Hari Ke-8

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5.7 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-8

Untuk calon kekasihku.

Pertama, kamu manis. Kedua, kamu masih saja manis. Ketiga, kamu memang manis. Dan hari ini, dimalam menjelang hari raya nyepi, ketika angin di rumahku bahkan sudah mulai duluan mengisolasi diri, manismu masih bisa kugenggam di seikat ingatan yang panjang.

Beberapa tahun lalu, kuingat pertama kali mata kita bersetubuh. Begitu dalam, sampai tak berjeda. Jarak kita mungkin hanya tiga jengkal, dan matamu itu ingin kusumpal dengan bantal. Betapa ajaibnya waktu menyutradarai temu. Kala itu kita masih belum mengetahui satu sama lain.

Kulihat matamu terang. Ada api yang menyala di dalamnya. Api yang menyenangkan. Tanpa membakar, tanpa membuat luka. Ia hanya menitipkan suka. Hanya setelah wajahmu berbalik menjadi punggung, aku sudah memutuskan untuk menjadikanmu calon kekasihku.

Cinta begitu rumit, jika kita persulit. Dan aku tak butuh apapun, kecuali kamu.

Nanti, saat kita sudah menjadi sepasang merpati yang saling melengkapi, jangan lah lupa bahwa kita pernah amat jauh, dan bertemu di pinggir pintu. Semoga pintu itu tak tahu bahwa sejak pertama kali bertemu kamu, hatiku sudah dibuat takluk. Tapi kuyakin pintu tak akan comel. Dia pasti pintar menjaga rahasiaku.

Aku ingin mencintaimu dengan kentut-kentutku. Dan kentutmu kan ikut serta meramaikan cintaku. Tak ada beda, dan kita tertawa. Menari tanpa musik, dan lagu, bergurau tanpa harus berpikir membahas apapun dalam hidup.

Aku hanya gadis setengah lugu, setengah dungu, tak berkeinginan menjadi yang terbaik di matamu. Tak cantik, dan tak ingin menjadi cantik, tidak hebat, dan minim pengalaman. Aku hanya memiliki modal: mencintaimu secara utuh. Dan aku tak main-main soal itu.

Untuk calon kekasihku.

Aku masih gadis, dan akan terus menjadi gadis, sampai kau putuskan tuk mengotori pikiranku yang jernih ini. Jadi hati-hatilah, jangan buat anak-anak rindu di kepalaku dulu. Karena kita masih belum layak menjadi orang tua yang bijak.

Calon kekasihku yang manis.., tiada kata yang bisa kusimpulkan padamu. Surat ini kubuat tanpa pikir panjang. Tapi kuingin bersamamu dengan waktu yang amat panjang. Jika kau baca ini, lalu kau senang, tolong, jangan senyum lama-lama. Aku tak kuat. Kamu manis, tanpa dibuat-buat.

  • view 159