Hujan dan Kisah Lainnya

Johan Saputro
Karya Johan Saputro Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
Hujan dan Kisah Lainnya

Apa yang ada di dalam pikiran ketika hujan turun di pagi hari?

Barangkali hujan tidak berarti apa-apa. Hujan adalah hujan, dan tetap akan menjadi begitu. Dengan atau tanpa hujan, waktu akan terus berputar, menggilas segala yang dilalui dengan begitu pongahnya.

Ya.. hujan adalah hujan, dan tetap akan menjadi begitu. Sekiranya ada yang berubah, pun hanyalah kaca jendela kamar yang mulai berembun, sebatas suhu udara yang mendingin, atau ricik air yang terdengar lantang di tengah menurunnya intensitas deru kendaraan yang lalu lalang.

Apa yang ada di dalam pikiran ketika hujan turun di pagi hari?

Barangkali, kita akan kembali menelungkupkan badan, berselimutkan sarung, kain "jarik", atau apa saja yang membuat kita merasa hangat. Hujan di pagi hari menjadi pembenaran yang shahih bagi kita untuk bermalas-malasan.

Apa yang ada di dalam pikiran ketika hujan turun di pagi hari?

Barangkali adalah tentang seonggok gerutuan tersebab kehadirannya mengacaukan agenda yang telah kita persiapkan. Lantas kita pun mengawali hari dengan kemurungan, dan bakal menutup hari dengan penuh kekesalan.

Apa yang ada di dalam pikiran ketika hujan turun di pagi hari?

Barangkali hujan bisa berarti apa-apa. Seperti, "Di balik hujan telah tercipta satu kenangan", kata Dian Pieshesa. Atau, "..air ini punya tujuan ketika turun..memberi harapan disetiap tetes mengalun..ini waktu yang tepat untuk kita bertemu..saat air langit menutup jejak rindu..", kata Fade 2 Black. Pun seperti katamu A, "Hujan adalah 10% air, dan 90% kenangan".

Meski peristiwanya sama, ternyata hujan mampu memunculkan beragam pandangan dalam pikiran orang.?Setidaknya yang saya tangkap ada dua persepsi besar tentang hujan. Pertama hujan, secara kasat adalah persoalan air yang turun dari langit, yang membawa kesejukan (dalam tahap tertentu sampai pada level kedinginan). Dan kedua, secara batini, ia--hujan--diyakini mampu menumbuhkan harapan, dan adakalanya ia tak jarang memantik kita untuk berada dalam suatu kondisi yang terngiang-ngiang pada suatu kenangan.

Kenangan sendiri menurut KBBI, adalah (1)?sesuatu yang membekas dalam ingatan; atau (2) kesan dalam ingatan/pikiran. Merujuk pada definisi KBBI tersebut, ternyata kenangan tidak melulu (identik) menyoal romantika asmara masa lalu. Kenangan sebagai suatu kesan yang membekas diingatan bisa saja terkait pada persahabatan, lika-liku pendidikan, atau bisa pula terkait kenangan pada pekerjaan yang dilakoni.

***

Pagi tadi, hujan sempat turun untuk beberapa saat. Bukan hujan lebat memang, hanya gerimis yang begitu rapat mengguyur. Kondisi yang syahdu sekaligus potensial sekali menggugah kemalasan (dan kenangan tentu saja). Apalagi, hari ini adalah hari Minggu.

Sebagai karyawan perusahaan swasta dengan jadwal 6 hari kerja, hari Minggu tentu saja menjadi hari yang begitu benar-benar ?agung?, "Holy Day". Ya hari yang begitu mewah bagi saya. Saya pun memilih merayakannya dengan mengaktifkan mode "malas". Saya tak lekas beranjak dari tempat tidur, bermalas-malasan, memberikan kesempatan pada tubuh memanjakan dirinya dengan cara yang sederhana: rebahan menatap langit-langit kamar, membiarkan pikiran mengembara entah ke mana, diiringi lantunan lagu-lagu bertempo sedang.

Tak hanya menggugah kemalasan, hujan pagi ini pun mengingatkanku pada obrolan semalam antara aku dan dengan temanku, sebut saja dia A. Semalam A menceritakan padaku bahwa ia berencana untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ya.. ia berencana untuk resign, karena sudah merasa tidak nyaman dengan perlakuan atasannya yang suka memberikan tugas tambahan, yang menurut A, sebenarnya itu bukanlan jobdesk-nya.

?Jon, aku tadi kena semprotan BM (Brach Manager)?, kata A?via telepon.

?Hloh kenapa A??, tanyaku.

