PERJUANGAN SEORANG PETANI

J-Love Nudin Nudin
Karya J-Love Nudin Nudin Kategori Budaya
dipublikasikan 23 Januari 2018
PERJUANGAN SEORANG PETANI

Perjuangan Seorang Petani
Oleh    : Yohanes S.J Nudin
Mahasiswa PBSI UMK

 

Pada zaman dahulu kala di suatu kabupaten leteknya di kabupaten Manggarai pada umumnya diKab. Manggarai dikenal nama Colol sebagai daerah pengasil kopi terbesar bahkan Salah satu penghasil kopi di Provinsi NTT.  pohon kopi sudah menjadi pohon kehidupan bagi  masayarakat Colol. Menurut cerita zaman dahulu  masyarakat Colol merupakan keturunana dari Mumbung Ema Lebe,  dan secara geografis, sekarang Colol  terletak di Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Topografi berbukit-bukit dengan diapiti gunung-gunung serta iklim yang dingin, menjadikan daerah ini cocok bagi pengembangan tanaman komoditi kopi kususnya.

 Saat ini, Colol merupakan penghasil kopi terbesar untuk Manggarai Raya. Colol sudah dikenal sebagai penghasil kopi sejak zaman kolonial Belanda. Aroma kopi Colol telah menarik simpati Pemerintah Belanda sehingga pada beberapa tahun silam ema’ Bernadus Ojong salah satu petani kopi Colol mendapat penghargaan dari pemerintah Belanda berupa bendera merah, putih, biru bendera ini menjadi kebanggaan masyarakat Colol.

Masyarakat Colol berkembang menjadi beberapa kampung di antaranya Biting, Welu, dan  Tangkul, masing-masing kampung selalu ditandai berdirinya rumah adat tempat pertemuan-pertemuan adat dilaksanakan dan penyimpanan benda-benda adat.

Aku merasa tanah di sekitar kawasan Colol ini begitu subur, aku dan istriku dengan penuh semangat mengerjakan ladang untuk menanam kopi demi untuk kebutuhan kami di hari-hari selanjutnya, mulai hari itupun aku dan istriku mengerjakan ladang bersama-sama dengan warga kampung.

 

Keseharianku selalu sibuk pergi ke kebun melihat pohon kopi yang tumbuh subur. Kebunku tidak terlalu jauh dari kampung Colol persisnya di bawah kaki gunung Poco Nembu, saya, istriku  dan anak-anakku, selalu sibuk bekerja merawat kebun kami. Sambal terus berharap semoga tanaman yang kami tanaman dapat memberikan hasil yang banyak.

Walaupun penghasilanku tidak terlalu banyak tapiku masih semangat mengerjakan kebun dan merawat pohon-pohon kopi itu, harga per kilo kopi di pasaran kami sekitar 20-25rb/kg. saya mengerjakan dan merawat kebun kopi sekitar 4-5 tahun, dan target kami pada tahun ke- 6 kami bisa memetik hasil dari tanaman kami ini. Dan dari pohon kopi mengalirlah penghasilan untuk kehidupan sehari-hari untuk keluargaku. Kopi telah menjadi pohon kehidupan bagi keluargaku dan warga colol. Kopi adalah kehidupan itu sendiri bagi warga Colol. Eang ngae le colol le colol eangae manga kopi manga doi,  begitupun syair dalam bahasa Manggarai kata mereka dalam lagu rakyat yang  berarti  hanya di Colol banyak kopi dan kalau ada kopi pasti banyak uang.

Suatu hari pohon kehidupan saya  dan para petani lainnya dibabat oleh aparat pemerintah dengan alasan menertibkan kawasan hutan lindung, Dalam pandangan pemda, petani telah melanggar tapal batas, memanfaatkan kawasan hutan untuk membudidayakan beragam tanaman komoditi, terutama kopi. Tapi kami petani punya pandangan lain dengan hal tersebut. sekitar 2 hektar tanaman milik saya hancur karna  di babat oleh aparat pemerintah. Saya sangat sedih dan menagis karna kehancuran segala tanaman milik saya yang telah dimusnahkan, tanaman saya sudah dibabat saya akan jatu miskin dan menderita.

Pada suatu hari saya pergi ke kebun untuk melihat tanaman kopi yang telah saya tanam beberapa tahun lalu tiba-tiba sampai di kebun saya melihat ada seseorang yang lagi asyik memotong pohon kopi di kebun saya dan saya pun kaget dalam hati saya mengatakan “ceing pe hio e agu pande apan keta ce’e uma daku” (siapakah itu, dan sedang apa dia di kebun saya) dan rupanya dia bukan warga colol karna saya jarang melihatnya, karna tak sabar saya pun langsung bertanya kepada orang itu.

“Pande apam hau e co tara pokan lahu kopi daku (kau sedang apa disini dan kenapa kau potong kopi dikebun saya, saya sudah setengah mati menanam kopi ini)” kata Rido sambil emosi karna kopinya sedang di potong oleh petugas dari pemda

“Saya hanya menjalankan tugas bapak, karna atasan kami menyuruh kami untuk membabat pohon kopi ini,” jawab petugas itu.

“Kenapa harus dibabat, kopi ini adalah sumber penghasilan kami, pak,” tanya Rido petani kopi itu dengan nada tinggi.

“Ini sudah ketetapan pemerintah, kami hanya menjalankan tugas,” jawab petugas yang sedang melakukan pembabatan kopi.

“Tapi ini tidak adil pak, kopi sudah menjadi harapan untuk hidup kelurga kami bahkan sejak nenek moyang kami hingga saat ini,” kata Rido sambil menurunkan nada bicaranya.

“Bapak saya sudah katakan kami hanya menjalankan tugas saja,” Jawab petugas itu yang masi semangat memotong pohon kopi dengan menggunakan mesin sensor.

“Pak kalau semua pohon kopi milik kami dibabat, maka masyarakat Colol akan miskin dan menderita jangankan untuk biaya pendidikan, untuk perwatan kesehatan, sedangkan untuk makan saja masyarakat sudah sangat menderita pak,” kata Rido sambil memohon pada petugas itu.

Tapi sayangnya petugas itu tidak mendengarkan kelukesahku sebagai petani. Malah petugas semakin semangat memotong pohon-pohon kopi milik kami.

Ke esokan harinya kami dan seluruh warga mendatangi kantor pemerintahan daerah untuk mempertanggung jawabkan hasil ulahnya yang sudah membabat kopi milik petani kususnya di Colol, dan pada hari itu juga polisi diturunkan untuk berjaga-jaga, petanipun tidak terima penjelasan dari aparat pemerintah maka dari situ terjadilah bentrok dan bakuhantam antara polisi dengan petani, ada warga yang meninggal karna bakuhantam dengan polisi dan yang lainnya luka-luka.

Pada saat itu petani mengajak masyarakat untuk melapor kejadian itu, tapi mengalami jalan buntu karna mereka tidak ada uang dan tidak ada jaringan. Kejadian itupun dikenang sebagai Rabu Berdarah.

 

 

 

 

 

 

 

  • view 122