Tentang, May

Jimmy SMudya
Karya Jimmy SMudya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2017
Tentang, May

Ini bukanlah persoalan kebetulan, tapi cinta membuat semua logika pertimbangan mati, dan kita dipaksa untuk tidak sadar bahwa kita sedang berada dalam lingkaran itu. Aku tidak mengatakan bahwa hidup adalah sebuah jebakan, tapi entah kenapa cinta memang seperti jerat yang membuat kita terikat dan mau tidak mau kita menjadi mahkluk yang harus siap menerima apapun resiko diakhir sebuah pilihan.

Dua ribu tiga belas tepatnya di bulan September, aku bertemu May. Aku jatuh cinta padanya, ini hanya berawal dari pandangan pertama yang tergambar bahwa dia adalah perempuan yang sederhana. Seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta, hari-hariku ingin selalu bersama, May. Tak butuh waktu lama, hubungan cintaku terjalin begitu indah. Kami selalu berbagi cerita suka dan duka. Hari senang pun susah kami lewati bersama. Sampai suatu ketika, ia bercerita tentang kehidupan keluarganya yang pernah retak ketika ia masih kecil. Orang tuanya memilih berpisah dan ia ikut ibu kandungnya yang sejak ia sekolah dasar telah memilih menikah lagi. Hidup di keluarga yang baru, sampai kami menjalin hubungan. Orang tuanya tak mengijinkan ia untuk bertemu apalagi untuk mengetahui siapa sebenarnya ayah kandungnya.

“kamu tahu siapa nama orang tuamu?”

Dengan wajah polos, ia menunjukan selembar foto yang sudah kekuning-kuningan oleh usia. Foto seorang pria berambut sebahu di atas motor honda CB berwarna merah. Selembar foto yang sudah digunting separuh, dan entah siapa yang berada di samping pria itu. Di balik foto itu tertulis nama pria itu.

May memelukku, lalu kedua tanganku memeluknya pula dengan sangat erat. Seperti airmatanya, begitu pula rasa sakit itu mengiris hatiku. Ku tatap matanya yang basa, kuusap lalu kuciumi keningnya.

“Aku berjanji, aku akan mempertemukan kamu dengannya. May, aku akan buktikan rasa cintaku padamu bukan semata ucapan. Aku akan selalu ada dalam susah sedihmu.”

Malam itu, yang selalu dalam pikiranku adalah janjiku padanya. Aku harus menemukan pria itu. Sebagai manusia, aku merasakan betul bagaimana rasa rindu yang ada dalam hati seorang anak yang terpisah selama dua puluh tahun. Seorang ayah yang mengalirkan nafas kehidupan padanya, yang ia tak pernah tahu kabar bahkan kondisi apakah masih hidup atau sudah tiada. Dengan keterangan seadanya, kuhubungi sahabat-sahabatku sampai aku menemukan sebuah tempat yang menjadi tempat hidup keluarga kecil mereka dahulu.

Tiga hari kemudian tepatnya Jumat malam, aku mengunjungi May. Aku mengajaknya untuk berangkat diam-diam dan May menyetujui. Malam itu, May beralasan menginap di rumah sahabat kuliahnya untuk mengerjakan tugas kuliah. Lalu, keesokan harinya, sebelum ayam jantan berkokok. Kami memulai perjalanan menuju suatu tempat yang sama-sama belum pernah kami kunjungi. Ia memeluk erat tubuhku dari belakang. Sepanjang jalan, hampir tidak ada cerita lain selain ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberi petunjuk atas cita-cita yang sudah lama sekali ingin May wujudkan. Dengan uang seadanya, kami makan seadanya, dan terus melanjutkan perjalanan. Tak terasa sudah enam jam perjalanan, tapi desa itu belum juga tampak. Tapi, kami tak berputus asa.

Matahari mulai menyengat, kerabat yang kami hubungi sudah mengatakan bahwa desa yang kami tuju sudah dekat. Ia sudah menunggu kami di tepi jalan raya lalu melambaikan tangannya. Aku dan May turun dari motor dengan membawa ole-ole seadanya yang kami beli ketika singgah di jalan. Tanpa kami duga, ternyata di rumah itu ada keluarga May dari pihak ayah kandungnya yang sudah menunggu. Semua menyalami, dan aku mulai tak sanggup membedakan bahagia dan sedih. Aku tertawa, tapi airmataku tak sanggup lagi kusembunyikan. Begitu juga dengan May.

