Jofin Lahir

Johan Arifin
Karya Johan Arifin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Desember 2017
Jofin Lahir

Sudah beberapa hari ibu mengeluh sakit perut, rupanya tanda-tanda dia akan melahirkan sudah muncul, namun malangnya tidak ada satu keluargapun yang mendampingi, termasuk Ayah, karena ayah masih menjalankan tugasnya di Bandung sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, hingga beberapa jam kemudian beliau tidak sanggup lagi bergerak, beliau hanya berbaring di atas selembar tikar yang terbuat dari rumput purun sambil meringis kesakitan.

Sementara di luar rumah, adik ipar ayahku namanya Minah berulangkali mengetok pintu, namun tidak terdengar ada suara yang menyahut hingga akhirnya masuk ke dalam rumah dan melihat kondisi ibu sudah memelas tak berdaya. Mengetahui ibu akan melahirkan dia kaget dan mulai panik “astaga... astaga... astaga...” gumamnya sambil mengambilkan bantal untuk ibu, “Teteh mau melahirkan ya ?” ibu hanya mengangguk dan meringis pilu. Tanpa pikir panjang Minah berpamitan pada ibu untuk menjemput dukun beranak yang ada di kampung sebelah.

Ibu terus saja meringis, sepertinya bayi akan segera keluar, bahkan rambut tipis dikepalanya sudah nampak terasa saat diraba oleh ibu, merasakan hal tersebut ibu mengejan sekuat tenaga dan tiba-tiba saja seorang bayi terpental hingga ke dinding rumah.

Setengah jam kemudian Minah datang bersama seorang perempuan setengah baya, dia biasa dipanggil Uma Darkuni, seorang dukun beranak yang sudah terkenal dari kampung ke kampung karena kepiawaiannya menolong orang melahirkan. Dia menghampiri ibu dan kaget melihat seorang bayi tertelungkup di lantai rumah yang hanya beralaskan tikar dari rumput purun. Dukun beranak rersebut langsung menghampiri bayi dan mengambilnya kemudian menutupnya dengan kain batik priangan yang sudah disediakan oleh ibu. Kata ibu, batik itu memiliki motif sederhana, selaras, dan pantas digunakan untuk siapa saja. Sehingga nantinya diharapkan sang anak memiliki sifat sederhana, selaras, dan mampu menjalani hidup dimana dan dengan siapa saja.

Bayinya memang sedikit lain dari kebanyakan bayi yang baru dilahirkan. Biasanya bayi yang baru dilahirkan berkulit nampak kemerahan, namun bayi yang satu ini berwarna gelap keunguan seperti tongkol/jantung pisang. Bayi itu adalah aku, aku dilahirkan tanpa seorang bidan juga tanpa ada yang mendampingi.

Di sebuah rumah mungil di Kalimantan Selatan, tepatnya di desa Hulu Selatan Kecamatan Sungai Raya Kabuapaten Hulu Sungai Selatan, aku dibesarkan bersama tiga orang kakaku, Anwar 10 tahun, Imas 7 tahun, dan Halimatus 1 tahun. Mereka dilahirkan di Lembang Jawa Barat, sedangkan aku di Kalimantan. Banyak sekali perbedaan antara aku dan ketiga kakaku, yang paling mencolok adalah warna kulit, ketiga kakaku kulitnya seperti ibu, putih bersih seperti kulit telur, sedangkan aku hitam seperti pantat rinjing (kuali). “Kalau bukan orang, ingin rasanya kubuang saja” canda ibu sambil terkekeh.

Beruntungnya  aku dilahirkan di sebuah rumah kecil yang berada di desa yang subur dan begitu melimpah dengan hasil hutan dan kebunnya. Aku tumbuh di tengah keluarga yang meme

  • view 96