Hari Ke-26

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 26 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5.7 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-26

Malam ini, di atas karpet merah, kududuk mengingatmu, dan menuliskan ini. Ada sedikit penyesalan, tapi bukan menyesalimu.

Aku menuliskan ini karena tadi aku menangis, dan menulis satu-satunya caraku untuk dekat denganmu. Sedikit dari tulisan ini mungkin akan mengena di hatimu, dan kau kan tahu bagaimana kembali ke hatiku. Tulisan ini akan mengarahkanmu ke sini, sebagai peta, sebagai penanda untukmu yang mungkin sudah lupa jalan pulang.

Kekasihku, ke manapun kumenoleh, tak kutemukan dirimu. Kudengar bunyi tawamu begitu dekat, tapi kau tak ada. Kekosongan ini seperti cambuk yang siap membunuhku. Sesuatu dalam dadaku siap membeku, mengikuti bekunya dirimu.

Akui saja, kita masih seperti anak kecil. Sekalipun kita sering melempar kata cinta, perpisahan tetap saja menjadi penyelesaian untuk hubungan ini. Berulang kali kita berpisah, lalu kembali, meminta maaf, lalu mengulang kesalahan. Aku takut ini menjadi perpisahan terakhir untuk kita.

Dan cinta tak lagi menjadi alasan kita tuk bertemu, atau sebagai pengingat, atau sebagai harapan agar kita masih impikan kebahagiaan di masa depan.

Hampir disetiap waktu senggang, aku berharap kau menitipkan ciumanmu di udara, lalu malaikat mencabut nyawaku, dan kematian menjadi begitu indah. Kekasihku, kita tak pernah tahu sampai kapan kita bisa saling menjaga, saling mencinta, saling memeluk, dan berharap semuanya sama-sama. Kita tak pernah tahu.

Jika memang ini menjadi perpisahan yang terakhir, peluklah aku, sedalam cintamu pada pertama kali kau bilang itu. Kita hanya butuh kenangan ketika kita selesai merajut perpisahan.

Aku lelah dengan salah paham, dan kau tak pernah mengerti dengan ketidaksengajaan yang kubuat. Mengapa kita harus bertengkar, sementara kita tahu sulit sekali melerai perselisihan. Sekali lagi kumenangis, berharap kau memintaku kembali, atau memberikan kata cinta yang terakhir sebelum semuanya benar-benar berakhir. Dan yang kandas, biarlah kandas, tapi matamu tetap harus berkilau seperti pertama kali kau tatap aku.