Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 3 Maret 2016   11:02 WIB
FREEDOM

Jika seluruh umat manusia, kecuali satu orang saja, memiliki satu pendapat tunggal, dan hanya satu orang itu saja yang berpendapat bertentangan dengan pendapat tunggal tersebut, umat manusia tidak bisa dibenarkan untuk membungkam yang satu orang itu, sama dengan satu orang itu tidak bisa dibenarkan untuk membungkam umat manusia, sekalipun satu orang itu mempunyai kekuasaan.


Itulah kata-kata John Stuart Mill yang hidup di Inggris dari tahun 1806 sampai 1873. Tidak lama sesudah pertengahan abad ke-19, Mill membenarkan kebebasan menyatakan pendapat dalam bukunya yang berjudul On Liberty. Semua tindakan manusia, tulisnya, harus ditujukan demi menciptakan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin manusia. Keadaan bahagia ini akan terwujud bila seorang individu bebas berpikir dan bertindak sesuai kehendaknya. Seorang individu membutuhkan kebebasan untuk memungkinkan kemampuan-kemampuannya berkembang sepenuhnya, demikian Mill. Sementara setiap individu berkembang, masyakarat sebagai keseluruhan merasakan manfaatnya.

Kemerdekaan adalah hak setiap individu yang telah matang untuk berpikir dan bertindak sesuai kehendaknya, sejauh pikiran dan tindakan itu tidak merugikan orang lain. Kerugian bagi orang lain adalah satu-satunya alasan untuk mawas diri, tulis Mill. Demi melindungi dirinya sendiri, suatu masyarakat boleh menyarankan, memberi petunjuk, dan membujuk individu-individu itu demi kebaikan individu-individu itu atau kebaikan masyarakat itu sendiri.

Mill menekankan bahwa pemerintah, musuh tradisional kebebasan, bukanlah satu-satunya ancaman bagi kebebasan individu. Ia tidak memperingatkan tentang tirani pemerintahan tetapi tentang tirani dari suatu mayoritas yang, dengan sifat tidak tolerannya terhadap pendapat minoritas, dapat mencekik inovasi, wawasan, bahkan kebenaran. George Sabine, mahasiswa teori politik, mengamati "apa yang dipahami oleh Mill, dan yang tidak pernah dilihat oleh liberalisme sebelumnya, adalah bahwa di belakang suatu pemerintahan yang liberal tentulah terdapat masyarakat yang liberal."

Mereka yang memperjuangkan kebebasan mengira bahwa pemerintahlah musuh utama mereka, kata Mill, dan mengira bahwa mereka telah memenangkan perjuangan pada saat mereka berhasil melepaskan pasungan pemerintah. Padahal, mayoritas dapat melakukan tirani yang sama parah seperti pemerintah, dengan memaksakan pendapat kolektifnya terhadap individu:

Dibutuhkan juga perlindungan terhadap tirani pandangan dan perasaan yang berlaku umum; terhadap kecenderungan masyarakat untuk, melalui cara-cara lain selain hukum-hukum perdata, memaksakan gagasan-gagasan dan praktek-prakteknya sendiri sebagai aturan main bagi mereka yang tidak sependapat; untuk membelenggu perkembangan, dan jika mungkin, mencegah terbentuknya kemandirian yang tidak selaras dengan cara-cara yang berlaku umum, dan mengiring kebhinekaaan karakter ke dalam model karakter yang berlaku umum.


Argumen itulah yang melandasi pendirian Mill tentang kebebasan berpendapat. Kebebasan bukan hanya sekedar jalan menuju kebahagiaan individual; kebebasan itulah landasan bagi semua kebahagiaan.

Hanya lewat kebebasanlah seorang individu dapat mencapai puncak potensinya. Jika mayoritas membungkam minoritas satu orang saja, mayoritas tersebut boleh jadi membungkam kebenaran. Bahkan suatu pendapat yang keliru pun mungkin saja mengandung sebutir kebenaran yang diperlukan untuk menemukan seluruh kebenaran. Mill menulis bahwa sekalipun kebenaran, orang tidak meyakininya berdasarkan rasionya, melainkan sebagai suatu prasangka kecuali bila mereka dalam keadaan terpaksa untuk membelahnya. Jika kebenaran tidak diuji, pendapat-pendapat akah kehilangan vitalitas serta pengaruhnya terhadap watak dan perbuatan.

John Stuart Mill hidup lebih dari seratus tahun yang silam, tetapi pendapat-pendapatnya masih juga mengandung kebenaran untuk masa kini. Mill merupakan salah seorang yang masih sering dibicarakan oleh para filsuf terkemuka dan mungkin oleh Anda juga.

#Catatan6#

Karya : Joepri Adi