Hari Ke-22

Jihan Suweleh
Karya Jihan Suweleh Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 22 Maret 2016
Surat Cinta di Bulan Maret

Surat Cinta di Bulan Maret


Kutuliskan 31 Surat Cinta untuk Maret. Semoga kau bahagia, sebab kutuliskan ini dengan bahagia juga.

Kategori Acak

5.2 K Hak Cipta Terlindungi
Hari Ke-22

Untuk kamu.

Temanku, perlakuanmu kemarin sangat menyakitiku. Kau mungkin belum merasakan dicaci, kau terlihat lucu sekali ketika menertawakan orang lain. Temanku, kesunyian itu ada di dalam diri kita masing-masing, dan orang yang paling mersakan sepi ialah yang sulit menerima kejelekan orang lain.

Ya, itu hanya menurutku, kau tak usah ragu tuk percayakan itu, iyakan saja, kita kan teman. Tapi ini pun karena kita teman, makanya kutuliskan ini untukmu. Jujur, aku tak suka melihatmu tertawa, dan meledek orang seperti kemarin. Tak ada gunanya, sayang, kau tak akan mendapat apa-apa setelahnya.

Jika kau senang, itu pun sementara, tak akan berimbas sampai bahagia. Teman, sekali lagi, ini karena kita teman. Kelak, bila kau ditertawakan orang lain, jangan mengeluh, mungkin itu sebagian balasan pesan dari apa yang sudah kau kirimkan sebelumnya.

Kejahatan tak melulu berdarah-darah. Pembunuhan karakter pun menyakitkan, bahkan lebih sakit dari pisau yang ditancapkan di kepalamu. Kali ini juga kau tak perlu percaya, teman, ini hanya kataku, iyakan saja biar cepat. Tapi yang ini aku serius, pukulan kadang tak begitu meninggalkan luka yang dalam, disembuhkan dokter mungkin bisa mereda. Tapi penyakit hati, sulit sekali, banyak orang yang bertahan pada dendam, sekalipun ia tak mau memendam.

Mungkin sama halnya denganmu, teman. Banyak orang yang menertawakan kekurangan orang lain, sementara ia lupa kekurangannya, dan tertawa untuk senang, tertawa agar terlihat suka piknik, dan tak panik ketika dikata-katai, padahal tak juga.

Temanku, jaga dirimu baik-baik, ya. Aku tak ingin melihatmu sedih di akhir, bila kau ingin bersusah-susah, di awal saja, sini, kita sama-sama berjuang. Jangan menjadi orang kecil yang menganggap dirinya besar. Kita sama-sama setitik, bahkan lebih kecil dari koma, tapi kita bisa mengakhiri semuanya.

Teman, suratku ini untukmu, dibaca, ya. Walau kutahu kau tak suka baca tulisanku, tapi cobalah memulai menerima segala kurangku, jangan tertawakan aku lagi di depan umum.