Oh, Ternyata

Jimmy SMudya
Karya Jimmy SMudya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2017
Oh, Ternyata

 

Di warung kopi tempatku sering nangkring, ada seorang pria yang ubannya bergaris tepat di belahan tengah rambutnya yang mirip potongan Andy Lau. Kalau dilihat dari bentuk kulit wajahnya yang pas-pasan itu, perkiraanku usianya sudah lebih dari tiga puluh lima tahun. Setiap aku tiba, sudah dapat kupastikan meja bernomor lima itu sudah diduduki oleh si cungkring itu. Aku sangat hafal, bahkan dari kejauhanpun aku tahu, pasti itu si Andy Lau. Sebab, ia pasti mengenakan kemeja kotak-kotak dan jelana jeans biru lalu mengenakan ikat pinggang kulit yang mungkin usiannya juga sudah belasan tahun. Tidak hanya itu, ada karakter yang lebih menguatkan lagi untuk memastikan bahwa dia adalah Andy Lau yaitu kepalanya tidak pernah diam ketika menghadap handphone layar datarnya  dengan tali headphone pink itu.

Sering sekali kuperhatikan dan bisa jadi bukan hanya aku sendiri yang terpusat padanya. Sebab, dia memang beda dan berani tampil benda. Hari ini, aku akan menjawab semua rasa penasaranku terhadap gerak tingkah si Andy Lau. Aku harap yang membaca tulisan inipun akan tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Hari ini, Andy Lau kelihatan seperti pengintai.  Gerak-geriknya sungguh mencurigakan seperti sedang sangat merahasiakan apa yang sedang disaksikannya. Tapi, ada lagi yang lebih membuat buyar tebakanku. Ketika ia sedang melihat perempuan cantik dan bohay di sekitarnya. Ia seperti ayam jantan yang sedang memamerkan rambut jadulnya yang bergaris putih itu. Setiap ada perempuan cantik dan bohay, sudah pasti dia tersenyum lebay meskipun si perempuan itu menjawabnya dengan cibiran. Tapi, tetap percaya diri. Seperti seorang cover boy.

Kembali ke topik awal. Saatnya aku duduk di kursi sepuluh yang tepat di belakang Andy Lau.

“Permisi, Pak.” Sapaku.

“Ia, silahkan.” Jawabnya sambil tersenyum.

“oh, ternyata ini orang giginya ompong toh...pantas saja banyak yang tertawa ketika di sapa” bisikku dalam hati.

Sesudah pesanan kopi susuku tiba, kulihat Andy Laupun fokus pada layar datarnya. Headphonnya sudah terpasang. Detektifpun mulai beraksi. Aku mulai menghitung dalam hati lalu menoleh ternyata orang-orang di sekitarkupun melakukan hal yang sama.

Wah ternyata, yang berniat untuk mencari tahu apa yang dilakukan Andy Lau itu tidak hanya aku. Tetapi lebih dari lima orang pengunjung. Kamipun tertawa nyaring, tapi si Andy Lau tetap asik menyimak tontonannya. Melihat konsentrasi si Andy Lau sudah tak menghiraukan orang di sekitarnya. Kamipun berdiri mendekatinya, mengintip dari sela lehernya yang bergoyang berputar-putar sambil terpejam.

“Oh, ternyata.....”

 

  • view 126