Dua Cara Melihat Hidup, Optimism dan Pessimism

JoJo -
Karya JoJo - Kategori Psikologi
dipublikasikan 20 Januari 2016
Dua Cara Melihat Hidup, Optimism dan Pessimism

Seorang ayah memandangi putri kecilnya yg sedang terbaring di tempat tidurnya. Putri kecil ini baru saja tiba dari rumah sakit beberapa hari lalu. Ia baru berumur 4 hari dan ia masih seorang bayi kecil yg sangat lucu. Tiba-tiba kelopak mata bayi ini perlahan terbuka. Bola mata hitamnya memandangi langit-langit ruangan. Sebuah pemandangan yg menakjubkan bagi ayahnya. ?Halo sayang...? sang ayah mencoba menarik perhatian putrinya, namun mata kecil itu tetap mengarah ke atas, ke langit-langit ruangan. Lalu sang ayah meraih sebuah mainan dan diguncangkan sehingga mengeluarkan suara berdenting seperti lonceng kecil. Bayinya tetap tak menoleh ke arah suara denting itu. Dicobanya lagi dari arah yg berbeda, namun bayinya tetap tak memberi respon pada suara itu.

?

Sang istri dari jauh memandangi apa yg dilakukan suaminya dan hanya dengan tersenyum. ?Apakah putri kita tuli?? tanya suaminya. ?Hey, ia baru berumur 4 hari, ia belum tahu cara merespon terhadap apa pun, termasuk suara, namun belum tentu ia tuli,? jawab istrinya. ?Tapi dia seperti tak merespon suara sama sekali,? lanjut sang ayah dengan kuatir sambil terus mencoba menarik perhatian bayinya dengan suara denting dan panggilannya atau tepukan tangan. Sang bayi tetap menatap ke atas. Sang ayah bahkan menggerakkan tangannya di depan mata sang bayi. Juga tak ada respon. ?Ia juga tak merespon gerakan tanganku,? kata sang suami lagi kepada istrinya. ?Tenang saja, bayi memang begitu saat umurnya masih beberapa hari seperti ini,? jawab sang istri tetap tenang sambil mengangkat dan menggendong bayi itu yg lalu bergerak-gerak merespon sentuhan ibunya. ?Nah, sekarang dia merespon setelah disentuh. Kayaknya ia tuli, sayang...,? Sang suami masih terus kuatir. ?Sudahlah, tunggu saja beberapa hari ini, nanti saat kontrol berikutnya ke dokter anak, kita minta untuk sekalian memeriksanya apakah ia tuli atau tidak,? kata istrinya.

?

?Jika ia benar tuli, mungkin ini salah saya, karena salah seorang kakek saya memang tuli.? Sang ayah masih terus menyesali ?kondisi? putrinya.

?

Betapa berat hidup bayi ini kelak jika sudah besar. Begitu sang ayah membayangkan kesulitan yg akan dihadapi putrinya kelak. Ia akan terisolasi dalam keheningannya. Ia tak dapat menikmati musik bersama teman-temannya. Ia bahkan bersuara aneh, karena tak bisa menirukan kata-kata yg diucapkan orang. Bagaimana ia bisa mendengarkan guru di sekolahnya yg menerangkan tentang pelajaran penting. Atau bagaimana ia bisa mendengar ada truk yg akan menabraknya dari belakang? Atau suara berbahaya lainnya? Begitulah sang ayah dipenuhi oleh bayangan yg tak bagus tentang hidup putrinya kelak. Sepanjang beberapa hari ia terus mencari buku atau tulisan yg berisi tentang bagaimana membesarkan anak tuli. Ia tak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya di kantor. Pikirannya dipenuhi tentang bagaimana menghadapi kekurangan putrinya ini. Ia bahkan tak bisa menikmati film kesukaannya di televisi. Ia berada dalam situasi yg depresi, meski ia mengira sedang berada dalam sebuah situasi di mana dirinya sedang menyiapkan diri pada sebuah masa depan yg buruk putrinya.

?

Sementara itu istrinya hanya menunggu pemeriksaan dokter beberapa hari lagi. Ia melakukan semua yg biasa ia lakukan sebelumnya, makan, minum, berolah-raga, mendengarkan musik, menonton TV dan lain-lain. Ia hanya sedikit melakukan browsing ke situs mengenai?parenting?dan mendapatkan informasi bahwa gejala yg ada pada putrinya adalah gejala yg normal dan terlalu dini untuk mengambil kesimpulan apa pun.

?

Akhirnya datanglah waktu untuk mengunjungi dokter anak secara berkala. Melalui telpon, sang istri sebelumnya telah meminta secara khusus agar dokter nanti memeriksa telinga putrinya, apakah ia mampu mendengar secara normal atau tidak. Setelah diperiksa dokter ternyata telinga putrinya normal, alias bisa mendengar dengan baik.

?

Menurut Martin E. P. Seligman, Ph.D., yg menulis buku berjudul ?Learned Optimism? ayah dan ibu dalam kisah di atas mewakili 2 cara pandang terhadap hidup ini. Ayah adalah seorang pessimist dan ibu adalah seorang optimist. Seorang pessimist mengira semua yg buruk akan terjadi untuk waktu yg lama dan semua yg buruk adalah berhubungan dengannya atau merasa itu kesalahannya. Sedangkan optimist berpikir sebaliknya, bahwa menganggap semua yg buruk sebagai tantangan yg tak mengkuatirkan. Masing-masing cara pandang ini menghasilkan akibat yg cukup serius. Banyak studi telah menunjukkan pessimist mudah menyerah dan mudah mengalami depresi. Sedang optimist memiliki prestasi yg baik, di sekolah, tempat kerja atau di bidang olah-raga. Mereka juga lebih sehat dan berumur lebih panjang dibanding pessimist.

?

Martin juga menyebutkan tidak mudah untuk mengetahui apakah anda seorang pessimist atau optimist. Bahkan tidak mudah juga untuk mengetahui apakah anda hidup di bawah bayang-bayang seorang pessimist. Meski demikian, kebanyakan orang akan bereaksi negatif terhadap apa yg disampaikan oleh para pessimist, misalnya ketika ia berbicara atau menulis.

?

Perilaku pessimistic bisa menjadi permanen, meski pessimism sebenarnya bisa dihilangkan. Pessimist bisa berubah untuk menjadi optimist dengan mempelajari?cognitive skills?yg berkaitan dengan optimism sebagaimana dijelaskan dalam buku ?Learned Optimism? tersebut di atas. Buku itu akan membantu kita untuk memahami apakah kita memiliki kecenderungan pada pessimism atau optimism. Berdasarkan studi pada ribuan orang, buku ini bisa membantu atau orang-orang terdekat anda untuk menghilangkan pessimism dan sekaligus menghilangkan akibat dari pessimism, yaitu depresi.

?

  • view 371

  • M Rahardjo
    M Rahardjo
    1 tahun yang lalu.
    Halo saya Jojo Rahardjo penulis artikel ini. Sebenarnya saya sudah menulis 60 artikel tentang positivity atau kebahagian di Inspirasi.co ini. Namun entah kenapa cuma ada 10 di sini. Saya pun kehilangan password untuk masuk ke akun saya di sini.

    Tapi tak apa, karena saya sudah memposting ulang semua tulisan saya di https://kompasiana.com/mjr

    Silahkan kunjungi link di atas ya, dan simak berbagai cara untuk menjalani hidup yang lebih maksimal melalui riset-riset neuroscience atau riset-riset positivity.