HILANG

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 30 Desember 2016
HILANG

Kala itu, saat kuterbangun dari tidur panjangku.. Kebisuan telah menghilangkan suara hatiku sendiri, menghilangkan bunyi-bunyi di telingaku yang sempat bising. Bising pada tangis, pada amarah, dan semua yang berasal dari jiwa yang tidak kukenali. Aku selalu berpikir akan terus menunggu, hingga waktuku habis, hingga aku tak berpikir lagi akan menjadi manusia yang setia pada pemikiranku sendiri.

Jalan begitu panjang, tetapi tak satupun yang kuingat selain kegetiran. Langit begitu luas, tetapi tetap tak mampu kukenali siapa diriku sebenarnya. Kulihat luka dari mata seorang hamba yang menangis menolak mati, kulihat duka dari kening ibu yang memasak setiap pagi untuk suaminya yang ingin poligami. Tak bisa lagi kulihat cinta dalam semesta, terlebih dalam diriku ini.

Kesedihan yang tak pernah berakhir, dan memang mungkin tak perlu diakhiri. Sebab telah kucoba berbagai cara, sebab telah kucari berbagai jalan penyelesaian. Tetapi tak satupun yang mampu kumengerti, mengapa kesedihan ini terus bercabang di dalam dadaku yang lebih sunyi dari kesunyian itu sendiri.

Mereka bilang bumi berputar, namun mengapa aku tetap diam membungkus luka hatiku sendirian. Seandainya dunia mampu memelukku dalam subuh yang lebih dingin dari ketidakpercayaan orang skeptis. Seandainya aku mampu melihat isi kepala semua orang secara transparan. Seandainya.. Seandainya..

Saat kuterbangun kala itu.. Terbangun dari tidur panjangku, kulihat tak ada lagi rambut yang membingkai kepalaku, tak lagi ada kaki yang menopang tubuhku, tak ada tangan yang biasa kupakai untuk menghapus air mata, tak ada telinga, tak ada mata, dan tak ada segalanya. Sehingga aku menyadari bahwa kematian yang hanya akan mengakhiri kesedihan.

Kulihat jantungku tergeletak di lantai ketika nyawaku telah terbang melewati kaca jendela. Jantungku berdetak di sebelah tubuh yang mati membuka mata. Tak kusangka aku masih bisa melihat kematianku sendiri sambil berdiri tersenyum menggiring luka ke surga. Ternyata kesedihan adalah cinta yang tak pernah kupahami. Tak bisa hilang. Tak bisa pergi. Aku mencintai kesedihan-kesedihanku. Dan aku adalah kesedihan itu sendiri.

  • view 237