Hari Ke-5

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-5

Ini suratku yang kelima. Entah kenapa tulisanku selalu murung. Semoga kau tidak membenciku karena surat-suratku yang sendu. Aku masih menyukaimu, bahkan ingin terus menyayangimu, memberimu perhatian kecil yang bertumpuk-tumpuk, dan membuang waktuku untuk bercanda denganmu.

Tapi, entah mengapa, aku merasa menjadi amat menyedihkan. Mungkin apa yang selama ini kurasakan, tak pernah kau rasakan juga, dan semua yang kulakukan tak pernah berarti untukmu. Ketakutanku terlalu tinggi, bahkan saat kita tertawa, dan bahagia.

Aku tahu aku tak pantas, takkan mampu mengisi kisah indahmu, menyiram batinmu dengan cintaku, merayakan senyummu bersama kesepian-kesepianku. Sejatinya aku hanya seorang yang menyedihkan, dan terus akan sendirian.

Maaf telah mengganggumu, maaf, aku tak sungguhan dalam menggodamu. Aku hanya ingin dekat denganmu, karena kau begitu dekat di hatiku. Tapi aku tak punya kendali untuk bersikap mahal seperti perempuan lain. Aku hanya bisa jujur, bahwa aku menyukaimu. Maafkan aku.

Mungkin beginilah kelemahan wanita, sayang. Tak bisa berkata cinta tanpa dibilang murahan, tak sanggup memulai duluan karena dinilai gampangan. Mencintai menjadi sebuah kesedihan untuk kami para perempuan minder. Dan untuk itu aku mengaku kalah. Aku menyerah. Kau tak akan kuganggu lagi. Aku akan pergi.

Barangkali cinta memang bisa membuat kita menutup mata. Bahkan pikiranku pun sudah tertutup olehnya. Begitu senang aku mengingatmu, begitu baik perlakuanmu terhadapku. Tapi kini, saat kuingat semua tentangmu, bahkan pada bayangmu, aku tak bisa menahan sakit. Begitu sakit. Begitu perih. Aku membenci diriku sendiri.

Selamanya aku hanya menjadi perempuan yang bodoh. Dunia kan menelanku perlahan, dan aku menghilang. Semoga kau senang.

Ini bukan kali pertama kubilang menyerah, pada akhirnya aku selalu kembali maju, dan mengejarmu. Tapi kupikir, untuk apa aku mengejarmu, itu hanya membuatmu menjadi ceria. Karena itu aku tak pernah tahu bagaimana perasaanmu. Jadi kuputuskan tuk pergi. Menerima kenyataan bahwa aku bukan seseorang yang kau inginkan selama ini.