Di ruang tamu, aku melihat seorang pria kurus berkaca mata sedang duduk.

“Saya ini, om kamu May. Bapakmu adalah abang saya.”

Tanpa sungkan, May langsung menciumi tangan beliau dan mencurahkan semua kesedihanya. Rasa haru pecah di rumah itu. Sanak saudara yang juga hadir di sana pun turut meneteskan airmata dan memeluk May. Bermacam ragam cerita yang tertutur dari mulut-mulut di sana. Ada kabar baik, ada juga kabar buruk.

Hari semakin petang, kopi yang disungukan belum juga kami sentuh. Om itu langsung menarikku ke belakang ketika May sedang melepas semua rindunya menemui keluarga kecilnya.

“Kamu siapanya, May” tanya om.

“Saya kekasihnya, Om.”

“Begini, orang tua May ada di lantai dua. Tapi”  tiba-tiba Om melepas kacamatannya dan mengusap airmatanya.

“Ada apa, Om?”

“Bapak, May. Stres. Dia tidak normal lagi. Tadi Om sudah coba untuk mengajaknya turun. Tapi dia tidak suka keramaian, saya khawatir dia kambuh.”

Mendengar pernyataan itu, hatiku rasanya diremas keras sampai sulit menarik napas. Aku sadar ini bukanlah kabar yang baik bagi May. Ini akan membuatnya sangat terpukul jika ia sampai tahu bahwa orang tuanya tidak waras.

“Begini, saya coba ajak lagi ya...tunggu sebentar” dengan wajah lesu.

May mendekatiku, tampaknya dia mulai gelisah ingin bertemu orang yang sangat ia cintai. Sedang aku, memandangi mata orang-orang yang berada disekitar kami. Mereka menatapku begitu tajam. Menahan rasa sedih, seakan tak mau menyaksikan pertemuan itu. Pantas saja ketika pertama kali kami turun dari motor, tampak wajah mereka begitu hilang semangat. Antara bahagia namun tak sepenuhnya.

Dari pintu belakang, Om keluar dengan seorang pria berambut lurus yang diikat dengan karet gelang. Pria itu tegap, bersih, dengan kaos kuning. Ia tidak tersenyum, tapi tidak juga marah. Ia mendekat, namun seperti tidak menyukai keramaian. Pria itu duduk tak jauh dari hadapanku dan May.

“May, ini bapakmu.” Om mengucapkan terputus-putus.

May, memeluk dan memanggil Bapak berulang kali. Tapi tak ada jawaban bahkan pelukan balasan darinya. Orang-orang di sekitar tidak ada yang tidak menangis.

“Ini May, Pak! Ini anak Bapak! Maafkan May pak. May tidak tahu harus menemui Bapak di mana! May rindu sama bapak!”

Pria itu tetap saja duduk tegak dengan kedua tangan tak bergerak apalagi membalas rangkulan, May.

“Bapak marah ka? Kenapa bapak tidak bicara? Bapak tidak rindu sama, May?” May mulai menjerit namun semakin memeluk.

Akupun menarik May kepelukanku. Karena aku harus memberitahu dia yang sebenarnya tentang orang tuanya.

“May, Bapak tidak seperti dulu. Menurut keterangan Om, bapak tidak seperti orang biasa. Bapakmu mengalami stres atau tidak waras” bisikku di telinganya.

Mendengar penjelasanku, May kembali merangkul Bapaknya, ia melihat koreng di kaki bapaknya. Ia mengusap wajah bapaknya. Sambil mencoba mengembalikan ingatan Bapaknya.

“Bapak punya anak?” tanya May.

“Punya” jawab pria itu tanpa memperhatikan sedikitpun wajah May.

“Siapa namanya?” tanya May lagi.

“May Lestary”

“ini anak bapak, ini May Pak. Bapak masih ingatkan? Aku sudah besar, Pak. Bapak!...”

Melihat percakapan itu, terlintas dalam benakku bahwa pria itu sebenarnya tidak gila. Tapi, dia sedang mengalami stres yang dalam karena perpisahan dengan istrinya. Mungkin, setelah peristiwa itu ia suka termenung dan menyendiri. Atau menunjukan sifat-sifat tak wajar yang membuat orang menganggapnya gila. Ia seperti terkucil di kampung itu.

***

Inilah peristiwa paling mengharukan antara aku dan May. Sepulang kami dari sana. Kami hubungan cinta kami semakin kuat. Aku, bahkan May sudah berpikir tentang masa depan yang gemilang untuk dapat hidup bersama.

