SAMPAI JUMPA, BUKAN SELAMAT TINGGAL

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
SAMPAI JUMPA, BUKAN SELAMAT TINGGAL

"Kamu nggak usah pikirin yang macam-macam. Aku sayang sama kamu kok."

"Ya habis gimana, aku selalu ngerasa kamu nggak sayang aku."

"Gimana mau fokus, kamu harus semangat kejar mimpi kamu, nggak usah pikirin yang aneh-aneh. Aku tetap sama kamu kok."

***

Lima tahun lalu kita masih bersama. Kamu jarang kasih kabar, dan aku selalu menanti kabar itu datang. "Kita sama-sama sibuk," kamu bilang. "Tapi aku tetap sayang kamu," tanganmu mengusap pundakku yang melengkung. "Pacaran nggak mesti sama-sama terus kan?" Kamu melihatku lebih dalam dari sebelumnya. "Aku mau cari duit. Nanti kita jalan-jalan kalau aku udah ada uang." Aku menatap bunga yang kering di depan kita. "Kamu kejar mimpi kamu, buktiin kalau kamu bisa."

Lima tahun sudah berlalu dan aku masih sayang kamu, meskipun selama bersamamu aku tak pernah ke mana-mana. Kamu hanya datang ke rumah empat bulan sekali, dan kita cuma jadian lima bulan saja. Semua yang kamu kasih harum hingga hatiku tumbuh mekar. "Kita kok kayak LDR sih, padahal jarak kita nggak lebih jauh dari cikini-gondangdia," kataku sambil menepuk pahamu. Kamu tak menjawab, hanya tersenyum saja. "Aku susah yakin sama perasaan kamu ke aku, tapi aku selalu kangen kamu, baiknya gimana ya?"

"Baiknya kamu tunggu aku cari uang, nanti kita nikah."

"Ih nyebelin, kamu nggak tahu apa kalau aku baper kamu ngomong gitu?"

"Aku nggak tahu kalau kamu baper, tapi aku tahu kalau kamu senang."

"Aaah, kamu mah."

Senyummu menutup semuanya, dan aku tak bisa menyudahi pertemuan kita. Aku ingin selalu bersamamu, tapi kamu bilang kita harus berjarak, karena jarak kita bisa menciptakan kerinduan. Saat wajahmu mendekat, aku berbisik padamu, kita nggak butuh jarak, karena aku juga selalu rindu kamu walaupun kita berpelukan, seperti sekarang. Kamu tertawa, "dasar orang gila."

Lima tahun lalu. Itu hanya lima tahun lalu. Sekarang sudah tak ada kamu. Aku tak pernah berpikir bisa dicintai oleh laki-laki sepertimu, dan sekarang aku tak pernah habis pikir mengapa kamu sudah tidak ada  di sisiku. Dadaku tak pernah sembuh dari sesak. Mataku tak berhenti menangisimu. Mengapa penyesalan datang terlambat, padahal di awal kita sudah sama-sama ikut pendaftaran.

Aku mencintaimu dengan tulus. Ada atau tidak ada uang, aku tetap mencintaimu. Tetapi bibirku terus mengeluh padamu. Aku selalu memaksamu untuk mengabariku, menemuiku, dan kamu selalu bilang maaf sibuk, tidak bisa. Mungkin laki-laki mencintai perempuan dengan keheningannya, sementara perempuan selalu ingin menggebu-gebu dalam cintanya.

Di hari yang sama, malam itu, kamu bilang, "malam ini buat kamu." Aku tersenyum malu-malu. "Kita baru ketemu dua kali ya, pertama pas kita belum jadian, kedua yang sekarang." Senyumku semakin mengembang, kata-katamu mengandung baking soda. "Aku mau setiap pertemuan bisa bikin kamu nggak lupa. Nggak lupa kalau aku yang paling spesial kayak nasi goreng pakai telor dua." Aku tertawa. " Aku sayang kamu," kamu menciumku. Lama sekali. Teras rumahku jadi semakin sepi. Ayah dan adik-adik sudah tidur, dan ibu sedang menonton drama korea di ruang tengah. Kita cuma berdua, dan seketika angin pun meninggalkan kita.

"Aku nggak ngelakuin pelanggaran kan?"

"Pelanggaran apa?"

"Ada dua. Pertama, aku cium kamu. Kedua, aku cium kamu habis kamu makan rendang."

"Haha, ih kamu bikin aku malu."

"Aku yang malu."

"Loh kenapa, kok kamu?"

"Soalnya tadi kegigit, abis enak, kirain tadi beneran rendang."

Aku tidak bisa menyembunyikan senangku malam itu. Semua yang di dalam tubuhku loncat-loncat, dan senyumku tidak mampu selesai sebelum kamu mendaratkan bibirmu lagi di bibirku. "Berarti hari ini tanggal ciuman kita ya," katamu. Aku tertawa. "Kok ketawa? Harus adil dong, ada tanggal jadian, ada tanggal ciuman." Pipiku memerah, lebih merah dari pantat ayam. "Kalau aku suka lupa sih tanggal jadian, tapi kayaknya kalau tanggal ciuman nggak lupa." Aku menjambak rambutmu, dan kita tertawa. Mungkin malam itu langit marah karena kebisingan kita, hingga ia menurunkan hujan, yang justru membuat kita semakin mencipta kebisingan. Kamu mengambil gitar, "aku mau nyanyi dulu, kamu dengar ya!" Aku mengangguk.

"Awal kan berakhir, terbit kan tenggelam, pasang akan surut, bertemu akan berpisah."

"Yah, kok lagunya gitu sih?"

"Iya, soalnya kalau bibir kita bertemu terus nanti kita nggak bisa makan."

"Hahaha, kirain apa. Ganti dong lagunya, yang romantis."

"Itu paling romantis, sayang.."

"Mana romantis."


"Hei, sampai jumpa di lain hari, untuk kita bertemu lagi, kurelakan dirimu pergi, meskipun kutak siap untuk merindu, kutak siap tanpa dirimu, kuharap terbaik untukmu."

"Tuh kan, itu sedih."

"Iya sedih, tapi aku harap kita sama-sama nyanyiin lagu ini kalau kalau nanti kita nggak bisa bersama lagi."

"Ih, kamu kenapa? Baru juga ketemu, kamu mah."

"Nggak papa. Kita kan nggak pernah tahu nasib kita gimana nanti, aku cuma mau kita punya satu lagu kenangan tentang perpisahan kita."

"Kenapa bukan lagu pas kita lagi senang-senangnya?"

"Karena kalau lagi barengan sama kamu nggak perlu lagu, semuanya udah berirama. Hehe."

Aku tersenyum, dan memelukmu. Kamu meletakkan gitar di dinding yang ada di sebelah kananmu, "Kadang orang-orang lupa meninggalkan sesuatu ketika berpisah. Padahal yang  paling manis itu perpisahan. Perpisahan yang sama-sama kita relakan." Kamu mengusap rambutku kemudian menciumku di kening.  "Sampai jumpa, bukan selamat tinggal." Kamu tertawa. Aku melihatmu heran. "Iya lah, kalau sampai jumpa kan jelas, nanti mungkin kita berjumpa lagi, kalau selamat tinggal? Selamat tinggal di mana? Di hati orang lain ya? Hehe." Lalu kita tertawa. Malam sangat indah.

((Bersambung))

  • view 418