SEPANJANG HARI RABU

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 02 Agustus 2016
SEPANJANG HARI RABU

Entah ini rabu ke berapa yang telah datang membawa hujan. Aku sedang terjaga, dan sepi kutitipkan di jendela kamar. Lagi, dan lagi kudengar suara mereka bertengkar. Mungkin ini bulan ke sekian, atau mungkin sudah tahun ke sekian. Aku tak tahu, yang kutahu hujan sedang turun di sepanjang rabu. Dan aku masih sendiran.  Memandang langit. Memandangmu.

Banyak sekali yang bertengkar hari ini. Tapi hanya aku yang sedang memendam rasa, lalu diam-diam memukul dada sendiri karena tak paham bagaimana caranya mencintai.  Cinta itu sembunyi di matanya, dan kusimpan di belakang punggungku. Kubawa hingga kutidur, tanpa jeda, tanpa diketahui siapa-siapa.

Dan sepanjang rabu, kulihat senyumnya dari belakang kepalaku. Dia seperti mimpi-mimpi yang lebih pantas dinikmati ketika tidur. Sepanjang rabu, hanya ada gelisah yang membakar diriku. Asap-asap mengepul dari telingaku. Kudengar suaranya lebih nyaring dari gesekan panci. Napasnya lebih berbunyi dari angin. Dan aku menginginkannya sebagai satu-satunya mimpi yang kupunya di dunia ini.

Walau satu dekade jalan membidik hujan di bawah langit yang keliru menyampaikan pesan, aku tetap paham bahwa sepanjang rabu ini aku telah mengingatnya. Mengingat pertemuan yang pernah datang. Di waktu yang lebih lama dari selamanya. Dan kutahu, hari ini begitu sunyi. Hingga air mata benci tuk mengalir kembali. Di sepanjang rabu. Kecewa terbit di ufuk matamu.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang singkat tetapi enak sekali dinikmati sebab menyuguhkan bahasa puitis. Pemilihan kata yang pas dengan suasana hati si tokoh. Walhasil, emosi getir sangat bisa dirasakan siapa pun yang membacanya. Selain itu, Jihan Suweleh juga lihai membuai pembaca dengan rentetan kalimat syahdu melankolis hasil imajinasinya sendiri:
    ?Sepanjang Rabu, hanya ada gelisah yang membakar diriku?
    ?Asap-asap mengepul dari telingaku?
    ?Kudengar suaranya lebih nyaring dari gesekan panci?
    ?Napasnya lebih berbunyi dari angin?.
    Cukup empat paragraf untuk mengungkapkan pedihnya memendam rasa suka mendalam kepada seseorang. Karya ini mewakilkan perasaan si tokoh dengan sangat pedih sekaligus apik pada saat yang bersamaan.

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    yayy! Welcome back!

  • Anick Ht
    Anick Ht
    1 tahun yang lalu.
    Ini adalah malam Rabo. Dan Selasaku tak seperti Rabomu.

  • Simfoni Negeri
    Simfoni Negeri
    1 tahun yang lalu.
    sepertinya mbak jihan penyair yang diam-diam menyembunyikan rasa-perasaan dalam kalimat yang cukup menggores dada. sedikit banyak menggambarkan sebuah kepiluan. saya pikir penggoresan diksi yang lebih pas akan menambah elegan bait demi bait.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    bagaimana cara membawa hujan mba?
    selain hujan air mata tentunya

    btw ini masih Selasa, jadi jangan bawa hujan.
    bawa oleh-oleh aja.
    *kabuuur

    • Lihat 15 Respon