Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 30 Agustus 2016   02:14 WIB
KAMU

Bacalah barang sebentar. Silakan menangis tapi tak perlu sedih. Sesuatu yang dipaksa pergi memang sulit tuk diraih kembali. Tetapi jam segini saya masih mengingatmu. Dengan mata yang bengkak karena jarang tidur. Dan jantung yang terus memompa kenangan dalam detak-detak yang tak bisa dibunyikan.

Wajahmu tak jelas lagi, tapi dirimu masih ada di kepala ini. Namun tak tumbuh. Tak bermekaran seperti senyum yang pernah kau titipkan di mataku. Sejak awal saya keliru. Saya kira semua yang datang seperti hujan tiba setelah kemarau panjang adalah untuk saya. Ternyata bukan. Saya kira salju yang turun dari matamu adalah untuk saya. Ternyata memang tidak ada salju di mana-mana.

Sejauh ini, luka membawa saya ke mukamu. Saya melihatmu duduk-duduk seperti dua tahun lalu. Masih dengan sepatu yang sama, dan kakimu yang bergoyang lambat-lambat. Tetapi tasmu baru, berwarna biru. Dan saya melihat jelas kebahagiaan di pipimu. Kamu tersenyum pada siapapun. Kecuali pada saya.

Semestinya tak begini. Saya tak pernah bisa berhenti menyakiti diri sendiri, dan kamu masih terlihat manis meski saya sudah mencoba membencimu berkali-kali. Ini sialan. Semakin sialan sebab memandangmu, degupan di dadaku tak berubah sedikit pun.

Lama sudah jiwaku terbaring. Saya memilih mati sejak mencintaimu. Namun kamu tak hadir di makamku. Kamu menghidupkan seseorang di bibirmu setelah berhasil menguburku. Demi kursi yang diduduki olehmu siang itu, dan di bawah atap yang sudah rapuh, saya menelan usia saya sendiri.

Kamu hadir seperti buah jatuh. Dan saya mengambilmu dengan keadaan tak lapar sama sekali. Saya menyukaimu. Dan ingin mengunyahmu. Tetapi bibir saya tak pernah segar. Saya tak pernah menarik sekaligus tak pintar-pintar. Saya mencintaimu, tetapi ragu lebih dulu membunuh. Sebelum saya benar-benar mengunyahmu, kamu terlanjur dimakan orang. Dan saya jatuh seperti daun kering.

Karya : Jihan Suweleh