SAMPAI JUMPA, BUKAN SELAMAT TINGGAL - 2

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2016
SAMPAI JUMPA, BUKAN SELAMAT TINGGAL - 2

Sudah lima tahun aku tanpa kamu. Setiap hari adalah kehilangan, setiap hari adalah kematian. Sebelum kamu benar-benar pergi, kamu menitipkan pesan untuk kuterus bernyanyi. Ini mustashil, sebab kutak bisa berhenti menangis kendati kamu berkata bahwa kamu tetap menjadi teman terbaik. Hari-hari kulalui dengan pahit, lebih pahit dari aroma tubuhmu. Aku tak pandai memendam kerinduan, dan kamu pergi meninggalkan banyak kenangan. Bajingan.

***

Sat 08.00

“Sayang, aku kangen..”

Sat 11.42

“Kamu lagi sibuk banget yah?”

Sat 19.25

“Kamu lagi cari uang yah buat nikahin aku, hahaha.”

Sat 22.03

“Kamu ke mana aja sih? Aku kangen.”

Sat 23.10

“Kamu kenapa ngangenin sih?”

Sun 00.31

“Kamu kangen sama aku nggak?”

Sun 01.00

“Aku kangen kamuuuuuuuu. Kamu ke mana sih? Kamu kenapa? Udah seminggu ini kamu hilang-hilangan, kayak buronan aja.”

Sun 09.00

“Selamat pagi jagoaan akuuuuuuu..”

Sun 12.30

“Kamu..

Kamu......

Kamu..........

Di hatikuuuuu..... :”( Ke mana aja sih iiihhh kamu mah.”

Sun 17.00

“Gini ya kalo udah dimilikin, nggak ngabarin sesuka hati. Dulu mah waktu pedekate kamu getol banget bbm aku, pas udah jadian makin lama makin nggak peduli. Aku bbm balesnya nggak cepet lagi, alasannya sibuk, lah dulu emang kamu nggak sibuk? Hvft.”

Sun 21.30

“Astagaaaaaaa, aku caper ini, kamu ke mana aja sih?”

Layar di ponselku berhiaskan ceklis berjam-jam, tapi ketika sudah delive, kamu tak membalasnya hingga seharian. Sejak satu bulan pacaran, kamu memang sudah jarang merespon bbm-ku, kamu bilang kamu sibuk, dan aku selalu memakluminya. Karena aku menyayangimu, dan memang tidak ada laki-laki sebaik kamu dalam menyenangkan perasaanku. “Aku nggak gombal, tapi terserah kalau kamu bilang gitu, aku sayang kamu, jadinya pingin melihat kamu senang terus, dan satu-satunya cara nyenengin hati perempuan ya digombalin, mau kamu akuin apa enggak. Hehe,” suaramu terdengar dari ujung telepon. Aku tertawa kecil.

“Kamu lagi apa?” katamu lagi.

“Aku lagi sayang-sayangnya sama kamu,” jawabku dengan suara yang memanja.

“Yeeeh, dasar.”

“Ih masa kalau aku gombal kamu mah gitu mulu, kalau kamu gombal aku iyain. Kamu mah gitu.”

“Hahaha. Sayang, gombal itu urusan lelaki. Perempuan cukup diam aja laki-laki jatuh cinta, jadi nggak usah repot-repot gombal, nanti aku makin nggak berarti jadi manusia, hahaha.”

“Ih, dasar,” kataku. Seketika hening menyambut di ujung telepon, dan menyisakan bunyi napasmu dan napasku yang saut-sautan, “tapi benar aku sayang banget sama kamu.”

Kamu tertawa, “iya, iyaa.”

“Ih kamu mah.”

“Iya, aku juga sayang sama kamu.”

“Halah, paling nanti hilang pas aku lagi sayang-sayangnya.”

“Enggak, enak aja.”

“Kamu kan laki-laki.”

“Yeh, kan nggak semua laki-laki gitu. Aku paling kalau hilang bakal balik lagi, mana bisa aku lama jauh-jauh dari kamu. Aku padamu loh, tanpamu aku hanya pasir yang kena eek kucing.”

“Hahaha, ih kamu ih.”

“Ah, kamu, ah, ah,”

“Nggak jelas. Udahan ah, udah malem.”

“Iya sayang, mimpi indah ya, jangan mimpiin aku.”

“Loh, kenapa?”

“Iya lah, masa pas bangun udah sama aku, pas mimpi juga sama aku, nggak bosen?”

“Haha, enggak lah, kan sama kamu.”

“Ya udah, tidur sana.”

***

Kuulangi lagi, sudah lima tahun aku tanpa kamu. Dan aku masih bisa mengingat semuanya. Kamu tak pernah terhapus meski aku mencoba untuk menghapusmu berkali-kali. Tidakkah kamu juga merindukan aku? Semua darimu hilang terbawa angin, dan kehangatanmu pergi bersama air mataku yang mengering. Aku tidak pernah mampu kembali melihatmu, sebab rinduku tak akan sampai walau kita bersentuhan, dan tatapanmu akan lebih dingin dari es batu, sekalipun kamu tersenyum seperti dulu.

“Kamu ke mana aja? Udah dua minggu nggak bisa dihubungin,” kataku di ujung telepon.

“Aku sibuk.”

“Ih, sibuk mulu, kamu nyari apa sih di dunia? Dulu kata kamu, kamu bakal kabarin aku terus walaupun kamu sibuk. Kok makin ke sini makin kurang ngajar, nggak ada kabar.”

“Iya, iya.”

“Kok iya sih, bilang maaf kek, apa kek, kenapa sih susah banget minta maaf? Lima bulan kita pacaran kamu nggak pernah minta maaf.”

Kamu hanya menghela napas, seolah-olah kamu sudah bosan mendengarkanku.

“Aku benci sama kamu, kamu jahat, kamu nggak sayang sama aku? Kamu jahat, enak banget kamu dikangenin, sedangkan aku nggak pernah dikangenin ya sama kamu. Bener kamu nggak sayang sama aku. Kita putus. Kamu jahat! Aku benci sama kamu.”

“Sayang...”

“Nggak usah manggil sayang kalau kamu emang nggak sayang sama aku. Pacaran aja sana sama kerjaan kamu, atau jangan-jangan di tempat kerja kamu banyak cewek cantiknya kali ya.”

“Hmm”

“Aku benci sama kamu, kita putus!”

Aku menutup telepon. Dan aku menyesal telah mengatakannya. Aku benci, aku benci diriku sendiri.

  • view 411