Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Teknologi 15 September 2018   06:50 WIB
7 Tips Memproduksi Konten Di Era Digital untuk Startup Indonesia

 

Sebelum memproduksi konten, Anda harus menentukan apa tujuan dan hasil yang diinginkan dari konten tersebut? Apakah Anda bertujuan untuk meningkatkan awareness? Meningkatkan engagementI? Atau ingin meningkatkan positioning brand perusahaan startup Anda?

Dengan tujuan yang jelas, maka Anda akan lebih mudah menentukan target pembaca, bentuk konten, dan channel apa saja untuk mendistribusikannya. Jika Anda bertujuan untuk meningkatkan legitimasi brand perusahaan, maka mendistribusikan melalui media adalah cara yang paling tepat. Brand Anda akan lebih mudai diakui masyarakat jika media-media di Indonesia sudah membicarakan atau mengulas produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan Anda.

Sedangkan bila Anda bertujuan untuk meningkatkan user engagement, maka Anda harus mendekati di mana user Anda berada. Apakah di sosial media, di forum-forum, atau di channel lain.

Ketahui Siapa Pembaca Konten Anda?

 

Memproduksi konten tapi tidak memahami siapa yang akan membacanya adalah seperti berjualan payung di musim kemarau. Saat mengenalkan bisnis, ada baiknya pahami dulu siapa pembaca Anda di masing-masing channel distribusi yang diinginkan.

Hampir semua startup Indonesia pasti ingin menyampaikan konten mereka kepada media. Namun ketahuilah bahwa setiap media memiliki keunikan dan demografi pembacanya sendiri-sendiri. Dengan keunikan target pembaca masing-masing, maka tidak semua konten bisa didistribusikan ke semua media. Istilah lainnya no one size fits to all.

Dengan mengetahui pembaca, Anda dapat lebih memahami konten dan pendekatan cerita apa yang lebih dibutuhkan oleh mereka. Misal sebuah media dengan demografi pembacanya lebih banyak laki-laki dengan ketertarikan tinggi terhadap fitur gadget, tips and trick, dan fakta-fakta menarik, mungkin Anda bisa bermain konten di seputar itu. Berbeda dengan media mainstream yang lebih banyak membahas berita umum, tentu Anda tidak mungkin membagikan konten yang bersifat klenik atau astrologi, kan?

Perbanyak Referensi Bacaan Anda

 

Untuk memiliki terobosan baru dalam membuat konten, tentu Anda membutuhkan lebih banyak referensi. Dengan menambah bacaan Anda akan memberikan lebih banyak wawasan dan kosa kata yang Anda tulis.

Contoh: jika Anda ingin membuat konten yang menyentuh isu mengenai perkembangan e-commerce di Indonesia, maka banyak-banyaklah membaca berita mengenai e-commerce, memelajari sejarah e-commerce, dan membaca riset/studi mengenai e-commerce. Dengan menambah wawasan tersebut, Anda akan terbiasa dengan terminologi dan konsep-konsep yang berhubungan dengan e-commerce yang akan mempermudah Anda menyalurkan ide dan cerita melalui tulisan/konten yang Anda buat.

Seperti pekerja seni yang sedang mencari inspirasi karya terbarunya, seorang content creator atau content marketer juga perlu menambah referensi bacaan untuk menjaga kualitas kontennya.

Mengukur kualitas dari sebuah konten memang tidak bisa hanya diukur berdasarkan berapa jumlah orang yang membaca atau berapa jumlah orang yang membagikannya, tapi juga perlu diukur seberapa besar dampak konten tersebut dapat menambah pengetahuan bagi pembacanya atau bahkan hingga mengubah persepsi pembaca terhadap suatu hal.

Eksplorasi Konten dengan Berbagai Medium

 

Kreativitas pembuat konten dalam mengemas cerita memang sangat diuji dalam perang content marketing di era sekarang. Ada berbagai macam medium yang bisa dieksplor untuk menyampaikan cerita Anda.

Lakukan berbagai macam eksperimen melalui berbagai medium dan channel seperti membuat video di Youtube, stop motion, membuat survei atau polling di Instagram, atau grafik yang menarik.

