Hari Ke-17

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-17

Kutunggu kau di suatu tempat. Di sini kusendiri, seperti janjiku padamu malam kemarin. Aku duduk menunggumu datang dengan motor matic. Warnanya hitam, kuncinya banyak, dan bunyi mesin yang dimodif sedikit berisik. Kutebak nanti rambutmu klimis, dan kau memakai kemeja putih. Sepatu hitam yang kau bilang favorit, dan minyak wangi dengan bau maskulin.

Kau selalu rapi ke manapun. Padahal itu tak perlu. Lelaki dengan wajah bersih sepertimu, sepertinya akan tetap baik dalam keadaan apapun. Aku tak mau kalah denganmu, aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Aku mungkin tak mampu membahagiakanmu, tapi setidaknya aku bisa menyenangkanmu, walau hanya di matamu.

Aku duduk lama sekali. Pukul tujuh malam kita janji bertemu, pukul setengah tujuh aku sudah siap menunggumu. Sesekali kulihat cermin, dan kutambah bedak di wajahku. Aku tetap harus cantik. Setidaknya rapi, dan menarik. Jam di dinding kafe itu sudah menyentuh angka delapan. Kau tak juga datang.

Bunyi motor menjadi tak nyaman di telingaku. Leherku tak henti-hentinya menoleh, apakah itu bunyi motormu? Bukan. Sampai lima kali motor dengan suara nyaring seperti motormu membuatku pusing. Kafe menjadi panas, dan aku gerah.

Aku tidak lagi memedulikan bedakku. Bedak kubiarkan luntur karena keringatku yang deras mengalir. Ini kali pertama kita akan lama bercengkerama, setelah sebelumnya kita hanya berdekatan lewat telepon genggam. Dan tatapan-tatapan singkat di balik punggung teman, sejak setahun lalu, kita hanya berani memerhatikan, tanpa bisa saling bertegur sapa.

Pukul sembilan kau tak juga datang. Kuhapus betul-betul bedakku sampai hilang merata. Lipstik, dan semua aksesoris di wajahku sudah bersih, kusapu dengan tisu basah dengan air mata yang kian menebal. Aku benci kau.

Kafe murah ini tak mewah, dan aku duduk di bagian depan. Sengaja bukan di dalam, karena aku ingin menyambutmu dengan segera. Melihatmu turun dari motor, menaruh helm, dan meletakkan jaketmu di situ. Kemudian kakimu berjalan lebar-lebar, dan kian dekat kutemui matamu yang dalam.

Tapi kau tak datang. Pesanku tak juga kau balas. Teleponku tak kau angkat. Rambutku menjadi lepek, karena dibasahi keringat. Aku benci kau.

Wajahku mungkin pucat, mataku memerah, dan jika kau melihatku secara dekat, kau akan lihat api-api besar yang menyala di mataku. Aku marah. Aku amat marah. Kau tahu aku tak suka lelaki yang tak tepat janji, aku tak suka menunggu lama-lama, dan aku tak ingin menjadi patung hanya untuk menunggumu. Kau tahu itu, kau tahu, betapa bencinya aku dengan pertemuan yang egois ini.

Hanya demi kau, aku berdandan. Hanya karena kau keren, dan aku mencoba menjadi keren juga biar kau tak malu bersebelahan denganku. Walau hanya di kafe murah, tapi kafe tetap saja dikelilingi anak muda. Dan aku mencoba menjadi diriku yang lain. Mencoba lebih feminim, dan bersiap-siap untuk bersikap lebih anggun lagi. Demi kau.

Tapi apalah kau, aku benci. Pertemuan ini tak kuinginkan lagi.

Akhirnya aku pergi, berbalik badan, dan meninggalkan kursi kuning yang sudah dua jam kududuki. Dengan segala berang di dada ini, kuhapuskan suka yang kubuat sejak kemarin, dan hari ini kau buat duka untukku sebagai tanda perkenalan yang manis.

Apa laki-laki sekeren kau tak bisa tepat janji? Apa memang kau sedang ingin bermain? Aku benci sekali ini. Kau tak tahu betapa sulit aku berdandan, walau hanya meratakan lipstik agar bibirku terlihat merah, dan segar. Aku benci kau. Aku benci kau.