"Hoahm".. Awas! Menguap itu Menular!

Johan Saputro
Karya Johan Saputro Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Februari 2016

Kemarin hujan sudah mengguyur sejak pagi-pagi sebelum, bahkan hingga saat-saat jam berangkat pergi sekolah atau kerja. Ada beberapa orang yang terpaksa menghentikan laju sepeda motor dengan raut muka yang kesal untuk sekadar ?berteduh. Ada sebagian lainnya yang memaksakan diri sembari menggerutu untuk terus menerjang rintik deras airnya.

Saya di antara keduanya: mulanya berteduh karena begitu derasnya, namun ketika melihat jam tangan, ternyata jarum panjang dan pendek sudah menunjukkan waktu yang sudah semakin dekat dengan ?thet? jam masuk kerja, dengan terpaksa saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Sebab terlambat berarti hangusnya tunjangan makan dan transportasi sehari. He.. he.. he

Sesampainya di kantor suasana masih begitu sepi. Hanya ada tujuh orang yang sudah berada di sana. Jika tidak sepagi ini hujan, biasanya di jam yang sama sudah terkumpul dua puluh tujuh orang di sana, dengan kesibukannya masing-masing.

?Pagi Pak P?, sapa saya.

?Hoahm..?, ku dengar Pak P menguap.

?Wah.. ngantuk Jon, suasananya cocok untuk tidur kemulan rapet?, kata Pak P.

?Huaaa..hoahm..?, lanjut Pak P menguap panjang, seolah-olah ingin menunjukkan betapa mengantuknya beliau ini.

Entah ada hubungannya atau tidak, menguap biasanya diidentikkan dengan rasa kantuk yang menyerang. ?Meski sakjane tidak setiap kita menguap kita lantas terus tidur ?kan?

?Menurut teori kedokteran, kita menguap karena level oksigen dalam paru-paru kita rendah. Dalam paru-paru terdapat gelembung-gelembung alveoli. Jika tidak mendapat udara segar dalam jumlah cukup, gelembung itu akan kempes seperti balon kekurangan gas. Sebagai akibatnya, paru-paru akan "kejang" sedikit. Untuk mengatasinya otak kita memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu, di antaranya adalah menguap, agar lebih banyak udara masuk ke dalam paru-paru?, begitu kata Prof. Yohanes Suryadi, PhD di situs pribadinya.

?Huahm..?, gantian saya yang menguap.

Tak berselang lama, gantian Bu T ikut-ikutan menguap.

?Huahmm? Iya ya, ini cuacanya bikin malas saja?huahm..?, ungkap Bu T.

Barangkali menguap itu menular dan penyebarannya tak bisa dikendalikan. Apa benar menguap itu menular?

Portal berita online Republika.co.id pernah melansir sebuah artikel bahwa menguap itu benar menular. Republika.co.id menyandarkan fakta ini berdasar laporan hasil studi yang dilakukan Guru Besar Psikologi di Universitas Dexter, Philadelphia, Amerika Serikat (AS), Steven Platek.

Laporan hasil studi Platek mengungkapkan bahwa menguap bisa menular karena adanya efek empatetik dalam aktivitas tersebut. Proses menguap itu, kata dia, mirip dengan tertawa. Saat ada satu orang tertawa dalam sebuah kerumunan, biasanya bakal muncul orang lain yang memberikan respons dengan tertawa juga.

"Efek penularan menguap bukan hanya muncul dari penglihatan, tapi juga bisa muncul dari pendengaran, membaca artikel tentang menguap, atau bahkan berpikir tentang menguap," tutur Platek, sebagaimana dikutip Republika.co.id.

Terlepas dari benar atau tidakkah secara ilmiah bila menguap itu menular, dalam tulisan ini, didasarkan pada bukti bahwa kemarin pagi, bermula dari Pak P yang menguap, kemudian menjangkiti saya, lalu menyerang Bu T, hingga kemudian mewabah kepada sebagian besar orang yang pagi itu ada di kantor, maka saya simpulkan tanpa dalil ilmiah bahwa menguap itu menular.

Barangkali seperti menguap, semangat?antusiasme?pun bisa menular (ditularkan). Begitu juga sebaliknya, ?sikap apatis dan pesimis juga bisa menular (ditularkan).

Begini. Selama kita bekerja atau dalam pergaulan sosial sehari-hari, tentu kita pernah merasakan dan mengalami hal-hal yang menyenangkan, menggairahkan, mem-bete-kan menyebalkan, atau bahkan menyedihkan.

Kadang-kadang kita mengalami, masa-masa dimana tingkat kebosanan meningkat teramat tajam. Rutinitas bekerja ?menjadi sesuatu yang membosankan dan membebani. Di saat itulah, daya kreatifitas kita ?memble?. Kita menjadi sesosok orang yang pemurung. ?Aura negatif kita itu terpancar dan kemudian sebagaimana energi, ia turut mengalir bersama-sama gelombang udara, dan lalu tertangkap oleh sinyal-sinyal yang ada di tubuh rekan-rekan kerja kita. Mereka pun kemudian nampak terlihat murung dan menyebalkan. Akibatnya lingkungan kerja kita menjadi begitu tidak menyenangkan, membosankan, bahkan terasa memuakkan. Waktu berjalan seolah begitu lambat sampai-sampai kita mampu mendengar bunyi setiap gerakan ?tik-tok? detiknya.

Namun kondisinya akan jauh berbeda bila kita mengalami masa-masa di mana kita begitu bersemangat dan penuh antusiasme dalam diri kita. ?Kita berangkat bekerja dengan penuh keceriaan. Saat bekerja, kita menunjukkan perasaan senang hadir, begitu penuh keramahan dan senang memberi kontribusi pada tim. Aura positif kita itu terpancar dan kemudian sebagaimana energi, ?ia turut mengalir bersama-sama gelombang udara, dan lalu tertangkap oleh sinyal-sinyal yang ada di tubuh rekan-rekan kerja kita. Rekan-rekan kerja menjadi nampak menyambut kita dengan rasa senang. Bahkan bersama mereka kita turut mencintapkan lingkungan kerja yang begitu mendukung kita untuk bertumbuh kembang dan ?wow? hari-hari kerja yang ?kita lalui begitu indah dan menyenangkan, hingga kita pun malas rasanya untuk pulang lebih awal.

Ya.. barangkali seperti menguap, semangat?antusiasme?pun bisa menular (ditularkan). Begitu juga sebaliknya, ?sikap apatis dan pesimis juga bisa menular (ditularkan). ??To be enthusiastic, we have to act enthusiastic?. Untuk menjadi orang yang antusias, kita harus bersikap antusias!

?Hoahm..?

  • view 152