Tantangan utamanya adalah bagaimana mencari angle yang menarik dan tidak biasa sehingga pembaca tidak merasa bosan? Pertama-tama adalah selalu amati tren yang sedang naik di sekitar Anda. Dari tren tersebut, cobalah untuk mengeksplor sisi lain yang belum pernah ada orang yang membuatnya.

Melakukan A/B testing juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengetes konten seperti apa yang lebih disukai oleh target pembaca. Apakah mereka lebih suka konten in-depth, konten dengan visual infografik, konten berbentuk video, dan sebagainya.

Contoh taktik content marketing yang cukup berhasil di era sekarang adalah dengan menarik engagement user di medium Instagram. Banyak sekali brand yang sudah membungkus seri cerita yang menarik di InstaStory mereka dengan mengajak dialog pengikutnya. Mulai dari membuat polling, kuis, atau berbagi kisah yang kemudian menggiring user untuk menggunakan produk brand tersebut (conversion).

Data dan Riset adalah Elemen Seksi dalam Konten

 

Data is the new story. Elemen seksi dalam konten di jaman sekarang adalah bagaimana kita mengemas data atau riset ke dalam sebuah cerita. Meski konten yang Anda produksi bersifat ringan pun akan lebih menarik bila dibumbui sedikit data.

Misalnya startup Anda ingin mengenalkan produk foundation terbaru untuk perempuan Indonesia. Konten yang berisi seberapa bagus produk Anda dan komposisi apa yang digunakan tentu sudah membosankan. Tapi akan berbeda bila Anda membicarakan seberapa banyak perempuan Indonesia yang mengeluhkan warna foundation yang tidak cocok dengan warna kulit mereka.

Selain itu, usahakanlah untuk selalu mengolah data yang lebih mudah dicerna pembaca. Di jaman yang serba online ini, banyak selalu sumber data (gratis maupun berbayar) yang bisa Anda manfaatkan sebagai elemen cerita. Misalnya Anda ingin membandingkan persaingan pemain startup yang bergerak di bidang fintech di Indonesia, jika Anda memiliki sumber data terpercaya untuk itu, Anda bisa mengkompilasikan data tersebut menjadi satu cerita. Misalnya mana startup fintech yang memiliki fasilitas keuangan terbanyak, seberapa banyak penggunanya sekarang, dan sebagainya.

Kemaslah data ini menjadi cerita yang menarik supaya pembaca pun lebih mudah memahami dan merasa relevan dengan pengalaman mereka. Lagi-lagi pengemasan cerita ini dibutuhkan kreativitas yang tinggi sehingga hasil konten yang Anda buat dapat tersampaikan dengan jelas kepada pembaca.

Content Planning yang Tepat agar Tetap Relevan

 

Terkadang ide konten bisa datang tiba-tiba. Namun tidak semua ide harus langsung diimplementasikan saat itu juga.

Sama seperti aktivitas atau program perusahaan lainnya, produksi dan distribusi konten pun harus direncanakan secara matang agar tidak tetap relevan. Dalam setahun atau per kuartal Anda sudah merencanakan akan merilis konten apa saja sesuai dengan tren yang ada di masyarakat. Misalnya konten tahunan seperti bulan Ramadan, hari Kemerdekaan Indonesia, dan lain-lain.

Adapun Anda juga perlu menajamkan insting untuk mengetahui event-event spesial yang akan datang, seperti acara Asian Games, peluncuran Samsung Galaxy Note 9, dan lain-lain.

Dengan adanya content planning, Anda dapat mereproduksi konten di dalam timeline yang tepat dan sesuai dengan momentum yang ada. Tidak mungkin kan memproduksi konten Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) namun dirilis di bulan Mei?

Evaluasi Performa Konten

 

Salah satu kesalahan umum bagi pembuat konten adalah tidak melakukan evaluasi performa konten-konten yang telah dibuat. Gunakanlah metrik-metrik tertentu sebagai pengukur. Mulai dari seberapa banyak media yang mempublikasikan, seberapa banyak publikasi organik setelah Anda mendistribusikan konten tersebut, atau berapa jumlah engagement konten di sosial media.

