Lebaran Bersama Kenangan

Johan Arifin
Karya Johan Arifin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Juli 2016
Lebaran Bersama Kenangan

Dengan skutik mungil aku membonceng anak dan isteriku menyusuri jalan kecil tepat di belakang rumahku. Sesekali aku melempar senyum dan bersapa ria dengan penduduk yang berpapasan denganku. Sepanjang perjalanan, kujumpai rumah-rumah penduduk yang mulai merapat padat, sangat berbeda sekali saat aku masih kecil dulu, dulu di jalan kecil ini selalu nampak sepi, sekarang sudah banyak rumah dan dipenuhi oleh bangunan berpenghuni. Tidak jarang mereka terkaget-kaget melihatku dan berteriak memanggilku sambil menanyakan kabar dan kapan aku datang.
Banyak sekali perubahan yang terjadi setelah hampir 16 tahun tak kujenguk sekalipun tempat ini. Sawah yang membentang luas dengan bulir-bulir buah padi yang menguning, nampak pohon-pohon karet tumbuh begitu kokoh dan berjejer rapi, gunung-gunung yang indah dan menghijau masih berdiri di sana, sungai kecil tempat aku mandi dan bermain sekarang tampak dangkal dan mengering.
Bahagia sekaligus pilu setelah kembali bisa menatap alam desaku, seakan semua mengorek kenangan lama ketika aku masih kanak-kanak. Di sini aku dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kepedihan dan penderitaan.
Sesekali aku singgah menunjukkan kepada anak dan isteriku tentang sawah, kebun, dan tanah, kemudian kuceritakan tentang masa-masa aku kecil dahulu di tempat itu. Ah..... betapa bahagianya saat kami berada di kebun pohon karet yang sudah menghasilkan rupiah sejak kutanam 20 tahun yang lalu, sawah yang cukup luas peninggalan Ayah yang masih ditanami padi oleh ibu, namun aku agak terheran-heran, kenapa padi tidak dipanen dan bahkan dibiarkan tangkainya patah dan berguguran. Saat kutanyakan pada ibu, beliau bilang tahun ini gagal panen, imbas dari gerhana matahari total bulan Maret kemarin.
Aku menarik nafas, benarkah efek gerhana matahari total sekejam itu terhadap padi yang ditanam petani, ah.... entahlah nyatanya tahun ini cuaca memang begitu panas, hujan yang diharapkan para petani untuk mengairi sawahnya ternyata tak kunjung turun selama berbulan-bulan, hingga akhirnya sawah kekeringan dan tangkai padi menghitam, saat bulir padi kuamati ternyata memang benar, tidak berisi dan tangkainya lapuk. Oh....bagaimana tidak menangis hati ini saat sawah yang ditanami padi oleh ibu hanya berbuah capek dan keringat.

Sekali lagi kutatap alam desaku, kuhirup udara yang sudah terasa panas, sesaat kupejamkan mata ini sekadar mengingat kembali ketika Ayah dan Ibu setiap hari membawaku ke sini. Sekarang aku membawa serta anakku berdiri di atas tanah yang sama, di bawah langit yang tidak berbeda, kemudian aku mengajak mereka pulang untuk berkumpul lagi dengan Ibu dan sanak saudara di rumah.


Untuk almarhum Ayah,
Semoga engkau damai di sana,
Terima kasih, Sudah berusaha untuk menjadikanku orang yang berguna.
Untuk Ibu,
Semoga keberkahan selalu besertamu,
Terima kasih atas doamu yang selalu mendampingi hidupku.

  • view 249