SI PONDIK

yohanes jalin
Karya yohanes jalin Kategori Budaya
dipublikasikan 25 Januari 2018
SI PONDIK

NAMA                                   : YOHANES JALIN

KELAS/SEMESTER           : C/VII

NIM                                        : 142 211 1126

 

SI PONDIK

Seorang anak mudah yang malas  bekerja, punya akal tapi licik

Dahulu, ada kampung kecil bernama kampung Like, hiduplah seorang anak mudah yang malas. Namanya Pondik. Ia memiliki akal ketika melakukan sesuatu tapi sayang, akalnya di gunakan hanya untuk menipu orang.

Ketika itu ia sedang duduk santai di depan teras gubuknya. Si Pondik berpikir keras bagaiamana ia  mendapatkan makan untuk  hari itu. Anak itu memang miskin, ia tidak memiliki tanah atau ladang untuk dikerjakan, tanahnya hanya di gubuk kecilnya yang ia tempati. Lagi pula anak mudah ini sangat malas bekerja. Untuk mendapatkan makan sehari-hari, ia bersusah payah  berjalan dari satu kampung ke kampung  lain hanya untuk mencari orang yang sedang mengadakan acara pesta. Begitulah cara si Pondik untuk bertahan hidup sehari-hari.

Suatu hari, si Pondik melewati sebuah kampung tetangga. Kebetulan di kampung itu masyarakatsedang mengadakan acara. Ia gembira sebab itu kesempatan baginya untuk makan. Setelah mendapat makan di acara itu, ia seperti biasanya selalu meminta beras dan sepotong daging untuk dibawah pulang kerumahnya.

Ketika berjalan pulang ke rumahnya, tiba-tiba ia melihat  sebuah  sangkar burung nuri di sebuah pohon.

 “ Sepertinya aku akan mendapatkan rezeki banyak hari ini,” pikir Pondik dengan licik.

 Dengan hati-hati ia mengambil burung nuri dan sangkarnya dan di masuk kedalam karung. Kemudian karung itu dibawah ke rumahnya. Sesampainya  di kampung, si Pondik jalan keliling kampung sambil berteriak

“Burung nuri..... ajaib,”  burung nuri ini bisa bicara siapa yang mau beli? ayo silakan merapat, ayo mari bapak, mari ibu, mari teman-teman.

Ketika mendengar teriak si Pondik, semua warga kampung tertarik mengerumuninya.

“ Hai Pondik, bukankah burung nuri itu seharusnya bersuara, mangapa burung nuri milik kau bisa berbicara?” Seharusnya yang bisa bicara itu kita manusia saja.  Kata si Lawe Lenggong temannya.

Sambil memegang burung nuri tersebut si Pondik jawab dengan santai.

“ Burung nuri ini bisa bicara pada saat saat tertentu  Lawe Lenggong, kalau kau mau beli silakan, kalau tidak mau tidak dipaksa juga masih banyak warga yang mau beli nanti.”

Ketika hari sudah sore burung nurinya pun tidak laku di jual, dan hari itu Si Pondik kurang beruntung.

Keesokan harinya si Pondik lagi-lagi berjalan keliling kampung untuk melanjutkan jual burung nuri itu. Setelah beberapa jam kemudian burung  itu pun laku di jual juga hari itu. Si Pondik bahagia dan senang saat menerima uang dari si pembeli. Pada saat mau pulang ke gubuknya, si Pondikkasihmasukan kepada si pembeli katanya.

“ Kau boleh berbicara dengan nuri  ini pada saat kau berada di rumah.”      

Begitu si Pondik pergi, si pembeli kembali ke rumahnya dengan tak sabar untuk mendengar burung nuri itu berbicara. Sepanjang hari si pembeli hanya duduk sampai ketiduran untuk mendengar burung nuri itu berbicara, tapi sayangnya burung nuri yang ia beli dari si Pondik hanya diam dan menggerakkan ekornya.

Hari berganti hari burung nuri itu tidak pernah berbicara, hanya tunggu kasih makan dari pemiliknya. Sadar sudah di tipu oleh si Pondik , si pembeli kecewa, menyesal dan marah. Dengan muka marah si pembeli mengajak warga kampung untuk mencari si Pondik.

“ Itu dia.. teriak warga kampung  setelah mendapatkan si Pondik yang lagi santai di depan gubuknya. Mereka pun membawahnya keliling kampung untuk di adili.”

Karena telah dianggap menipu orang , Kepala Suku Kampung menghukum si Pondik dan kedua tangannya di ikat lalu digantung pada sebuah pohon. Menyesal atas perbutannya si Pondik pun meminta maaf pada si pembeli dan  warga kampung, tetapi hukuman tetap berlanjut. Namanya si Pondik tetaplah si Pondik yang licik, bukannya menyesal atas perbuatannya, ia malah menjebakan Lawe Lenggong temannya sendiri untuk menggantikannya pada hukuman.

