Hari Ke-11

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5.2 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-11

Kamu adalah kebahagiaan itu..

Kesenanganku hanya berbentuk binar mata, bibir, dan punggungmu. Sesuatu yang diam, dan berada padamu. Aku tak perlu mencari kesenangan yang lain, jika Tuhan sudah memberikan kesenangan lewat dirimu. Kamu versi lengkap dari kesenangan-kesenanganku.

Dan kebahagiaan itu kamu..

Bagi yang lain mungkin kamu indah, tapi bagiku, lebih dari itu, kamu adalah kebahagiaanku. Aku tak perlu mencari-cari sesuatu yang lain. Semua ada pada dirimu. Walau membentang seratus beda, meroket seribu kesalahan, dan menjalar ketidakpercayaanmu terhadapku, begitupun aku. Kamu tetap sesuatu yang bahagia itu.

Ini tak mudah sayang, hampir setahun kita menjalin hubungan, tapi kamu tak percaya padaku, dan aku tak percaya padamu. Mengapa kita harus mempertanyakan ini itu? Sulit sekali sepertinya untuk belajar menerima. Padahal untuk kita.

Beberapa hari ini aku memikirkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang kudapat saat bersamamu, dan sebelum bersamamu. Kebahagiaan denganmu, dan bersama pria lain. Semua kujabarkan di kepalaku, dan sekarang ingin kuceritakan padamu. Tak mudah untuk berkata jujur, sayang. Dan sekarang aku sedang berusaha. Sekali lagi, aku berusaha membuatmu percaya, sebab aku sudah lebih dulu belajar menerimamu apa adanya.

Aku percaya pada hal-hal yang kebetulan. Tapi aku lebih percaya pada rencana-rencana Tuhan. Mungkin pertemuan kita terlihat seperti kebetulan. Tapi setiap kebetulan pasti memiliki tujuan.

Bertemu kamu di aplikasi chatting, mungkin untuk sebagian orang menjengkelkan, karena harus mendiskusikan pertemuan, dan harus menduga-duga kekecewaan. Tapi denganmu, semua menjadi menyenangkan. Menjadi bahagia.

Tapi mengapa kita selalu tak percaya? Mengapa kita selalu merasa dibohongi oleh perasaan sendiri?

Maafkan aku, aku terlalu egois, aku terlalu menekanmu, dan aku berubah-ubah. Tapi kamu begitu keras kepala. Sangat keras kepala. Kamu sulit kupercaya, sebab kamu rumit. Aku tak mau hatiku pecah lagi, tapi aku juga takut kamu membenciku. Kamu kebahagiaanku. Aku sayang kamu. Bisakah kita mengulanginya lagi? Kita belajar menerima lagi.

  • view 116