?Sebulan yang lalu aku diberi tugas tambahan untuk mem-follow-up supplier-supplier terkait penerimaan angsuran-angsuran nasabah yang bekerjasama dengan kantorku, sedari awal aku sudah memprediksi ini nanti bakal rumit, selain ini bukan jobdesk-ku, melainkan tugas Supervisor, karena tugas ini juga bersinggungan dengan divisi lain yang bisa menimbulkan konflik internal, dan benar saja Jon, terjadi suatu masalah dan tadi aku dimarahi habis-habisan sama Bos. Aku mau resign saja Jon.?, ungkap A.

?Kau sudah yakin dengan rencanamu? Menurut rumor, lagi musim PHK hlo? Tenangin dulu pikiran dan perasaanmu sebelum memutuskan. Cari pekerjaan susah..?, ujarku.

Sebagaimana yang dialami A, saya pun pernah dan sering mengalami hal yang serupa. Sebagai seorang karyawan berlevel staff yang memiliki atasan, tak jarang saya pun diberikan tugas tambahan oleh atasan-atasan saya.

Ada tugas-tugas yang ?berat? dan lebih banyak lagi tugas-tugas yang menurut saya sepele. Jika mengacu pada job description, tentu saja tugas tersebut tidak masuk dalam tupoksi saya, melainkan tugas atasan saya. Barangkali saking sibuknya, beliau mendelegasikan tugas itu pada saya.

Apa yang saya rasakan ketika mendapat tugas-tugas tambahan tersebut?

Kadang saya merasa "anyel" (kesal) juga. Sebab pekerjaan saya sendiri saja sudah overload, apalagi ditambah-tambahi pekerjaan-pekerjaan lain yang itu bukan jobdesk saya. Tentu hal ini hanya menambah-nambahi beban kerja saya. ?Beban kerja nambah, tapi gaji ngga nambah, ini namanya kerja bakti?, pikir saya begitu sebal.

Tapi tak selamanya saya menerima pekerjaan tambahan tersebut dengan perasaan dongkol. Adakalanya saya merasa begitu bersemangat ketika diberi tugas tambahan. Sebab, saya memandang pekerjaan-pekerjaan ini sebagai kesempatan mengembangkan diri, ?Ya.. ibaratnya saya diberi kesempatan untuk ?icip-icip? mengerjakan pekerjaan-pekerjaan seorang atasan?, pikir saya.

Sementara saya berkutat dengan dinamika perasaan saat menerima pekerjaan tersebut, atasan saya sepertinya tak begitu peduli perkara perasaan saya itu. Beliau hanya peduli pada hasil akhir, bahwa tugas yang ia dilegasikan padaku telah terselesaikan semua, dan pas pada waktunya.

Dari pengalaman-pengalaman mengerjakan tugas-tugas tambahan inilah saya bisa sedikit memahami nasihat Charles Swindoll yang sering banyak dikutip: ?Hidup kita ditentukan oleh hanya 10% saja peristiwa yang menimpa kita. Sebanyak 90%-nya adalah cara kita bereaksi atas yang 10% itu?.

Sebab melalui tugas-tuga tambahan ini, saya merasakan sendiri bagaimana sikap kita dalam menyikapi suatu hal (masalah) cenderung menentukan hasil akhir dari hal (masalah) tersebut. Misalnya saja, ketika saya mengerjakan pendelegasian tugas tersebut sebagai beban, saya mengerjakannya dengan "leda-lede"?tidak sepenuh hati?hasilnya malah kena "semprotan" atasan. Sedangkan, ketika saya mengerjakan sebagai suatu kesempatan untuk "grow up", saya mengerjakan dengan sepenuh kesadaran, dan hasilnya mendapatkan apresiasi positif.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10.40. Sudah tiada terdengar lagi bunyi gerimis. Udara di kamar sudah tidak begitu dingin, malah cenderung gerah. Sementara celoteh tulisan ini masih belum jelas ujung pangkal dan korelasi kalimat per kalimatnya.

Barangkali dalam keseharian kita nanti, kita sering dihadapkan dengan beragam masalah-masalah. Ya..yang namanya masalah mau diolah dengan teori apapun, dalil apapu, fatwa apapun, nasihat bijak apapun, tetap saja menghadirkan rasa kesal, dongkol, tidak mengenakkan hati, dan sebagainya. Meski begitu, seperti kita yang bisa memunculkan banyak cara pandang tentang hujan, semoga jika kita dihadapkan pada masalah, kita pun bisa memunculkan beragam cara pandang dalam menyikapinya. Sebab cara pandang, "what you see", akan mempengaruhi apa yang akan kita lakukan, "what you do", dan akhirnya ia berpengaruh pada hasil apa yang kita terima, "what you get". Toh misal, sekalipun cara pandang kita tak menyelesaikan masalah, setidaknya ia bisa mengurangi ?beban psikis? yang kita tanggung.

?

  • view 241