“Kau lagi apa Pondik? Kata Lawe Lenggong yang baru pulang dari hutan.”

 Sambil berayun-ayun, “oh, aku lagi berolahraga,” jawab si Pondik.

Wah, rajin sekali kau pantas perut dan badanmu ramping dan kekar, pujian Lawe Lenggong pada Pondik.                                                                                                                                   

Mendengar pujian itu, si Pondik langsung muncul ide liciknya untuk menawar Lawe Lenggong mencoba olahraga tersebut.

“Kau mau coba atau tidak? Kata Pondik pada Lawe Lenggong.”

Lawe Lenggong yang polos ingin mencoba olahraga Pondik.

Dengan segera Lawe Lenggong pun bantu melepaskan ikatan tangan si Pondik.Setelah ikatan di lepas Lawe Lenggong pun diikat dan digantung di atas pohon. Setelah berayun-ayun sepanjang hari, Lawe Lenggong pun mulai kesakitan tangannya. Sedangkan si Pondik sudah pergi jauh dari tempat hukuman itu. Untunglah ada si Me Leke yang sedang lewat di tempat hukuman itu.

“Lawe Lenggong, sedang apa kau di sini? Bukannya si Pondik  yang seharusnya menjalani hukuman itu, mengapa jadi kau,”  Kata Me Leke.

“Hukuman?” Tanya Lawe Lenggong dengan heran.

“ Iya, si Pondik kena hukuman karena ia telah menipu orang dan warga sekampung,”  jawab Me Leke.

Setelah Me Leke menjelaskan semua masalahnya, Lawe Lenggong baru sadar  kalau si Pondik telah menipu dirinya. Ia pun menyesal dengan perbuatan si Pondik. Pada saat itu juga mereka mencari si Pondik, setelah mendapatkan kembali si Pondik, mereka menyeretnya kembali ke kampung dan lapor di kepala suku kampung atas perbuatannya.  Setibanya di kampung , kepala suku memberikan hukuman bagi si Pondik yaitu menyerahkan seekor sapi jantan yang besar dan gemuk.

Dengan akal liciknya, si Pondik sanggup dengan permintaan itu. Tapi ia tidak mengerti caranya untuk mendapatkan sapi yang besar dan gemuk seperti yang diminta kepala suku tadi. Ia  berpikir keras, meski  bingung si Pondik menyusuri kampung tetangga  yang sedang mengadakan pesta. Kebetulan perutnya lagi kosong,  ia sempat makan pada acara tersebut. Hari itu ia cukup beruntung.

Sehabis makan , ia melihat rombongan orang sedang memotong sapi, akhirnya ia mendekat  dan setengah memohon ia meminta agar  bagian kepala dan leher sapi itu diberikan kepadanya. Karena ada rasa kasihan, orang-orang itu pun memberikannya.

Dalam perjalanan pulang ke kampungnya, ia senang dan gembira. Si Pondik pun melanjutkan pikiran liciknya, yaitu bagaimana cara untuk dipercaya oleh warga kampung dan idenya pun muncul yaitu dengan menanam kepala sapi itu di kubangan lumpur. Seutas tali diikatkan ke leher sapi dan ujung talinya diikatkan pada kayu, setelah itu ia kembali ke kampung  untuk memberi tahu warga kampung dan kepala suku.

Setelah sampai di kampung ia berteriak.

 “ Aku sudah menyiapkan sapi yang kalian minta.”

 Sapi itu aku ikatkan di kubangan lumpur di samping kampung, kalian boleh mengambilnya di sana. Setelah berkata demikian, si Pondik cepat-cepat mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan kampung halamannya secara diam-diam.

Mendengar teriakan tersebut, beberapa warga kampung pergi ke kubangan itu, sampai disana mereka melepaskan ikatan sapi di kayu dan menarik sapi tersebut. Tetapi apa yang terjadi pada saat itu , ternyata yang mereka dapatkan hanyalah kepala sapi dan lehernya.

Dengan perasaan marah dan kesal, warga kampung akhirnya tahu kalau Si Pondik telah menipu mereka dan ia melarikankan diri dari kampung secara diam-diam.

Setelah itu, warga kampung membiarkan ia pergi. Dengan begitu, ia telah menghukum dirinya sendiri. Dan setelah itu pun semua warga kampung kembali ke rumah mereka masing-masing.

 

Pesan dari cerita ini:

Hidup itu untuk saling membantu sesama, gunakanlah akal kita untuk berbuat hal-hal yang baik, bukan untuk berbuat hal-hal yang negatif dengan menipu banyak orang.

 

 

  • view 23