Pikiran dan Hal-Hal yang Membebani

Johan Saputro
Karya Johan Saputro Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 Februari 2016
Pikiran dan Hal-Hal yang Membebani

Setelah siang berkutat dengan segala penat, akhirnya malam pun tiba juga. Terang telah digantikan dengan gelap yang keramat. Burung-burung yang berkelana di siang hari, kini memanjakan dirinya dengan beristirahat di dahan-dahan pohon yang sedikit basah setelah sore tadi bumi diguyur hujan. Mereka dengan ikhlas telah memberikan kuasa ruang dan waktu pada jangkerik. kelelawar, dan serangga-serangga malam lainnya. Kini, mereka bergantian berebut menyita perhatian manusia.

Tidurlah...malam terlalu malam...

Tidurlah...pagi terlalu pagi...

Lantunan lagu Payung Teduh terngiang-ngiang mengalun di dalam kepala. Tidur? Meski mata sudah tinggal 5 watt dan rasanya sudah terasa begitu berat untuk terjaga, namun tidur menjadi sesuatu yang begitu sulit ketika kepala masih menyimpan banyak pikiran.

Kita bisa mengistirahat badan kita yang begitu lelah dengan rebahan barang sebentar, pijat, dan sebagainya, tapi bisakah mengistirahatkan diri kita dari aktivitas berpikir atau kepikiran akan suatu hal? Kita mungkin bisa menekan diri kita untuk tidak memikirkan suatu hal, tetapi bukankah yang sering terjadi justru apa yang kita 'tekan-tekan' saat kita dalam kondisi kesadaran penuh itu justru hadir terang benderang ketika kita tertidur,?bergerak lengkap dengan mimpi-mimpinya. Jadi bisakah kita membebaskan diri dari berpikir?

***

"Jon, kamu pernah mengamati pemulung ketika mereka memunguti sampah?", tanya Keisha.

"Jika sekadar melihat pernah, tapi kalau mengamati belum pernah", jawabku. "Emangnya kenapa?", tanyaku balik.

"Jika kau amati, tidak semua sampah dipungut oleh para pemulung. Mereka hanya mengambil sebagian saja yang benar-benar masih memiliki nilai guna, dan membiarkan sisanya di keranjang sampah", ujarnya.?"Kamu, kita, bisa belajar dari para pemulung itu Jon, bahwa tidak semua hal harus kita pikirkan (begitu serius). Kita hanya perlu mengambil dan memikirkan sebagian kecil dari keseluruhan kenyataan yang mengelilingi kita, meninggalkan lainnya yang tak perlu, lalu menikmati alunan simfoni dari sebagian yang sedikit itu", lanjut Keisha.

"Ouh, maksudmu, dalam berpikir pun kita harus membuat skala prioritas gitu?", tanyaku mengkonfirmasi.

"Nhah.. kau paham! Terlalu banyak berpikir hanya sebagian saja yang membuat kita bijak, sebagian lainnya lagi membuat kita jadi pengecut", ujar Keisha.

***

Menyikapi gerak pikiran yang begitu liar dan susah dikendalikan bagai kuda binal itu, bahkan ketika kita sudah merebahkan diri di kasur dan bersiap untuk tidur, saya jadi teringat perbincangan dengan Keisha beberapa hari lalu ketika makan siang saat jeda kerja. Waktu itu kami kebetulan melihat pemulung sedang memunguti sampah di keranjang sampah. Lalu Keisha mulailah memberikan fatwa-fatwa bijaknya.

Ya..barangkali yang Keisha katakan benar dan berguna, bahwa kita (memang) hanya perlu mengambil dan memikirkan sebagian kecil saja dari keseluruhan kenyataan yang mengelilingi kita, memilah-milahnya mana yang berguna dan kurang berguna, mana yang layak didahulukan dan mana yang bisa ditunda dan meninggalkan sementara lainnya yang tak perlu, dan lalu menikmati alunan simfoni dari sebagian yang sedikit itu.

Tak terasa, sudah jam satu lewat dua satu..?

Tidurlah...malam terlalu malam...

Tidurlah...pagi terlalu pagi...