Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 14 Maret 2016   18:43 WIB
Hari Ke-14

Euneirophrenia.

Sebelum malam tiba nanti, kutuliskan ini. Semoga kau membacanya ketika matahari telah tiada, dan merasakan semua menjadi tentram sampai bintang-bintang kembali datang. Jadi begini manis, siang tadi aku tidur, dan bermimpi. Mimpi itu berimbas sampai kini, entah apakah tetap akan berimbas sampai besok pagi. Semoga masih.

Tapi nanti malam pasti aku tertidur lagi, dan mimpi itu akan berganti dengan mimpi yang lain. Aku benci jika mimpi yang baru justru menjadi air yang menyuci perasaan damaiku sejak tadi. Dan rasa kesalku sulit kuhapus. Kecuali jika mimpi itu datang lagi dalam matamu saat kita bertemu.

Di mimpi itu kau diam. Aku juga diam. Hanya ada angin yang berisik, dan kicauan burung yang seakan meledek di telinga kita. Sesekali aku melihatmu, dan kau tersenyum. Tapi senyummu tak bisa membuatku nyaman. Keraguan akan dirimu tetap ada, bahkan ketika kau hadir di mimpiku yang jenjam. Aku tersenyum, sungguh, hanya saja ketika bangun. Dan kulihat tak ada wujudmu di dekatku.

Sudah lama sekali aku tak begini. Merasakan damai setelah bangun dari mimpi yang menyenangkan. Waktu itu, aku bermimpi menemuimu di bawah langit yang biru, kau mengatakan sesuatu, tersenyum, lalu berjalan mundur sebelum akhirnya kau benar-benar menyusut dari mataku. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah, masih terikat oleh seragam putih abu-abu yang kukenakan dari senin sampai jumat.

Mimpi itu sulit kuhapus mulai berangkat sampai pulang, dan sejak itu doa-doaku hanyalah sebatas ingin bertemu kau di mimpiku. Lalu bahagia ketika bangun. Dan sekarang, kau baca baik-baik, mimpi itu datang lagi. Mimpi itu tiba, bahkan ketika umurku sudah dua puluhan. Perasaanku masih sama. Terhadapmu. Terhadap mimpi itu.

Cinta tak mudah kuganti dengan benci, sekalipun kau memaki, sekalipun kau menyuruhku berhenti, sekalipun kau cabik-cabik pipiku sampai kuteriaki sakit. Cintaku tak mudah pergi, pahami itu. Sejak kujatuhkan hatiku padamu. Sejak kulihat ada yang beda dari dirimu. Sejak kutahu kau tak suka padaku. Dan sejak kau menghindar, menyuruhku pergi tuk tidak mengganggumu lagi.

Benci aku saja, benci. Biar bencimu menjadi cinta diakhir nanti. Dan gebu ini adalah bidangku, biar aku yang sibuk mencari ini itu tentangmu, kau cukup diam, atau bahkan menghardik. Tapi nanti, ketika kau siap tuk mencintaiku, yakinilah, bahwa aku tak akan pergi. Sebab aku tak bisa berjanji padamu, akan terus menjagamu di ingatanku.

Dan manis, mimpi itu, manis. Di tanggal empat belas bulan maret ini, di nomor yang kusuka, karena sama dengan nomor punggungmu, dan di hari ini, seusai matahari terbenam, kukatakan bahwa aku senang. Tak peduli bagaimana dirimu, dirinya, dan orang lain, pokoknya aku senang. Dan aku tak egois, aku ingin membagi rasa ini pada yang lain. Terlebih padamu.

Seandainya kau begitu dekat. Aku tak perlu melihatmu dengan mengangkat kepala ke langit sana, dan menghitung jarak bumi ke tempat di mana kau tinggal. Tapi kau jauh, di mimpi itu bilang, aku takkan mampu ke tempatmu sebelum waktuku tiba. Di mana sih, kamu tinggalnya?

Aku masih menunggu, dan akan tetap menunggu. Sampai langit jatuh, dan kau turun dari situ. Tapi, seperti kata Raisa, apalah arti menunggu bila kamu tak cinta lagi. Dan kamu, justru tak pernah mencintaiku, kenapa aku harus menunggu? Buang-buang waktu? Tidak apa, ini waktuku, bukan waktumu.

Kembali pada mimpi itu, sayang.., di sana, kita duduk di kursi yang panjang. Kau memeluk punggung tanganku. Kau seakan berpikir mati-matian untuk berkata sesuatu. Aku masih terpaku, sesekali melihatmu, lalu menunduk, melihatmu, menunduk lagi, sampai benar-benar aku tak kuasa tuk tidak melihatmu, dan aku melihatmu dengan waktu yang amat lama. Akhirnya kau bicara.

Kau bicara amat pelan. Suaramu tak kedengaran. Sulit menangkap suara yang keluar dari bibirmu yang tipis. Sementara aku hanya fokus pada matamu yang mengeluarkan mantra. Ada cinta yang tinggal di sana, terkunci, dan aku tak punya senjata untuk mengambilnya.

Tak satupun kata yang kudengar, tapi aku bahagia teramat sangat. Sebab aku merasakannya. Hembusan napasmu, hangatmu yang merambat pelan-pelan ke kulitku. Semuanya. Dan aku baru sadar, bahwa di mimpi jantungku pun berdetak. Di dekatmu seperti tak ada jarak. Hanya ada keraguan, dan kesedihan, yang terpaksa kita pancarkan.

Setelah itu, kau mendekatkan tubuhmu ke tempat dudukku. Kau menggenggamku. Jari-jarimu merangkul erat jari-jariku. Wajahmu mendekat. Semakin dekat. Aku tak bisa menahan sesuatu yang meloncat-loncat di dadaku. Kemudian kau berbisik di telingaku yang mungil. Mungkin kali ini kau paham, bahwa aku sulit mendengar.

?Sebetulnya aku suka padamu, tapi aku tak bisa mengatakannya. Kecuali jika kau ikut denganku. Kita akan pergi bersama dengan waktu yang sangat lama,? katamu. Lalu kita bertatapan, lama sekali.

Aku bangun, dan bahagia. Tentram, damai, sentausa. Mimpi itu indah, tak akan kulupakan.

Karya : Jihan Suweleh