KurinduITD - Konflik Wawasan Dunia

Jessica Layantara
Karya Jessica Layantara Kategori Filsafat
dipublikasikan 24 Oktober 2016
KurinduITD - Konflik Wawasan Dunia

Penyebab utama dari terjadinya diskriminasi adalah konflik wawasan dunia. Istilah wawasan dunia, atau dalam bahasa Jerman disebut Weltanschauung, pertama kali dimunculkan oleh Immanuel Kant dalam bukunya, Critics of Judge (1790). Wawasan dunia secara umum dapat didefinisikan sebagai persepsi seseorang dalam memandang segala sesuatu. Wawasan dunia dapat diibaratkan sebagai lensa yang digunakan oleh setiap orang untuk memandang dunia ini. Artinya, setiap manusia pasti memiliki wawasan dunia tertentu dalam memandang segala hal. Wawasan dunia yang dianut seseorang dapat terbentuk dari berbagai faktor, seperti pola asuh, pendidikan, agama, dan lain-lain. Contohnya, seseorang yang sudah terbiasa dididik secara Islam akan memandang bahwa makanan yang mengandung babi adalah haram. Sedangkan orang yang tidak dididik secara Islam, bisa berpandangan sebaliknya. Tetapi ada pula orang non-Islam yang tidak makan babi karena ia telah mendapatkan pengetahuan yang cukup mengenai bahaya-bahaya yang akan terjadi jika seseorang mengkonsumsi daging babi, seperti lemak berlebih dan bahaya cacing pita.

Demikianlah dunia ini dipenuhi oleh manusia yang membawa wawasan dunianya masing-masing. Wawasan dunia ini sangat teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti di kantor, di rumah, maupun di sekolah. Permasalahannya adalah ketika orang-orang yang memiliki wawasan dunia berbeda-beda berkumpul dalam suatu lokasi tertentu, contohnya di suatu negara, maka biasanya akan terjadi sebuah konflik. Konflik ini bisa kita kenal dengan konflik wawasan dunia, seperti yang diungkapkan Ronald Nash dalam buku yang berjudul sama (Momentum, 2000). Konflik ini terjadi karena masing-masing orang membawa wawasan dunianya masing-masing, yang sangat berbeda satu sama lain, ke sebuah lokasi yang sama. Keberbedaan wawasan dunia itu sendiri sebenarnya belum merupakan konflik, tetapi jika masing-masing pihak mempertahankan wawasan dunianya sebagai wawasan dunia yang paling benar, sementara yang lain diklaim sebagai wawasan dunia yang salah, maka konflik wawasan dunia pasti terjadi.

Jika tidak diselesaikan sejak dini, maka konflik ini akan mendatangkan rasa tidak nyaman terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak sejalan dengan wawasan dunianya. Rasa tidak nyaman ini melahirkan keinginan yang kuat untuk menyeragamkan. Jika tindakan menyeragamkan gagal, maka rasa tidak nyaman ini akan melahirkan diskriminasi dan keinginan untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap tidak sejalan dengan dirinya. Sepenggal puisi yang ditulis oleh Denny J.A. sangat menggambarkan hal ini:

Merah, kuning, hijau, jingga

Warna pelangi yang setara

Tidak, ujar halilintar

Langit hanya untuk jingga.[1]

 Diskriminasi sendiri didefinisikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai “pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya).” Dalam Kamus Oxford, Merriam Webster, dan Cambridge, makna kata ini diperdalam, yaitu tidak hanya berbicara mengenai pembedaan perlakuan, tetapi menerapkan “perlakuan yang tidak adil” (unfair treatment) terhadap orang-orang yang dianggap berbeda dengan diri mereka. Tentu saja perbuatan ini mendatangkan sebuah kekacauan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, apalagi mengingat Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya, dan juga agama.

Oleh sebab itu, bangsa Indonesia harus mulai menyadari akar dari permasalahan diskriminasi sesungguhnya adalah konflik wawasan dunia. Wawasan dunia selalu bersifat idealis, artinya eksistensinya ada di dalam dunia ide atau pikiran. Ini berarti, untuk menyelesaikan konflik wawasan dunia, kita juga harus masuk ke dalam ranah pikiran masing-masing warga negara. Tindakan anarkis jelas bukanlah solusi dari konflik wawasan dunia. Kampanye dan demonstrasi juga bukanlah solusi yang tepat, karena hanya dilakukan sesekali, dan dengan demikian mustahil untuk mengubah pola pikir manusia Indonesia yang “sudah terlanjur” teracuni oleh konflik wawasan dunia dan tindakan diskriminasi. Lalu apa solusinya? Solusi yang tepat, setidaknya menurut saya secara subyektif, adalah seperti apa yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, yaitu Revolusi Mental.

