Adakah yang Lebih Membahagiakan Selain Kenaikan Gaji?

Johan Saputro
Karya Johan Saputro Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Februari 2016
Adakah yang Lebih Membahagiakan Selain Kenaikan Gaji?

Bulan Februari, bagi sebagian besar karyawan yang bekerja di perusahaan identik dengan kenaikan gaji. Hal ini berkelindan dengan?trend?regulasi tentang standar Upah Minim Regional atau Upah Minimum Kabupaten (Kota) yang setiap tahun meningkat. Tentu saja kenaikan gaji disambut dengan suka cita oleh para karyawan. Tak terkecuali juga saya. :)

Kenaikan gaji tentu momen yang ditunggu-tunggu. Ia merupakan sebuah berita yang menggembirakan (Good News), sekaligus suatu realita yang menyenangkan. Ia ibarat oase di padang gersang. Menyenangkan tersebab seiring bertambahnya nominal angka yang tertera di saldo buku tabungan, itu menandakan bahwa apa-apa saja yang dulu tersimpan rapat sebagai 'kebutuhan' terselubung--lebih?tepatnya 'keinginan-keinginan'--berpeluang besar untuk segera dapat diejawantahkan menjadi kenyataan. Singkatnya, kenaikan gaji berarti "bisa belanja pol-polan". Menyenangkan bukan? :)

Pernyataan di atas merupakan serangkaian pernyataan yang diambil dengan sudut pandang dampak kenaikan gaji terhadap sisi konsumsi. Lantas bagaimanakah dampak kenaikan gaji jika dilihat dari sisi produktifitas (performance) kerja? Bisa jadi, bagi sementara orang kenaikan gaji mampu memantik mereka menjadi lebih produktif dan bersemangat dalam bekerja. Namun bisa juga, bagi sementara orang yang lain kenaikan gaji tak memberi dampak signifikan terhadap produktifitas dan semangat kerja mereka. Mereka bekerja ya gitu-gitu aja?sebagaimana yang mereka lakukan sebelum terjadi kenaikan gaji.?

Kenaikan gaji, sekali lagi memang momen yang begitu menyenangkan, dan tak jarang memotivasi kita untuk bekerja dengan lebih giat dan matang. Namun di luar kenaikan gaji yang begitu menyenangkan, ada hal yang barangkali lebih penting dan berpotensi meningkatkan produktivitas kita dalam bekerja sekaligus memberikan kita kebahagiaan. Adalah, bagaimana kita sanggup "memaknai hakikat pekerjaan" yang kita lakoni. Socrates pernah berujar bahwa "Hidup yang tak dimaknai tak layak disebut hidup", pun demikian dengan pekerjaaan.

Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh Martin Luther King. Pejuang kemanusiaan ini pernah berkata:

"Jika seseorang diberi tanggung jawab untuk menjadi penyapu jalan, ia harus melakukan tugasnya seperti apa yang dilakukan oleh pelukis Michelangelo, atau seperti Beethoven mengkomposisikan musiknya, atau seperti Shakespeare menulis sajaknya. Ia harus menyapu jalan sedemikian baiknya, sehingga semua penghuni surga dan bumi berhenti sejenak dan berkata, di sini hidup seorang penyapu jalan jempolan yang melakukan tugasnya dengan baik".

Saya pikir, kenaikan gaji hanyalah faktor stimulan (motivator) yang berasal dari luar diri kita. Kita tahu, faktor stimulan motivasi yang berasal dari luar itu kecenderungannya "isuk tempe sore dele" (pagi tempe sore kedelai). Ia hanya hangat-hangat tahi ayam, hanya sebentar saja kita begitu bersemangat, sesudahnya itu kita kembali ke mode lama: malas, nggresula, sambat, berkeluh kesah, dan sebagainya.

Oleh karena itu,?kita perlu menumbuhkan suatu motivasi kerja yang sumbernya dari dalam diri kita. Barangkali salah satunya adalah bagaimana kita "memaknai" pekerjaan yang kita lakoni. Jika seorang tahu makna pekerjannya, sekecil apapun perannya, seremeh apapun tugasnya, tentu dia pasti akan melakukan pekerjaan dengan penuh kesungguhan dan rasa bangga. Dan yang terpenting dia akan membuat pekerjaanya penuh arti, bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi perusahaannya.

Selamat menikmati kenaikan gaji, selamat memaknai hakiki pekerjaan.. :)

Dilihat 152