Anda bisa menggunakan dua jenis metrik untuk mengukur performa konten. Pertama adalah vanity metrics dan clarity metrics. Vanity metrics adalah pengukuran performa yang umumnya berupa angka (jumlah pengikut, jumlah orang yang mengunduh aplikasi, dll). Sedangkan clarity metrics adalah pengukuran seberapa besar dampak konten yang Anda buat yang membuat bisnis Anda unik dibanding kompetitor lainnya. Seperti impresi orang terhadap image brand Anda, seberapa besar kredibilitas produk/jasa yang Anda tawarkan, dan berapa lama waktu Anda menggiring user hingga akhirnya menggunakan produk dan jasa Anda.

***

Terimakasih kepada 11 media yang kami wawancari: Liputan 6 (Irna Gustiawati, M Iqbal Reza F, Tommy Kurnia), Detik.com (Achmad Rouzni Noor II), Tirto (Nurul Qomariyah P), Kompas.com (Wisnu Nugroho), Metrotvnews (Muhammad Mamduh, Ellavie Ichlasa A), Beritasatu (Nurlis E Meuko, Anselmus Bata, Heru Andriyanto), Okezone (Muhammad Budi Santosa, Fetra Malona H, Achmad Lutfi), Dailysocial (Amir Karimuddin, Wiku Baskoro), Tech in Asia (Pradipta Nugrahanto), CNN Indonesia (Ervina Anggraini, Eka Santhika P, Ike Agestu), dan Brilio.net (Yani Andryansyah).

 

Source: iPrice Indonesia

Tim iPrice berkesempatan untuk mewawancarai narasumber dari 11 media di Indonesia untuk memberikan pengetahuannya dalam memproduksi konten di era digital.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perang konten nyata adanya bagi pelaku startup Indonesia untuk meraih awareness masyarakat mengenai produk/jasa yang kita jual. Dengan menginseminasi konten secara konsisten dan berkelanjutan, diharapkan target pembaca akan memahami pesan yang disampaikan dan berujung pada perubahan perilaku.

Meski secara teori terlihat mudah diaplikasikan, nyatanya tidak sesimpel itu. Untuk urusan konten, kita perlu memiliki terobosan unik yang membuatnya selalu stand out dan lebih banyak didengar oleh pembaca.

Urusan membuat konten, media massa adalah ahlinya. Sehari-hari melihat, mengamati, atau bahkan menciptakan peristiwa membuatnya menjadi portal yang paling terpercaya untuk menyampaikan konten kepada masyarakat.

Di bulan Juli lalu, kami berkesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan 11 media di Indonesia yakni Liputan 6, Metrotvnews, Beritasatu, Detik.com, Tirto, Kompas.com, Okezone, Dailysocial, Tech in Asia, CNN Indonesia, dan Brilio.net. Perbincangan tersebut bertujuan untuk mencari insights bagaimana mereka mencari ide dalam membuat konten, mengemasnya dalam cerita, hingga akhirnya menjadi konten yang bermanfaat bagi pembaca.

Dengan mengamati apa yang mereka lakukan menjadi pemahaman baru bagi kami bagaimana memproduksi konten di era digital. Berikut ringkasan tips dari media-media tersebut yang bisa Anda pelajari untuk perusahaan startup Anda.

Tentukan Tujuan dari Konten yang Anda Produksi

 

Sebelum memproduksi konten, Anda harus menentukan apa tujuan dan hasil yang diinginkan dari konten tersebut? Apakah Anda bertujuan untuk meningkatkan awareness? Meningkatkan engagementI? Atau ingin meningkatkan positioning brand perusahaan startup Anda?

Dengan tujuan yang jelas, maka Anda akan lebih mudah menentukan target pembaca, bentuk konten, dan channel apa saja untuk mendistribusikannya. Jika Anda bertujuan untuk meningkatkan legitimasi brand perusahaan, maka mendistribusikan melalui media adalah cara yang paling tepat. Brand Anda akan lebih mudai diakui masyarakat jika media-media di Indonesia sudah membicarakan atau mengulas produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan Anda.

Sedangkan bila Anda bertujuan untuk meningkatkan user engagement, maka Anda harus mendekati di mana user Anda berada. Apakah di sosial media, di forum-forum, atau di channel lain.

Ketahui Siapa Pembaca Konten Anda?

 

Memproduksi konten tapi tidak memahami siapa yang akan membacanya adalah seperti berjualan payung di musim kemarau. Saat mengenalkan bisnis, ada baiknya pahami dulu siapa pembaca Anda di masing-masing channel distribusi yang diinginkan.

