Cerpen : Puisi Terakhir

Jimmy SMudya
Karya Jimmy SMudya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Desember 2016
Cerpen : Puisi Terakhir

Senja hari, suara Adzan Mahgrib berkumandang dibalut desir hujan. Dari bingkai jendela, mataku tak sanggup beranjak, memandangi lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki. Di sana, di bangku panjang emperan toko yang baru saja tutup. Mereka, entah itu sepasang kekasih atau barangkali suami istri, duduk begitu mesranya. Rambut perempuan itu basah dan kedua tangannya memeluk rapat tubuhnya. Aku merasakan dingin itu, menusuk hingga tulang.
Melihat mereka, serasa aku sedang berada di sana. Rasa sesak, kosong, dan harum tubuh seseorang memeras air kesedihan di bibir mataku. Hanya senyum bungkam yang sanggup mewakili semua kata-kata indah dalam bisik perasaanku. Aku di antara bahagia dan sedih, aku di antara ramai dan sepi. Aku melihat keindahan cinta di sana, dari perlakuan lembut si pria yang dengan sabar mengusap wajah kekasihnya dengan sehelai tisu. Aku ingin berada di sana, menolak manja perhatian si pria itu agar bunga-bunga kemesraan mekar. Perlahan hujan melembut, menetes perlahan dari ujung genteng, melukis wajah tanpa wajah, wajah yang berkata-kata. Aku berbicara padanya.
“desir desir…
bolehkah aku meminta kau lukiskan pada hujan…
suara suara itu….
yangku pinta setiap doaku melangit…”
Aku mendengar suara pintu terbuka, terlintas dalam benakku, seorang pria bertubuh gemuk dan berkacamata tebal, yang selalu setiap petang, masuk tanpa mengetuk pintu, menyalakan lampu kamarku, menutup jendela-jendela, kemudian pergi lagi. Tak lama kemudian ia kembali masuk membawa kursi, duduk di hadapanku mengusap wajahku dengan tisu basah, membasuh tanganku, lalu kakiku.
Tapi, entah kenapa dengannya hari ini, ia berbeda dari sebelumnya. Sebab, setelah membasuh kakiku, ia tidak merapikan rambutku dengan jemarinya yang berbulu. Ia justru ke luar tanpa menutup kembali pintu kamarku. Ia justru membuat suasana hatiku marah. Aku mendengar suara kursi bergeser, kibasan selimut, suara ranjangku, kebasan bantal.
Aku membenci suara-suara itu, mengapa ia tidak mengerti perasaanku? telunjukku hanya bisa mengeras tanpa sanggup kuangkat, bibirku bergetar-bergumam tanpa sepatah kata terucap, jantungku berdetak kencang meradang memintanya untuk berhenti. Kedua kakiku berontak, aku tak bisa menahan kesedihan, mencoba berbicara padanya dengan airmata.
Perlahan ia mendekatiku, duduk bertopang lutut, memandangi tajam wajahku kemudian sambil mengarahkan jempol tangannya yang kasar itu, mengusap pipiku. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku berkali-kali, aku berharap ia mengerti maksudku, lalu ia memelukku gemetar, aku mendengar suara detak jantungnya, aku mendengar nafas yang kasar.
Ia membuka kacamatanya, menatapku dengan penuh senyum sayang. Menempelkan kedua telapak tangannya di kupingku, lalu kemudian menciumi keningku. Di bola matanya tampak binar yang dalam. Aku merasakan bahasa khalbunya begitu akrab. Ia tersenyum, lalu kemudian tertawa, lalu memutar kursiku ke belakang. Perlahan ia mundur, berdiri gagah, cakar pinggang dengan dagu sedikit sombong. Ia berjalan sambil menggeolkan bokongnya yang gemuk, seperti Teletubbies film favoritku semasa kanak-kanak. Berjalan ke arah ranjang, menatapku sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. Di keluarkannya bantal-bantal dari sarungnya lalu melemparkannya satu per satu ke lantai.
Ia membuat aku kembali merasa bahagia. Melihatnya tertawa begitu merdeka rasanya kakiku ingin sekali melangkah mendekatinya. Aku ingin bersama-sama dengannya mengacak-acak Kasur. Ah...ia semakin mengejek dan membuatku iri dengan melemparkan kertas-kertas itu ke langit-langit. Helai-helai itu menari-nari kemudian mendarat indah ke mana mau.
