MAMA

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
MAMA

Sehidup sesurga, kuingin selalu bersama mama. Kau bukan wanita mama, kau makhluk yang amat megah. Setiap kali kutak percaya cinta, kuingat bagaimana air matamu tumpah. Menangisi suami yang pergi, meratapi nasib anakmu yang tumbuh dari caci maki. Kau cintaku mama, takkan kuhapus lukamu, tak juga kutambah dengan luka yang baru. Seluruh langit mendoakan ketulusanmu. Seluruh senyumku padamu.

Tak pernah ada kata yang terucap, setiap mata kita disambut pertemuan. Aku tak bisa memelukmu, dan kau tak mungkin ingin memelukku. Hanya dingin yang kokoh melintas di dalam hati kita. Mama, kutahu hatimu telah beku atas semua sakit yang kau terima. Tetapi hidup yang kurang ngajar ini selalu menguatkanmu. Walaupun kau memiliki anak yang tak tahu diri sepertiku.

Ini keluargaku. Rumah yang hancur, tanpa dinding, tanpa pintu, tanpa atap, dan tiang-tiang yang telah runtuh lebih dulu. Papa pergi meninggalkan tangis yang tak berbunyi. Menghancurkan kedamaian di hati kami. Selamanya papa hanya menjadi sesuatu yang tak bisa kami mengerti, selain ketakutan-ketakutan kami pada lelaki.

Tak ada yang bisa dicontoh dari keluarga kami. Kami hanya sekumpulan manusia yang tak berjiwa luas. Setiap hari kami bertengkar. Setiap hari kami menyesal pada takdir yang berjalan. Tak ada Tuhan di rumah kami. Tak ada kebahagiaan. Tak ada keluarga yang saling membangun cinta. Tak ada apa-apa, selain kebencian.

“Sampai kapan pun aku benci papa!” Mama menampar pipi kiriku. “Sampai kapan pun aku benci papa!” Mama ingin menamparku lagi, dan kuberi ia pipi kananku. “Sampai kapan pun aku benci papa!” Suaraku mengeras dan ditimpali dengan tamparan mama yang semakin kencang. “Mama sudah menampar anak mama satu-satunya demi membela laki-laki yang bahkan pergi dengan perempuan lain.” Mama melihatku dengan napasnya yang terpenggal. Kutahu, mama pasti sedang menahan tangisannya.

“Aku anak kurang ngajar kan ma? tapi aku nggak merasa bersalah karena udah membenci papa.”

“Iya, memang yang salah mama.”

“Kenapa sih nyalahin diri sendiri terus?”

“Karena itu lebih baik, dibanding harus menyalahkan orang lain.”

Aku diam. Dan mama pergi. Kutahu, mama pasti pergi ke kamarnya. Kamar yang sepi, kamar yang penuh air mata mengering. Ingin sekali kukatakan padamu ma, aku pun sakit bahkan ketika melihatmu tertawa. Jiwa kita sama-sama kosong. Kau yang sakit karena dikhianati, dan aku sakit karena merasa tak pernah dicintai.

Kumau hidupku bahagia mama, seperti teman-temanku. Punya orang tua yang menyayanginya, dan selalu ada ketika anaknya putus asa. Sedangkan aku tertusuk bayangan papa di kepalaku, bagaimana ia mencibirku karena wajahku tak mirip dengan wajahnya. Adakah yang sekiranya sama perilakunya dengan papaku? Selalu menghina anak dan istrinya, padahal yang selingkuh hanya dia, bukan mama.

Sebuah luka memanggilku untuk menuliskan ini. Betapa aku tak mengerti orang tuaku sendiri. Betapa aku kehilangan jati diri. Setiap kali kulihat wajahku di cermin, aku hanya bisa menangis, melihat mataku yang memerah, dan air mata yang terlanjur turun seperti hujan deras di awal september.

Ini sudah tahun yang ke lima belas tanpa papa. Dan umurku sudah tiga puluh tahun, mama. Aku masih tak ingin menikah, aku masih tak ingin dicinta dan mencintai siapa-siapa. Selama mama masih bersedih, selama itu pula ketakutanku bertahan. Mama, aku tumbuh sebagai anak yang pemarah, mudah menangis sekaligus pendendam, karena aku tak tahu bagaimana caranya menjadi manja. Sejak kecil yang kulihat hanya amarah, dan tangisan. Sedikitpun aku tak pernah melihat mama dan papa saling berpelukan.

“Mama, maafin aku. Aku salah.” Wanita berkerudung biru itu menunduk. “Tapi aku memang membenci papa.”

Mama menoleh cepat, “Sebenci apa pun kamu sama papamu, jangan lupakan dia sebagai papa yang mesti kamu hormati. Doain papa kamu, jangan disumpahin. Kamu mesti bersyukur walaupun punya bapak yang seperti itu. Karena banyak orang di sana yang justru tak pernah melihat bapaknya.”

Aku tertawa sinis, “Oh ya? Anak-anak di sana kalau punya nasib kayak aku juga akan benci papanya.”

“Rere, cukup! Kita cuma manusia, nggak pantes sombong.”

“Sombong apa sih ma?”

“Kamu sombong sama masalah kamu. Kamu pikir di dunia ini yang sakit hati cuma kamu? Banyak! Tapi mungkin cuma kamu yang nggak bisa nerima takdir.”

Aku diam. Mama selalu membuatku diam tiap kali ia sudah tak sanggup menahan emosinya padaku. Kalau sudah begini, aku hanya bisa menangis sambil sesekali meminta Tuhan membuatku mati. Aku berbeda dengan mama. Mama tak pernah mengeluh walau ia sering diam-diam menangis, dan marah setiap kali melihatku.

Mama bilang, semua yang datang dari Tuhan adalah kebaikan. Aku sempat marah, tapi akhrinya aku mengerti. Karena luka ini, aku sadar betapa mama mencintaiku. Betapa mama menginginkanku. Namun aku tak tahu bagaimana membalas cintanya, aku hanya peduli pada kebencianku terhadap papa. Hal indah dalam keluargaku adalah mama. Hanya mama yang indah, dan yang terbaik hanya mama. Semua tentang mama berkilau seperti cahaya. Aku tak punya siapa-siapa selain mama. Hanya pada mama, hanya pada mama. Sehidup sesurga.