si Pondik

si Pondik

Johanes Jalin
Karya Johanes Jalin Kategori Budaya
dipublikasikan 25 Januari 2018
si Pondik

 

 

SI PONDIK
Oleh     : Yohanes Jalin
Mahasiswa PBSI-UMK

Seorang anak mudah yang malas bekerja, punya akal tapi licik

(Dahulu, ada kampung kecil bernama Like, hiduplah seorang anak mudah yang malas. Namanya Pondik. Ia memiliki akal ketika melakukan sesuatu tapi sayang, akalnya digunakan hanya untuk menipu orang. Ketika itu ia sedang duduk santai di depan teras gubuknya. Si Pondik berpikir keras bagaimana ia mendapatkan makan untuk hari itu. Anak itu memang miskin, ia tidak memiliki tanah atau ladang untuk dikerjakan, tanahnya hanya di gubuk kecilnya yang ia tempati. Lagi pula anak mudah itu sangat malas untuk bekerja. Untuk mendapatkan makan sehari-hari, ia bersusah payah berjalan dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk mencari orang yang sedang mengadakan acara pesta. Begitulah cara si Pondik untuk bertahan hidup sehari-hari. Suatu hari, si Pondik melewati sebuah kampung tetangga. Kebetulan di kampung itu masyarakat sedang mengadakan acara. Ia gembira sebab itu kesempatan baginya untuk makan. Setelah mandapat makan di acara itu, ia seperti biasanya selalu meminta beras dan sepotong daging untuk dibawah pulang ke rumahnya. Ketika jalan pulang kerumahnya, tiba-tiba ia melihat sebuah sangkar burung nuri di sebuah pohon).

Pondik             : Sepertinya aku akan mendapatkan rezeki banyak hari ini.

(Pondik mulai berpikir licik. Dengan hati-hati ia mengambil burung nuri dan sangkarnya dan di masuk kedalam karung. Kemudian karung itu dibawah ke rumahnya. Sesampainya di kampung, si Pondik jalan keliling kampung sambil berteriak).

Pondik               : Burung nuri.......... ajaib, burung nuri ini bisa bicara siapa yang mau beli? Ayo silakan merapat, ayo mari bapak, mari ibu, mari teman-teman.

(Ketika mendengar teriak si Pondik, semua warga kampung tertarik mengerumuninya).

 

 

 

Lawe Lenggong : Hai Pondik, bukankah burung nuri itu seharusnya bersuara, mengapa burung nuri milik kau bisa berbicara, Seharusnya yang bisa bicara itu kita manusia saja.

Pondik                 : Burung nuri ini bisa bicara pada saat saat tertentu Lawe Lenggong, kalau kau mau beli silakan, kalau tidak mau tidak dipaksa juga masih banyak warga lain yang mau beli nanti. (sambil memegang burung nuri tersebut).

(Ketika hari sudah sore burung nurinya pun tidak laku di jual, dan hari itu pun si Pondik kurang beruntung. Keesokan harinya si Pondik lagi-lagi berjalan keliling kampung untuk melanjutkan jual burung nuri itu. Setelah beberapa jam kemudian burung itu pun laku di jual juga hari itu. Si Pondik bahagia dan senang saat menerima uang dari si pembeli. Pada saat mau pulang ke gubunknya, si Pondik kasih saran kepada si pembeli katanya).

Pondik             : Kau boleh berbicara dengan burung nuri ini pada saat kau berada di rumah.

Si pembeli       : Iya Pondik. Saya akan coba kalau sampai di rumah nanti.

(Begitu si Pondik pergi, si pembeli kembali kerumahnya dengan tak sabar untuk mendengar burung nuri itu berbicara. Sepanjang hari si pembeli hanya duduk sampai ketiduran untuk mendengar burung nuri itu berbicara, tapi sayangnya burung nuri yang ia beli dari si Pondik hanya diam dan menggerakkan ekornya. Hari berganti hari burung nuri itu tidak pernah berbicara, hanya tunggu kasih makan dari pemiliknya. Sadar sudah di tipu si Pondik, si pembeli kecewa, menyesal dan marah. Dengan muka marah si pembeli mengajak warga kampung untuk mencari si Pondik. Itu dia..... teriak warga kampung setelah mendapatkan si Pondik yang lagi santai di depan gubuknya. Mereka pun membawahnya keliling kampung untuk di adili. Karena telah dianggap menipu orang, Kepala Suku Kampung menghukum si Pondik dan kedua tangannya di ikat lalu digantung pada sebuah pohon. Menyesal atas perbuatannya, si Pondik pun meminta maaf pada si pembeli dan warga kampung, tetapi hukuman tetap berlanjut. Namanya si Pondik tetaplah si Pondik yang licik, bukannya menyesal atas perbuatannya, ia malah menjebakkan Lawe Lenggong temannya sendiri untuk menggantikannya pada hukuman).

Lawe Lenggong            : Kau lagi apa Pondik?( kata Lawe Lenggong yang baru pulang dari hutan)

Pondik                         : Oh, aku lagi berolahraga.(sambil berayun-ayun)

Lawe Lenggong           : Wah, rajin sekali kau. Pantas perut dan badanmu ramping dan kekar. (pujian Lawe Lenggong pada Pondik)

(Mendengar pujian itu, si Pondik langsung muncul ide liciknya untuk menawar Lawe Lenggong mencoba olahraga tersebut).