Hampir semua startup Indonesia pasti ingin menyampaikan konten mereka kepada media. Namun ketahuilah bahwa setiap media memiliki keunikan dan demografi pembacanya sendiri-sendiri. Dengan keunikan target pembaca masing-masing, maka tidak semua konten bisa didistribusikan ke semua media. Istilah lainnya no one size fits to all.

Dengan mengetahui pembaca, Anda dapat lebih memahami konten dan pendekatan cerita apa yang lebih dibutuhkan oleh mereka. Misal sebuah media dengan demografi pembacanya lebih banyak laki-laki dengan ketertarikan tinggi terhadap fitur gadget, tips and trick, dan fakta-fakta menarik, mungkin Anda bisa bermain konten di seputar itu. Berbeda dengan media mainstream yang lebih banyak membahas berita umum, tentu Anda tidak mungkin membagikan konten yang bersifat klenik atau astrologi, kan?

Perbanyak Referensi Bacaan Anda

 

Untuk memiliki terobosan baru dalam membuat konten, tentu Anda membutuhkan lebih banyak referensi. Dengan menambah bacaan Anda akan memberikan lebih banyak wawasan dan kosa kata yang Anda tulis.

Contoh: jika Anda ingin membuat konten yang menyentuh isu mengenai perkembangan e-commerce di Indonesia, maka banyak-banyaklah membaca berita mengenai e-commerce, memelajari sejarah e-commerce, dan membaca riset/studi mengenai e-commerce. Dengan menambah wawasan tersebut, Anda akan terbiasa dengan terminologi dan konsep-konsep yang berhubungan dengan e-commerce yang akan mempermudah Anda menyalurkan ide dan cerita melalui tulisan/konten yang Anda buat.

Seperti pekerja seni yang sedang mencari inspirasi karya terbarunya, seorang content creator atau content marketer juga perlu menambah referensi bacaan untuk menjaga kualitas kontennya.

Mengukur kualitas dari sebuah konten memang tidak bisa hanya diukur berdasarkan berapa jumlah orang yang membaca atau berapa jumlah orang yang membagikannya, tapi juga perlu diukur seberapa besar dampak konten tersebut dapat menambah pengetahuan bagi pembacanya atau bahkan hingga mengubah persepsi pembaca terhadap suatu hal.

Eksplorasi Konten dengan Berbagai Medium

 

Kreativitas pembuat konten dalam mengemas cerita memang sangat diuji dalam perang content marketing di era sekarang. Ada berbagai macam medium yang bisa dieksplor untuk menyampaikan cerita Anda.

Lakukan berbagai macam eksperimen melalui berbagai medium dan channel seperti membuat video di Youtube, stop motion, membuat survei atau polling di Instagram, atau grafik yang menarik.

Tantangan utamanya adalah bagaimana mencari angle yang menarik dan tidak biasa sehingga pembaca tidak merasa bosan? Pertama-tama adalah selalu amati tren yang sedang naik di sekitar Anda. Dari tren tersebut, cobalah untuk mengeksplor sisi lain yang belum pernah ada orang yang membuatnya.

Melakukan A/B testing juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengetes konten seperti apa yang lebih disukai oleh target pembaca. Apakah mereka lebih suka konten in-depth, konten dengan visual infografik, konten berbentuk video, dan sebagainya.

Contoh taktik content marketing yang cukup berhasil di era sekarang adalah dengan menarik engagement user di medium Instagram. Banyak sekali brand yang sudah membungkus seri cerita yang menarik di InstaStory mereka dengan mengajak dialog pengikutnya. Mulai dari membuat polling, kuis, atau berbagi kisah yang kemudian menggiring user untuk menggunakan produk brand tersebut (conversion).

Data dan Riset adalah Elemen Seksi dalam Konten

 

Data is the new story. Elemen seksi dalam konten di jaman sekarang adalah bagaimana kita mengemas data atau riset ke dalam sebuah cerita. Meski konten yang Anda produksi bersifat ringan pun akan lebih menarik bila dibumbui sedikit data.