Presiden Joko Widodo sudah mengenali masalah terdalam yang ada di dalam bangsa kita, yaitu masalah mental, pikiran, wawasan dunia. Solusi yang diberikannya untuk hal ini adalah revolusi. Arti kata revolusi sendiri adalah “perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang” (KBBI). Kata revolusi sendiri memiliki makna yang lebih kuat daripada reformasi. Ada sedikit unsur memaksa di dalam kata revolusi, meskipun tidak harus dilakukan dengan kekerasan. Artinya, solusi untuk masalah diskriminasi yang berakar pada konflik wawasan dunia adalah dengan mengadakan revolusi mental besar-besaran. Tetapi revolusi ini tidak akan berhasil jikalau tidak ada sebuah wawasan dunia baru yang menjadi tujuan sakral bangsa Indonesia. Wawasan dunia yang baru harus dibentuk. Wawasan dunia yang baru ini harus solid dan diterima oleh semua warga negara. Wawasan dunia ini harus bersifat menyeluruh, bukan wawasan dunia agama atau suku tertentu. Wawasan dunia ini harus merupakan cita-cita seluruh bangsa. Wawasan dunia ini tak lain dan tak bukan adalah wawasan dunia yang berdasar pada ideologi Pancasila dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Sebenarnya, ini bukan wawasan dunia yang benar-benar baru. Presiden pertama kita, Soekarno, telah menggunakan wawasan dunia yang sama untuk membangun negara Indonesia. Istilah yang dipakai oleh Soekarno saat itu adalah “Wawasan Nusantara.” Wawasan Nusantara didefinisikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia mengenai dirinya sesuai dengan Pancasila dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Ternyata ini sama sekali bukan hal yang baru. Soekarno juga menyadari betapa rentannya bangsa Indonesia yang penuh kemajemukan masuk ke dalam jurang diskriminasi. Oleh sebab itu pada awal pembentukan negara ini ia menciptakan sebuah wawasan dunia yang khusus, yaitu Wawasan Nusantara. Tetapi yang sekarang kita dapati hanyalah puing-puing dari briliannya pemikiran Soekarno. Beruntungnya, Presiden Joko Widodo telah memiliki kepekaan untuk kembali kepada tujuan mula-mula Soekarno dan mencoba mengembalikan wawasan dunia Indonesia kepada wawasan dunia yang seharusnya, yaitu Wawasan Nusantara.

Dalam mewujudnyatakan Wawasan Nusantara ini, harus terdapat kerjasama antara pemimpin negara dengan warga negara. Pemimpin negara harus membuktikan bahwa pihaknya konsisten dalam menegakkan wawasan dunia tersebut, dalam arti berani untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, ideologi negara ini bersifat memaksa, dan pemerintah siap untuk menindak warga negara yang tidak mematuhi ideologi ini. Wawasan Nusantara ini juga harus dipupuk di sekolah-sekolah, universitas-universitas, juga di lembaga-lembaga pendidikan yang lainnya. Pemerintah harus siap menyediakan kurikulum yang pasti untuk mendidik warga negara khususnya kaum muda, untuk memberantas diskriminasi. Selanjutnya, warga negara juga harus besar hati dalam mengikuti penegakkan wawasan dunia ini. Memang bukanlah tugas yang mudah, mengingat bahwa setiap orang pasti memiliki wawasan dunianya masing-masing. Dibutuhkan rasa toleransi yang besar untuk menanggalkan wawasan dunia yang dirasa paling benar, lalu dengan rasa kebangsaan yang besar berusaha membangun sebuah wawasan dunia baru, yaitu Wawasan Nusantara.

Kesimpulannya, usaha revolusi mental ini membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Ini menuntut kita sebagai warga negara untuk mendukung usaha pemerintah dalam menegakkan kembali Wawasan Nusantara. Kita sendiri juga harus menanggalkan wawasan-wawasan dunia pribadi kita sendiri, seperti wawasan dunia agama atau suku tertentu, demi menerapkan wawasan dunia Indonesia yang berlandas Pancasila. Tindakan ini diharapkan akan meminimalisasi konflik wawasan dunia yang berujung pada tindakan diskriminasi.

 

[1] Denny J.A, “Menyeragamkan (2),” Sorga di Bumi, 71.

Biodata Penulis:
Jessica Novia Layantara, M.Th.
Dosen Fakultas Liberal Arts Universitas Pelita Harapan.

  • view 369

  • Rydho Bagus
    Rydho Bagus
    1 tahun yang lalu.
    Mantap
    wawasan dunia dan wawasan nusantara. Dua hal yg memiliki konotasi sama. Namun, secara terminologi berlainan. Karena dicipta oleh tokoh yg berbeda dan di dunia yg berbeda.

  • Wisesa Wirayuda
    Wisesa Wirayuda
    1 tahun yang lalu.
    Suka

    Revolusi mental memag sangat dibutuhkan oleh Indonesia sekarang ini. apalagi banyak banget kelompok fundamental agama yang makin leluasa seolah diberi ruang oleh pemerintah untuk menebar kebencian...