          Beberapa minggu kemudian sepulang dari makan sore. May mengeluh perutnya mules. Aku mengantarnya segera ke rumahnya. Lalu memintanya untuk beristirahat. Jarak tempat tinggalku cukup jauh dari May. Malam itu aku sangat gelisah, berkali-kali kuhubungi namun tak ada jawaban. Kukirimi pesan singkat, namun tak jua mendapat jawaban. Hingga tengah malam aku tak bisa tidur, ada rasa khawatir yang dalam.

          “May.....” telponku dijawab tapi hanya terdengar suara tangis.

          “Aku ke sana sekarang,” tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumahnya.

Setengah jam perjalanan, aku tiba di depan rumahnya. Kupanjati pagar rumahnya yang terkunci. Lalu menggedor rumahnya. May membuka pintu, aku melihatnya tampak sangat lesu dan roboh di hadapanku.

          “Dek! Dek!....” kupanggil adik tirinya.

          Adik tirinya ke luar tanpa mengenakan baju.

          “Abang bawa May ke rumah sakit ya, nanti kamu susul, bawakan pakaian siapa tahu kita menginap di sana” jelasku pada adiknya.

          “May kenapa, Bang?”

          “Dia muntah-muntah dari tadi.”

          Aku melihat May seperti setengah sadar, kupapah menuju motorku lalu kuikat dengan jaketku. Di leherku muntahan May tak kuhiraukan lagi. Bajuku basah, tapi yang aku pikirkan adalah aku harus segera sampai ke rumah sakit dan May harus baik-baik saja.

          Setiba di IGD, aku langsung meminta pertolongan perawat di sana. May masih muntah juga BAB. Berulang kali kami keluar masuk toilet, sampai ia dipasangi infus.

          “Dokter, kenapa dengannya?”

          “Beruntung kamu membawanya cepat, dia hampir kehabisan cairan, barangkali dia keracunan makanan. Jika sampai kamu terlambat membawanya, saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, syukur dia akan baik-baik saja.” Jelas dokter.

          “Dok, aku mohon. Lakukan apapun untuk dia.”

          “Adek tenang saja, silahkan isi buku pasien dulu. Biar saya suntikkan obat dulu agar dia bisa istirahat.”

          ***

Itu peristiwa kedua yang paling aku ingat tentang, May. Tapi, itu bukanlah inti dari cerita yang sesungguhnya yang ingin aku sampaikan kepada semua orang. Hubunganku yang menginjak tahun ketiga, terbentur pada persoalan tentang cintaku dan rasa cintanya terhadapku. Aku mencintai May setulus hatiku, bahkan jiwa dan ragaku juga begitu katanya padaku. Tapi, ada persoalan kecil yang entah bagaimana hebatnya sehingga tiba-tiba begitu mudah merobohkan semua cinta itu. Yaitu masa depan. Ternyata ketulusan dan cinta tak bisa menjadi sebuah jaminan untuk mengarungi sisa waktu hidup di masa mendatang.

Mayku, ya Mayku meninggalkan aku. Ia memilih orang lain dan tak menghiraukan aku. Meskipun aku meyakinkannya, ia tetap kokoh untuk meninggalkanku. Kini, May telah bersama orang lain. Satu kata yang kuucapkan padanya “Aku tidak akan pernah mencintai orang lain, karena seluruhnya telah kuberikan padamu.”

Aku memintanya untuk tidak menemuiku lagi, menghubungiku, bahkan untuk menjalin pertemanan, karena aku tak akan sanggup untuk melihat, mendengar, atau apapun tentang May. Termasuk memintanya untuk tidak lagi menghubungi keluargaku dalam hal apapun.

Ini kisahku tentang, May. Seperti dahulu, aku masih dirundung resah. May selalu mengisi kekhawatiranku, terkadang aku bermimpi ia sedang membutuhkan aku disampingnya, dan aku hanya bisa menangisi cinta yang tercipta antara aku dan May. Kini, aku berada di sini. Di sebuah pintu dengan jiwa yang sendiri. Menunggu Tuhan mengabulkan cinta kita di sorga.

 

  • view 152

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    10 bulan yang lalu.
    Ini kisah nyata mas? Sedih sekali.. ternyata cinta tulus dan pengorbanan belum tentu berbalas dengan jodoh. Salut untuk kawan mas yang mengalami hal ini.

    • Lihat 1 Respon