Hari Ke-23

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 23 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5.2 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-23

Selamat ulang tahun, Duy.

Duy, bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu? Pertemuan yang singkat itu, tatapan matamu yang dalam, dan teduh, tingkahmu yang bodoh, senyumanmu yang singkat tapi membekas, ah semuanya, Duy. Bagaimana?

Hampir-hampir dua tahun kita tidak bertemu, kau betul-betul hilang, padahal kita berteman di sosial media. Aku tak pernah berani, Duy mengajakmu berbincang duluan, setelah kau acuhkanku tempo dulu. Tapi guncangan di dadaku ini mengajakku bertempur, mereka bilang aku tetap harus maju.

Kuberanikan langkah tanganku untuk mengirim pesan padamu di sosial media. Kutanyakan kabar padamu, eh, kau juga balik tanyakan kabarku. Aku senang, Duy. Lalu kau kirim nomor handphone-mu padaku, kau bilang nomormu yang dulu hilang. Aku belum minta, Duy, tapi kau kasih duluan. Aku tambah senang. Jantungku menjadi tak karuan degupannya.

Duy, bagaimana jika aku benar-benar tak bisa melupakanmu? Sudah hampir dua tahun ini, hanya kau laki-laki yang membuatku takluk. Aku tak pernah bertahan menyukai seseorang yang tak tampak, pun jika dia tak ada sebulan, aku biasanya lupa, dan ketika dia datang, aku kembali suka.

Dan kau, Duy, laki-laki ingusan, tapi kadang terlihat dewasa juga, kau membuatku tetap memikirkanmu walau hampir dua tahun kau tak ada di mataku. Kau tumbuh, Duy, layaknya bunga, kau juga mekar, dan wajahmu seperti kupu-kupu, menyihir pikiranku karena sayapmu.

Bagaimana jika dunia ini menjadi seteduh wajahmu? Tak perlu pusing-pusing pikirkan kemarau, dan hujan deras yang membuat banjir sana-sini, mau panas, dingin, semuanya sama, Duy, membuat hati senang. Tapi hatiku saja nanti yang senang, yang lainnya biasa saja. Atau bahkan tak suka. Tapi teman-temanku bilang, kau manis, Duy. Mereka senang membicarakanmu.

Duy, setelah kau kirim nomormu waktu itu, aku betul-betul merasa tentram. Seperti rasa yang kutemui kembali setelah lama hilang. Akhirnya puisi-puisiku kau balas juga dengan hadirmu yang puitis. Tak dapat kupingkiri rasa senangku, hanya bila saja kau pergi lagi itu menyedihkanku.

Kau mendadak megah di mataku, seperti kembang api di malam tahun baru. Bagaimana ini, Duy, bagaimana jika kau juga menyukaiku? Ah, bukan aku kepedean, tapi entah, sisi kewanitaanku selalu keluar begitu jelas setiap melihat wajahmu, walau dari foto profilmu.

Maksudku, kepekaanku, kesensitifanku melihat sesuatu yang terpancar. Seperti yang kau juga tahu, Duy, laki-laki itu sebetulnya mudah ditebak, hanya saja mereka lebih suka membuat kami para perempuan ini terjebak. Tapi tidak tahu juga, sih, Duy. Kemungkinan kecil ini salah.

Perasaanku kuat sekali terhadapmu, aku selalu merasa bahwa kau diam-diam juga menyukaiku, bahkan lebih dalam dari perasaanku terhadapmu. Tapi aku pun sekecil semut, selalu merasa takut tentang apapun. Bukan hanya takut kehilangan, tapi takut juga memulai, bahkan takut ketika tahu bahwa kau juga menaruh rasa yang sama padaku, melebihi ketakutanku pada kesalahan-kesalahan di pikiranku.

Duy, maafkan aku ya, karena selalu mengganggumu. Aku tak tahu seberapa agresifnya diriku, aku hanya tahu perasaan ini tumbuh, dan takkan muat di dadaku bila harus kusembunyikan terus menerus.

Aku wanita, dan sulit sekali mengatakan cinta di negeri ini, tanpa disebut genit, tanpa dicibir murahan. Maka itu aku hanya bisa memberikanmu kode-kode yang kelewat picik, yang mungkin membuat keningmu mengernyit. Dan kau menjadi ilfeel. Tidak apa, tidak masalah, setidaknya perasaanku sudah tuntas kupresentasikan.

Duy, jangan marah ya, bila aku sering menyusahimu, selalu menanyakan kabarmu, dan merindukanmu kelewat sering, tak usah kau khawatirkan itu, sebab aku tak akan pusing-pusing memerhatikanmu jika aku tak mencintaimu. Kelak, jika rasa ini sirna, aku juga akan menghilang dengan sendirinya, tanpa kau minta, tanpa kau usir dulu secara blak-blakan.

Tapi jika kau minta aku kembali, aku pasti kembali. Tidak akan kukejar lagi jika bukan pintamu. Hanya saja, Duy, mungkin yang akan datang aku tak sepeduli ini, sebab pasti akan banyak laki-laki yang menyukaiku setelah ini. Dan aku akan sok cantik, tak apa kan sesekali meninggikan harga diri?

Andai kata ini percuma, mungkin bagi orang lain, bagiku tidak. Tak ada yang sia-sia untuk sebuah kejujuran. Aku tak perlu lelah membatin, dadaku takkan sesak diteriaki perih. Aku mencintaimu. Semoga kau membaca ini.

Jika boleh sekali saja aku meminta, Duy. Aku ingin kau tetap manis, bersikap baik pada semua orang, seperti sekarang, kau hangat, dan memberi efek menenangkan. Aku selalu ada di sekitarmu, sebagai debu, tapi jika kau ingin membuatku menjadi angin yang menerbangkanmu, boleh saja, dengan senang hati. Tapi angin hanya bisa dirasakan, tak bisa menempel seperti debu-debu di wajah kita. Tapi sama saja ya, Duy, debu kalau dicuci hilang juga. Terserah kau lah itu, kuserahkan padamu. Aku hanya ingin berguna untukmu, setidaknya tak membuatmu sedih.

Duy, ketika kau jatuh cinta, kau ingin membahagiakan, atau dibahagiakan? Kau ingin mengalah, atau memenangkan? mengerti, atau dimengerti? Minta maaf, atau memaafkan? Bertahan, atau dipertahankan? Berjuang, atau diperjuangkan? Mengekang, atau merelakan?

Aku mencintaimu, Duy, kau tak perlu susah payah menjawab. Cukup kau pilih wanita yang akan kau pilih, sebab tugas lelaki tuk memilih, sementara wanita tuk dipilih. Aku mencintaimu, dan tak menyesal akan itu.