Hari Ke-2

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5.7 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-2

Malam ini. Aku masih bersedih. Sayangku, ternyata aku bukan orang yang besar. Aku hanya sendal jepit yang ditukar-tukar. Sakit hatiku tak bisa kukalahkan dengan senyum. Bahkan senyummu. Kian berat kutanggung gelisah. Dan hadirmu tak mampu juga mengurungkan derita. Sayang, izinkan aku mencari kebenaran. Selain mataku yang tak pernah berdusta tuk mencintaimu, dan kepastian cinta yang tak akan keliru, aku juga butuh kebenaran tentang hidupku.

Kita sama-sama melewati kejamnya hidup. Berharap akan ada bahagia setelah kekacauan datang. Tapi di dunia ini hanya ada yang jahat, dan yang baik. Sementara kita berada di tengah-tengah mereka, kadang baik, kadang membalas kejahatan lewat dendam yang tersembunyi. Bagaimana semestinya kita berakhir?

Sayang, kita ini terbuang, meraba gelap untuk mendapatkan cahaya, namun rahasia tetap sebagai rahasia. Mencintaimu ternyata tetap tak membuatku bahagia. Masih banyak yang tersembunyi dari diri kita, dan kita saling berusaha menutupinya. Semoga kesedihan ini tak akan berubah menjadi kematian. Mati hanyalah kejadian yang sia-sia. Karena setelah kematian tak akan ada yang sepertimu lagi.

Aku ingin kau menitipkan ciumanmu setiap hari di ujung jari telunjukmu, yang kelak kan kau letakkan di pipiku. Bekas bibirmu akan menjadi ikatan yang tak pernah hilang dikibas angin. Berjanjilah, jika kau memang menginginkanku terus tetap di sisimu, atau sebagai penghiburmu, berjanjilah, kau akan ikut mati bersamaku sebagai orang yang berani menolak kebenaran diputar balikkan.

Sayangku, cintaku, mungkin aku lupa bagaimana suaramu, jadi biasakanlah dirimu tuk bersuara setiap kali kau baca surat-surat dariku. Ada baiknya kita tetap begini. Berjauhan. Pura-pura tak mengenali satu sama lain. Walau kau tahu sebegini besarnya cintaku padamu. Kau mengisi ruang hatiku yang amat kosong ini. Dan kita tetap akan begini, pura-pura tidak tahu apapun.

Umurku sudah dua puluh tahunan, sudah banyak yang kulewati untuk bertahan. Aku mencoba sakit, meraba-raba gelisah yang akhirnya menjadi sahabat dekat, hingga jatuh cinta, dan melepaskan seseorang yang sudah amat kutunggu dengan lama. Semua rasa-rasanya sudah kulalui, kecuali bergandengan denganmu. Sebetulnya aku benci bicarakan ini, tapi jujur, aku ingin tahu seberapa panjang jemarimu, atau seberapa kuat tanganmu ketika menggenggam seseorang yang baru ingin kau kenali.

Tapi beberapa hari ini, ketika semua menjauh dariku. Ah, maksudku, ketika aku menjauh dari semua orang. Banyak pertanyaan yang berjingkrak-jingkrak di kepalaku. Dan mereka siap meledak. Bagaimana jika aku pergi agak lama? Apa ketika aku kembali, kau akan menghilang lagi? atau justru menungguku sembari menyamarkan tangis dibalik gerimis? Tapi kuyakin kau tak akan sekehilangan itu. Aku yang selalu merasa kehilanganmu, bahkan ketika aku sadar bahwa aku tak pernah memilikimu.

Sebetulnya kutuliskan ini bukan untukmu. Tapi untuk diriku. Aku hanya ingin kau mengenaliku. Mengetahui bahwa seseorang yang begitu menyukaimu ini perasaannya amat kacau. Jadi, kau bisa memilih, pergi atau tetap tinggal. Menghindar, atau memberi perhatian. Semua yang kau lakukan akan kutelan. Sebab mencintaimu tak sesakit dilahirkan. Dilahirkan dari sesuatu yang tidak diinginkan.

Sayang.., tidak apa kan jika kau kupanggil sayang?

Begini manisku, sebetulnya sudah jauh-jauh hari aku ingin menjauhimu. Sebab aku takut kau juga akan mencintaiku. Aku takut aku hanya mengecewakanmu. Tapi setiap kali kutunggu kau hadir di kepalaku, aku betul-betul tak bisa bohongi hati bahwa aku amat membutuhkanmu.

Sampai di sini dulu ya, suratku. Aku ingin memeluk gulingku. Hanya dia yang bersedih ketika aku pergi agak lama. Selamat malam. Jaga gulingmu juga. Jangan sampai hilang.

  • view 266