Misalnya startup Anda ingin mengenalkan produk foundation terbaru untuk perempuan Indonesia. Konten yang berisi seberapa bagus produk Anda dan komposisi apa yang digunakan tentu sudah membosankan. Tapi akan berbeda bila Anda membicarakan seberapa banyak perempuan Indonesia yang mengeluhkan warna foundation yang tidak cocok dengan warna kulit mereka.

Selain itu, usahakanlah untuk selalu mengolah data yang lebih mudah dicerna pembaca. Di jaman yang serba online ini, banyak selalu sumber data (gratis maupun berbayar) yang bisa Anda manfaatkan sebagai elemen cerita. Misalnya Anda ingin membandingkan persaingan pemain startup yang bergerak di bidang fintech di Indonesia, jika Anda memiliki sumber data terpercaya untuk itu, Anda bisa mengkompilasikan data tersebut menjadi satu cerita. Misalnya mana startup fintech yang memiliki fasilitas keuangan terbanyak, seberapa banyak penggunanya sekarang, dan sebagainya.

Kemaslah data ini menjadi cerita yang menarik supaya pembaca pun lebih mudah memahami dan merasa relevan dengan pengalaman mereka. Lagi-lagi pengemasan cerita ini dibutuhkan kreativitas yang tinggi sehingga hasil konten yang Anda buat dapat tersampaikan dengan jelas kepada pembaca.

Content Planning yang Tepat agar Tetap Relevan

 

Terkadang ide konten bisa datang tiba-tiba. Namun tidak semua ide harus langsung diimplementasikan saat itu juga.

Sama seperti aktivitas atau program perusahaan lainnya, produksi dan distribusi konten pun harus direncanakan secara matang agar tidak tetap relevan. Dalam setahun atau per kuartal Anda sudah merencanakan akan merilis konten apa saja sesuai dengan tren yang ada di masyarakat. Misalnya konten tahunan seperti bulan Ramadan, hari Kemerdekaan Indonesia, dan lain-lain.

Adapun Anda juga perlu menajamkan insting untuk mengetahui event-event spesial yang akan datang, seperti acara Asian Games, peluncuran Samsung Galaxy Note 9, dan lain-lain.

Dengan adanya content planning, Anda dapat mereproduksi konten di dalam timeline yang tepat dan sesuai dengan momentum yang ada. Tidak mungkin kan memproduksi konten Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) namun dirilis di bulan Mei?

Evaluasi Performa Konten

 

Salah satu kesalahan umum bagi pembuat konten adalah tidak melakukan evaluasi performa konten-konten yang telah dibuat. Gunakanlah metrik-metrik tertentu sebagai pengukur. Mulai dari seberapa banyak media yang mempublikasikan, seberapa banyak publikasi organik setelah Anda mendistribusikan konten tersebut, atau berapa jumlah engagement konten di sosial media.

Anda bisa menggunakan dua jenis metrik untuk mengukur performa konten. Pertama adalah vanity metrics dan clarity metrics. Vanity metrics adalah pengukuran performa yang umumnya berupa angka (jumlah pengikut, jumlah orang yang mengunduh aplikasi, dll). Sedangkan clarity metrics adalah pengukuran seberapa besar dampak konten yang Anda buat yang membuat bisnis Anda unik dibanding kompetitor lainnya. Seperti impresi orang terhadap image brand Anda, seberapa besar kredibilitas produk/jasa yang Anda tawarkan, dan berapa lama waktu Anda menggiring user hingga akhirnya menggunakan produk dan jasa Anda.

***

Terimakasih kepada 11 media yang kami wawancari: Liputan 6 (Irna Gustiawati, M Iqbal Reza F, Tommy Kurnia), Detik.com (Achmad Rouzni Noor II), Tirto (Nurul Qomariyah P), Kompas.com (Wisnu Nugroho), Metrotvnews (Muhammad Mamduh, Ellavie Ichlasa A), Beritasatu (Nurlis E Meuko, Anselmus Bata, Heru Andriyanto), Okezone (Muhammad Budi Santosa, Fetra Malona H, Achmad Lutfi), Dailysocial (Amir Karimuddin, Wiku Baskoro), Tech in Asia (Pradipta Nugrahanto), CNN Indonesia (Ervina Anggraini, Eka Santhika P, Ike Agestu), dan Brilio.net (Yani Andryansyah).

 

Source: iPrice Indonesia

Karya : Jerry Chew