Mengelola Jakarta dengan Pikiran Positif

JoJo -
Karya JoJo - Kategori Psikologi
dipublikasikan 20 Januari 2016
Mengelola Jakarta dengan Pikiran Positif

Kemacetan lalu-lintas di Jakarta sudah sedemikian parah. Jumlah kendaraan pribadi terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah kendaraan umum yg tersedia. Transportasi umum yg tersedia, bahkan menjadi tak bisa bergerak cepat, karena terhambat oleh kemacetan lalu-lintas di mana-mana. Sehingga berpindah dari kendaraan pribadi seperti mobil atau motor pun belum menjadi pilihan yg baik. Jika situasi ini dibiarkan begini terus tanpa ada solusi yg bersifat terobosan, saya tak tahu bagaimana jadinya Jakarta di tahun-tahun berikut nanti.

?

Solusi untuk ini memang menambah jumlah kendaraan umum dan membuatnya sangat layak agar pengguna kendaraan pribadi mau menggunakan transportasi umum. Namun berapa banyak yg harus ditambah agar ada perubahan yg segera atau signifikan? Apakah secara bertahap? Atau langsung menambah jumlah armada transportasi umum ini yg bisa langsung mengalahkan jumlah kendaraan pribadi yg ada di jalanan Jakarta? Itulah solusi yg ditawarkan Gubernur Jakarta saat ini. Langsung membanjiri Jakarta dengan setidaknya 4000 bis baru agar ada perubahan yg langsung terasa di jalanan Jakarta.

?

Memang ada solusi lain, yaitu misalnya menambah panjang jalan yg tentu bukan solusi yg mudah dan cepat. Begitu juga solusi lain seperti membangun sistem transportasi mass rapid, atau kereta cepat. Namun sayangnya kemacetan lalu-lintas di Jakarta membutuhkan solusi yg cepat dan mudah, yaitu menambah jumlah kendaraan umum, lalu mengelolanya agar selalu nyaman bagi penggunanya dari semua kalangan, dari bawah maupun atas. Apalagi anggaran yg tersedia memang ada dan persoalan Jakarta yg terbesar dan mendesak harus diselesaikan adalah dua soal yg saling berkaitan dan berputar-putar, yaitu kemacetan dan transportasi umum.

?

Apakah solusi yg ditawarkan oleh gubernur Jakarta baru-baru ini terburu-buru, sebagaimana yg disampaikan oleh DPRD Jakarta? Tentu jawabannya adalah, ya. Untuk situasi lalu-lintas Jakarta seperti ini, solusi itu memang harus terburu-buru, karena kita sudah menunggu puluhan tahun, entah apa lagi yg kita tunggu meski sudah ada orang yg mau memberi solusi seperti ini. Memang tak tergambar jelas di media apa alasan DPRD menganggap usulan gubernur Jakarta ini harus ditunda dulu. Apakah ada kekuatiran yg mendasar dari DPRD, sehingga keputusan untuk membeli langsung 4000 bis harus dipikirkan pelahan, misalnya kekuatiran bahwa ini bisa menjadi jalan untuk korupsi? Atau mungkin juga bisa salah memilih perusahaan penyedia bis. Atau DPRD juga kuatir pada prioritas yg harus ditetapkan dalam penggunaan anggaran yg ada. Barangkali DPRD menganggap ada beberapa prioritas lain yg lebih penting daripada menyelesaikan dengan cepat kemacetan dan transportasi umum di Jakarta? Kita tak tahu. Lalu apakah kita perlu mengadakan seminar lebih dahulu dari berbagai sudut pandang, baru kemudian kita mengambil keputusan?

?

Transportasi umum dan kemacetan lalu-lintas saya kira sudah terlalu banyak ditulis atau dianalisa oleh banyak orang. Kerugian yg ditimbulkan oleh kemacetan lalu-lintas tak terhitung besarnya, baik karena energi yg terbuang percuma, juga waktu yg hilang di jalanan. Sehingga saya kira tak ada prioritas lain selain mengatasi transportasi umum dan kemacetan lalu-lintas Jakarta.

?

Apakah penyelesaian masalah Jakarta seperti ini juga berhubungan dengan pikiran positif sebagaimana ditulis dalam buku-buku positive psychology? Saya kira ini memang berkaitan dengan itu, karena pikiran positif lebih mengedepankan pemecahan masalah bagi orang lain atau masyarakat daripada dirinya sendiri. Apa yg terbaik bagi masyarakat akan lebih utama dibandingkan ketakutan pada soal-soal lain. Nampaknya para pemimpin Jakarta membutuhkan pengetahuan tentang pikiran positif atau pengetahuan tentang bagaimana menjadi bahagia agar otak mereka bisa bekerja optimal sehingga bisa menghindari pikiran negatif yg membuat mereka tak kreatif dan produktif. Pekerjaan mereka seharusnya diemban oleh orang-orang yg sehat jiwanya yg membaktikan seluruh potensinya untuk kebaikan masyarakat.

?

Memang mengelola sebuah kota tentu memerlukan orang dan ilmu yg cocok. Apakah itu berarti setiap anggota DPRD harus memiliki ilmu yg cocok untuk mengelola Jakarta? Tentu tidak. Mereka cukup memiliki pikiran positif agar maksimal bekerja. Jakarta dalam situasi darurat yg sayangnya tak semua orang bisa merasakan situasi darurat ini. Menurut positive psychology, situasi darurat bisa menenggelamkan orang di dalamnya karena negative emotions bisa membajak positive emotions sehingga orang tak lagi bisa merasakan adanya situasi darurat. Jokowi bisa merasakan situasi darurat ini, sehingga ia merasa perlu untuk memberikan solusi yg bersifat terobosan. Dalam situasi darurat di Jakarta ini akan sangat bijak jika kita mulai menggunakan mindset yg cocok untuk mengatasinya. Mereka harus mulai belajar memahami bagaimana otak mereka bekerja sangat maksimal. Doa saja tidak cukup untuk menjadi kreatif, produktif dan berguna bagi masyarakat.

  • view 186

  • M Rahardjo
    M Rahardjo
    7 bulan yang lalu.
    Halo saya Jojo Rahardjo penulis artikel ini. Sebenarnya saya sudah menulis 60 artikel tentang positivity atau kebahagian di Inspirasi.co ini. Namun entah kenapa cuma ada 10 di sini. Saya pun kehilangan password untuk masuk ke akun saya di sini.

    Tapi tak apa, karena saya sudah memposting ulang semua tulisan saya di https://kompasiana.com/mjr

    Silahkan kunjungi link di atas ya, dan simak berbagai cara untuk menjalani hidup yang lebih maksimal melalui riset-riset neuroscience atau riset-riset positivity.

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Sulit om.. DPRD akan mengaggap status darurat dijakarta jika kantong mereka kosong..hahaha