723 HARI SETELAH MATAKU MENATAP DAN MENETAP PADAMU

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 2 bulan lalu
723 HARI SETELAH MATAKU MENATAP DAN MENETAP PADAMU

Kumulai cerita ini dengan sebuah pengakuan, bahwa keindahan telah membuatku abadi dalam kesedihan. Tidak akan kukejar lagi kau, walau kau yang memaksa. Aku sudah tak selera dalam berjuang. Aku ingin menjalani hidupku dengan sia-sia, tanpa berusaha dicintai, dan mencintai orang lain. Aku telah hatam dengan berbagai macam patah hati. Luka mengolah duka di setiap sudut rongga dadaku, dan kau menenggelamkan senja di batas waktu, di ujung kesakitanku.

Tidak kusangka-sangka, di kampusku ada yang memiliki mata sekeras batu, sekaligus lembut seperti bulu. Ia memandang seluas langit, dengan bibirnya yang lebih sunyi dari lelaki yang mencintai seorang gadis dalam sepi. Ingin kuhapus air matanya ketika ada laki-laki lain yang membuatnya bersedih, hingga yang tersisa hanya bekas tanganku di pipinya, dan matanya yang bertahan di mataku untuk kubawa pulang ke rumah. Aku cemburu pada semua yang menyentuhnya, bahkan pada tahi yang menyempil di pinggir kukunya. Dan ia adalah kau. Perempuan yang tak pernah berhenti menurunkan hujan di matamu setelah kepergianku.

Jika kau membaca ini, tandanya matamu telah kusimpan selama 723 hari di mataku. Kau tak akan pergi, bahkan ketika jantungmu tak mampu berdetak lagi. Aku siap jatuh demi bisa memeluk hangat jiwamu, siap menjadi asing demi bisa meninggikan mimpimu. Tetapi, kelak ketika kita duduk bersama lagi, kita pasti akan mengulang sakit, kita akan sama-sama mati bunuh diri, sebab tak mampu berdamai dengan diri sendiri. Terlalu banyak peraturan dalam hidup yang tak mampu kita turuti, dan mereka mungkin tak tahu bahwa memahami diri sendiri lebih sulit dibanding menyelesaikan skripsi. Maka jadilah kita berdua, manusia yang tak punya arah.

Di hari itu, tepat di puncak harumu, aku meminta maaf karena telah sengaja meninggalkanmu. Aku bosan, dan kau pemarah. Kita sulit bersatu kendati kita merasa utuh. Kau yang paling cantik, dan sampai tua takkan berubah cantikmu dimakan usia. Aku masih tetap ingin mencintaimu, tapi tak ingin bersamamu. Kita urus hidup kita masing-masing. Aku sulit bertahan, dan kau sulit menerima kenyataan. Maka setelah 723 hari terlewati, aku meminta maaf lagi hari ini. Maaf atas kebodohanku yang tega membuangmu. Saat itu aku betul-betul bosan dengan hidup, dan kau yang rewel sulit untuk kuterima lebih dari bunga layu.

“Lebih baik kita putus. Skripsi aku nggak kelar-kelar, mata kuliahku banyak yang ngulang. Aku juga nggak ada uang, kita nggak bakal bisa jalan-jalan,” kataku di kantin kampus.

“Enggak. Aku nggak masalah kok, yang penting kita sama-sama.”

“Kita putus. Aku bosan sama kamu.” Kau menampar pipiku. “Kita nggak bisa lanjut, kita udah terlalu sering berantem, dan kita sama-sama nggak peduli sama masa depan kita. Ada baiknya kita pisah.” Dan kutinggalkan kau menangis tanpa lagi peduli untuk menghapus air matamu.

Apabila ada yang melihat perempuan ini, tolong katakan padanya, selama ia masih tak menerima dirinya sendiri, kesedihan tak pernah akan hilang, bahkan ketika ia merasa sangat bahagia.

 

Terinspirasi dari Cerpen karya Sungging Raga yang berjudul “7042 Hari Kesedihan”

http://basabasi.co/7042-hari-kesedihan/

Dilihat 49