 

 

Pondik                         : Kau mau coba atau tidak? (kata Pondik pada Lawe Lenggong)

Lawe Lenggong           : Iya, aku mau coba (Lawe Lenggong yang polos ingin mencoba olahraga Pondik)

(Dengan segera Lawe Lenggong bantu melepaskan ikatan tangan si Pondik. Setelah ikatan di lepas, Lawe Lenggong pun digantung dan diikat di atas pohon. Setelah berayun-ayun sepanjang hari, Lawe Lenggong mulai kesakitan tangannya. Sedangkan si Pondik sudah pergi jauh dari tempat hukuman itu. Untunglah ada si Me Leke yang sedang lewat di tempat hukuman itu).

Me Leke                      : Lawe Lenggong, sedang apa kau di sisni?

Lawe Lenggong          : Aku lagi berolahraga, kebetulan si Pondik lagi beristirahat.

Me Leke                        : Berolahraga? Bukannya si Pondik yang seharusnya menjalani hukuman itu, mengapa jadi kau?

Lawe Lenggong         : Hukuman?(tanya Lawe Lenggong dengan heran)

Me Leke                     : Iya, si Pondik kena hukuman karena ia telah menipu orang dan warga sekampung .

(Setelah Me Leke menjelaskan semua masalahnya, Lawe Lenggong baru sadar kalau si Pondik telah menipu dirinya. Ia pun menyesal dan kecewa dengan perbuatan si Pondik. Keesokan harinya mereka mencari si Pondik, setelah mendapatkan kembali si Pondik mereka menyeretnya kembali ke kampung dan lapor di Kepala Suku kampung atas perbuatan si Pondik).

Kepala Suku                 : Pondik, karena kau telah berulah lagi. Kau harus menyerah seekor sapi jantan yang besar dan gemuk. (Kepala Suku memberikan hukuman pada si Pondik).

Pondik                         : Iya bapak Kepala Suku, nanti saya akan cari sapinya.

Kepala Suku                 : Baiklah, sekarang kau boleh pulang ke rumah.

(Dengan akal liciknya, si Pondik sanggup dengan permintaan Kepala Suku itu. Tapi ia tidak mengerti caranya untuk mendapatkan sapi yang besar dan gemuk seperti yang diminta Kepala Suku tadi. Ia berpikir keras, meski bingung si Pondik menyusuri kampung tetangga yang sedang mengadakan pesta. Kebetulan perutnya lagi kosong, ia sempat makan pada acara tersebut. Hari itu ia cukup beruntung. Sehabis makan, ia melihat rombongan orang sedang memotong sapi, akhirnya ia mendekat dan setengah memohon).

 

 

 

Pondik             : Boleh saya minta kepala dan leher sapinya pak?

Pak Bernadus   : Oh, iya silakan. Ini untuk kau, (sambil menyulurkan tangan).

Pondik             : Terimakasih banyak bapak, kalau begitu saya pulang dulu (Pondik memegang tangan bapak Bernadus).

Pak Bernadus   : Iya sama-sama, hati-hati pulangnya.

Pondik             : Iya pak.

(Dalam perjalanan pulang kekampungnya, ia senang dan gembira. Si Pondik pun melanjutkan pikiran liciknya, yaitu bagaimana cara untuk dipercaya oleh warga kampung , dan idenya pun muncul yaitu dengan menanam kepala sapi itu di kubangan lumpur. Seutas tali di ikatkan ke leher sapi dan ujung talinya diikatkan pada kayu yang sudah di tanamnya, setelah itu ia kembali ke kampung untuk memberi tahu Kepala Suku dan warga sekampung).

Pondik             : Sesuai dengan hukuman yang bapak berikan kepada saya kemarin, sapi itu saya ikatkan di kubangan lumpur di belakang kampung kita, bapak boleh menyuruh beberapa warga untuk mengambilnya disana.

Kepala Suku   : Baiklah, nanti saya akan suruh warga kampung untuk mengambilnya. Karena kau telah menepati janji itu kau boleh pulang ke rumahmu.

Pondik            : Terimakasih bapak Kepala Suku. ( si Pondik cepat-cepat lari ke rumahnya dan mengemasi barang-barangnya untuk meninggalkan kampung halamannya secara diam-diam).

(Sehabis cakap dengan si Pondik,Kepala Suku menyuruh beberapa warga kampung untuk pergi ke kubangan itu, sampai di sana mereka melepaskan ikatan sapi di kayu dan menarik sapi tersebut. Tetapi apa yang terjadi pada saat itu, ternyata yang mereka dapatkan hanyalah kepala sapi dan lehernya. Dengan perasaan marah dan kesal warga kampung akhirnya tahu kalau si Pondik telah menipu mereka dan mereka juga tahu kalau si Pondik melarikan diri dari kampung untuk pergi jauh. Dan akhirnya, warga kampung membiarkan ia pergi. Dengan begitu ia telah menghukum dirinya sendiri. Setelah itu semua warga kampung kembali ke rumah mereka masing-masing).

 

 

 

 

  • view 44