemik itu Ignes Kleden, Goenawan Mohammad, dll. 

Pilih satu karyanya dari halaman di atas, lalu cobalah Googling untuk mendapatkan informasi tentang perbincangan yang terjadi seputar karya itu. Karya-karyanya terutama di periode setelah 2010 selalu menjadi perbincangan atau bahkan kontroversi.

Sebagaimana yang ia kutip dari Pramudya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Denny JA jelas tidak ingin menghilang dalam peradaban atau sejarah. Ia ingin “lebih bersinar” dalam peradaban ini dengan berkarya menggunakan berbagai media baru di jaman teknologi informasi sekarang.

Bagian akhir dari daftar karyanya memuat daftar pencapaiannya untuk “lebih bersinar” (https://www.inspirasi.co/dennyja/35309_momen-penting-dan-penghargaan-karya-denny-ja). Kerja kerasnya dalam memanfaatkan Internet membuahkan beberapa pencapaian. Beberapa media menulis tentang kiprahnya di Twitter. Juga bagaimana ia berhasil dalam penjualan e-book miliknya di situs online dunia terkenal Amazon.com. Artinya ia tidak hanya mencuit-cuit di Twitter dan menjadi terkenal atau berpengaruh di Internet, namun ia juga sukses dalam trend belanja online yang baru tumbuh sejak 2 dekade terakhir.

Tentu tak usah lagi dipertanyakan tentang pencapaiannya dalam bidang konsultan politik. Sederet pencapaian diperolehnya antara lain dari PWI, Universitas Kristen Indonesia, Mahkamah Konstitusi, LEPRID. Untuk film ia mendapatkan 7 nominasi Piala Citra 2015 dalam filmnya yang berjudul “Hilal.”

Denny JA memang tidak berhenti pada bidangnya yang utama yaitu ilmu politik, dan kebijakan publik, tetapi ia bekerja keras merambah dunia yang memang sedang berkembang yaitu media elektronik yang kemudian menjadi media sosial. Media baru ini tentu berbeda sekali dengan media konvensional sebelumnya, di mana penyedia informasi sulit dibedakan dengan penyantapnya. Penyediaan informasi tidak lagi satu arah dan dimonopoli oleh media besar. Semua orang bisa menjadi penyedia informasi yang berpengaruh. Nampaknya itulah yang berhasil dicapai oleh Denny seperti tergambar dalam karya-karyanya di satu dekade terakhir ini.

Media sosial tidak diragukan lagi telah menjadi marketing tools yang paling efektif bagi Denny. Berkat pemanfaatan media sosial berbagai karya puisinya menjadi perbincangan tidak hanya di tanah air, namun hingga jauh ke Jerman dan negeri jiran Malaysia (https://www.youtube.com/watch?v=Trrkhnblzh0). Sebuah temu sastrawan Asia Tenggara membahas 22 buku yang berisi berbagai puisi Denny JA.

Tidak hanya itu, Denny yang tidak berpretensi menjadi penyair sebagaimana pernah dinyatakannya, mendapatkan “kehormatan” saat Panglima TNI, Gatot Nurmantyo membacakan satu puisinya berjudul “Bukan Kami Punya.”

Saya mengenal Denny JA cukup lama sekali, yaitu sejak tahun 1983, saat saya masih di tahun pertama di Fakultas Sastra UI dan Denny di Fakultas Hukum UI. Denny JA di masa itu selalu lantang menyuarakan pikirannya dalam setiap forum diskusi dan aneka tulisan di berbagai media cetak besar di Indonesia. Nampaknya hasrat untuk menyuarakan pikirannya tak pernah redup, bahkan lebih menyala di jaman teknologi informasi dan media sosial.

Di tahun-tahun awal kuliahnya di tahun 80an Denny sangat produktif menulis artikel. Di masa itu ia aktif di Kelompok Studi Proklamasi dan Kelompok Studi Indonesia dan juga produktif menghasilkan buku-buku. Beberapa bukunya dilarang terbit oleh pemerintahan Suharto yang represif. Ia tetap produktif menulis berbagai artikel saat mengambil gelar master dan doktornya di Amerika.

Kembali ke tanah air dari Amerika, saat itu Indonesia sudah memasuki masa reformasi. Denny tak menunggu terlalu lama untuk terjun sebagai konsultan politik dan membuat kegemparan “gerakan satu putaran saja” dalam pilpres 2009. LEPRID menghadiahinya penghargaan sebagai founding father untuk profesi konsultan politik di Indonesia dan membuat rekor 3 kali berturut-turut ikut memenangkan pilpres di Indonesia.

Ia cepat mencium peluang di era teknologi informasi yang terus berkembang pesat. Denny pun membuat beberapa situs untuk melempar berbagai gagasan. Beberapa di antaranya situs LSI, Denny JA World, dan terakhir Inspirasi.co.  Saya bersama teman-teman lain bergabung ikut memperkaya akun-akun media sosialnya yang ia buat di masa awal ia mulai berkecimpung di media sosial.

Di tengah kesuksesannya dalam bidang konsultan politik, Denny yang sudah menyukai puisi sejak di masa kuliah dulu ternyata tetap meyakini sastra adalah pencapaian tertinggi dalam menyampaikan aneka gagasan. Negeri-negeri maju sekalipun terus menghasilkan dan mengapresiasi karya-karya sastra warganya. Kumpulan 5 puisi esai dalam sebuah buku berjudul “Atas Nama Cinta” menjadi pendahuluan dari beberapa buku puisi berikutnya yang ia tulis.

Puisi esai Denny kemudian menjadi fenomenal, karena puluhan penyair kemudian ikut meramaikannya dengan membuat puisi esai pula. Tidak hanya itu sebuah team yang terdiri dari 8 orang kemudian memilih nama Denny JA di antara 33 tokoh lainnya sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengaruh, yaitu menciptakan genre puisi esai yang mewarnai dunia sastra kontemporer. Kontroversi seputar ini sangat ramai yang membuat dunia sastra bangkit kembali. Meski ada beberapa pihak menolak hasil pemilihan tokoh oleh team 8 itu, namun nampaknya team itu memiliki argumen yang yang bisa dipertahankan dalam memilih tokohnya.

Saya mencatat 2 pencapaian penting dalam 35 tahun Denny JA berkarya, yaitu pertama adalah “King Maker.”  Pencapaian ini disebut oleh sebuah majalah terkemuka berkat keberhasilannya dalam memberikan jasa konsultan politik bagi calon presiden, puluhan gubernur, walikota dan bupati di seluruh Indonesia. Sedangkan pencapaian kedua adalah dalam penggunaan media sosial.

Saya dan mungkin banyak yang lainnya tentu berharap semua pencapaian Denny dalam 35 tahun ini bisa memberi arti penting bagi Indonesia di masa depan. Ia mampu menentukan siapa yang boleh menjadi pemimpin politik. Ia bahkan mampu menentukan arah pergolakan gagasan di Indonesia. Semoga kita bisa meyakini Denny JA dapat menjadi tumpuan harapan banyak orang untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan.

  • view 44