Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 2 Agustus 2016   19:50 WIB
SEPANJANG HARI RABU

Entah ini rabu ke berapa yang telah datang membawa hujan. Aku sedang terjaga, dan sepi kutitipkan di jendela kamar. Lagi, dan lagi kudengar suara mereka bertengkar. Mungkin ini bulan ke sekian, atau mungkin sudah tahun ke sekian. Aku tak tahu, yang kutahu hujan sedang turun di sepanjang rabu. Dan aku masih sendiran.  Memandang langit. Memandangmu.

Banyak sekali yang bertengkar hari ini. Tapi hanya aku yang sedang memendam rasa, lalu diam-diam memukul dada sendiri karena tak paham bagaimana caranya mencintai.  Cinta itu sembunyi di matanya, dan kusimpan di belakang punggungku. Kubawa hingga kutidur, tanpa jeda, tanpa diketahui siapa-siapa.

Dan sepanjang rabu, kulihat senyumnya dari belakang kepalaku. Dia seperti mimpi-mimpi yang lebih pantas dinikmati ketika tidur. Sepanjang rabu, hanya ada gelisah yang membakar diriku. Asap-asap mengepul dari telingaku. Kudengar suaranya lebih nyaring dari gesekan panci. Napasnya lebih berbunyi dari angin. Dan aku menginginkannya sebagai satu-satunya mimpi yang kupunya di dunia ini.

Walau satu dekade jalan membidik hujan di bawah langit yang keliru menyampaikan pesan, aku tetap paham bahwa sepanjang rabu ini aku telah mengingatnya. Mengingat pertemuan yang pernah datang. Di waktu yang lebih lama dari selamanya. Dan kutahu, hari ini begitu sunyi. Hingga air mata benci tuk mengalir kembali. Di sepanjang rabu. Kecewa terbit di ufuk matamu.

Karya : Jihan Suweleh