Ia mendekatiku, tertawa terbahak-bahak sampai terbaring di lantai. Aku juga begitu. Kami sungguh menemukan kemerdekaan yang sejati. Ia mengangkat tangan kananku, menempelkan di pipinya yang brewok tipis lalu mencium telapak tanganku dengan nafas yang panjang. Aku mendengar ia berkata “Aku mencintaimu”
Bangga, kagum, sangat bahagia, itulah yang kudapat darinya. Keceriaannya membuat dunia sejenak lengkap. Kehadirannya mengalahkan semua kesepianku. Lalu, sebelum ia pergi lagi, mata kirinya berkedip dan bibirnya mengecupku dari ruang pintu yang hampir tertutup.
“bisik bisik sunyi….
bisakah aku meminta kau lukiskan bayang pada cermin…
udara udara ini…
yangku pinta setiap doaku melangit…”
***
Ini hari ke seratus dua puluh pencarianku, bercinta dengan empat ratus puisi-puisimu yang terangkai dari seribu tiga belas kata alamat langkah. Aku menyebrangi banyak lampu merah yang mengejek, juga ribuan wajah manusia yang menggeleng. Lalu aku berhenti di sini, di gerobak es pedagang tebu, di atas kursi panjang, depan emperan toko cemilan.
Rasa dahagaku melebur oleh segelas es tebu. Aku duduk bersama mereka yang masing-masing membawa pasangan kekasih. Mereka bercanda gurau, canda-canda yang terkadang membuatku tertawa garing. Tapi, kehadiran mereka justru mengarahkan arah khayalku. Aku rindu, rindu yang meledak-ledak, aku ingin berpuisi untuk cinta.
“cinta cinta bersemi…
bisakah aku meminta peluk pada terik…
uap uap kini…
yangku pinta setiap doaku melangit….”
Dari belakangku, seorang menarik bahuku, menatapku tajam. Ia tidak tersenyum, menarik tubuhku dengan paksa. Membuka pagar besi yang miring, melewati rerumputan rimbun lalu membuka pintu rumah yang tampak tak terawat. Ia memaksaku duduk di sofa yang bau apek. Lalu meninggalkanku tanpa kata-kata. Tak lama kemudian, pria aneh itu tampak duduk depan pintu lebih kurang sepuluh langkah.
“Pak….”
Aku memanggilnya berkali-kali, tatapannya tak berpalin, tidak senyum, tampak marah padaku.
“Pak, harga es tebunya berapa?” Lanjutku bertanya, berharap ia mengajakku berbicara atau bercerita tentang isi pikirannya yang mulai memaksaku untuk seolah memcahkan teka-teki di pikirannya. Perlahan aku mendekatinya, sambil melihat rumah yang benar-benar berantakan tak tertata. Kertas-kertas berserakan, aku membaca penggalan-penggalan puisi di lantai. Perlahan aku tahu, dia adalah seorang pria tua, seorang penyair, seorang seniman, ya…dia pasti seorang seniman. Ia pasti sengaja membuat rumahnya tampak natural, berantakan, merdeka semerdekamerdekanya.
“Apakah bapak seorang penyair?” tanyaku padanya. Tapi, ia tak sedikitpun merubah arah pandang, juga posisinya memandang.
Aku mendekatinya, aku penasaran, siapakah pria gendut, berbulu, brewok tipis itu, sang perangkai penggalan-penggalan puisi indah yang berserakan di lantai rumahnya. Matakupun tertuju pada kamar yang terbuka lebar. Aku melihat kursi roda yang tumbang, lalu seorang gadis dengan baju terusan berwarna ungu tua. Instingku menebak cepat, begegas masuk kamar mendekati gadis itu.
“Nak, puisi-puisi yang kau baca tadi…ditulis oleh anakku…” suaranya berat. Kemudian pria tua itu memberikan handphonenya padaku.
“cinta cinta bersemi…
bisakah aku meminta peluk pada terik…
uap uap kini…
yangku pinta setiap doaku melangit….
desir desir…
bolehkah aku meminta kau lukiskan pada hujan…
suara suara itu….
yangku pinta setiap doaku melangit…
bisik bisik sunyi….
bisakah aku meminta kau lukiskan bayang pada cermin…
udara udara ini…
yangku pinta setiap doaku melangit…”
 
 
Kopi Bandar Klasik, 15 September 2016 U

  • view 286