Merawat Kisah, Menggumuli Kopi, Menuju Jatim Santun dan Hangat

Muchlas Jaelani
Karya Muchlas Jaelani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Juli 2016
Merawat Kisah, Menggumuli Kopi, Menuju Jatim Santun dan Hangat

Oleh Muchlas Jaelani*

 

 

 

“Pada gelapnya tertulis nasab

Ia diminum tuan dan hamba

Pada lezatnya itulah sebab

Raja dan rakyat bersama suka..”

 

(M. Faizi, Himne Barista)

 

Jawa Timur dan warung kopi memiliki talian khas yang tak terpisahkan. Warung kopi di Jawa Timur bak jamur di musim hujan, begitu galib ditemukan: dari warung rumahan, kafe premium lokal,  franchise luar negeri, hingga stall di banyak sudut perkantoran. Aroma kopi yang tampak—seperti disebut penyair Inggris Sir George Sandys—“sehitam jelaga dengan rasa tak biasa” itu, telah menjadi bagian penting masyarakat, dari dulu hingga kini. Meski begitu, sejarah kopi adalah sejarah kegigihan dan penaklukan—sebagaimana ditulis Multatuli dalam novelnya tahun 1960. Nomenklatur sejarah adalah catatan penting untuk menilik kopi tidak sekadar varietas konsumsi.  

Mulanya, kopi hanyalah bahan medis dan komoditas dagang. Sebelum Baba Budan, seorang India, membawa biji kopi ke luar Mekkah, beribu tahun sebelum itu, Ethiopia mengemas biji kopi sebagai bahan suplemen yang dicampur anggur. Bahkan, ketika pedagang Venezia, Italia, membawa pulang kopi dari Timur Tengah, sekira tahun 1615, kopi dipandang sekadar bahan medis.

Pada akhirnya, siklus waktu terus mengubah masyarakat dunia mengolah kopi. “Keagungan” biji kopi terus tersebar ekspansif hingga ke Benua Biru, Eropa. Pada titik inilah, episentrum berkembangnya kopi Nusantara menemukan titik juntrungnya.

Pada 1696, Adrian van Ommen, panglima VOC di Malabar, membawa bibit kopi ke Batavia. Hasil kebun kopi yang ditanam di lahan Jenderal VOC itu, terus menuai pujian oleh banyak pemerhati di Hortus Botanicus Amsterdam. Dalam waktu dekat, kenikmatan Kopi Jawa tersiar seantero dunia: dari Prancis hingga Amerika.

Secara geneologis, masyhurnya istilah a Cup of Java adalah penanda bercokolnya kenikmatan Kopi Jawa Nusantara di dunia—meskipun tentu Indonesia memiliki puspa-ragam kopi lainnya, seperti Kopi Aceh, Sumatera, Sulawesi, dan lainnya. Syahdan, Kopi Jawa kemudian menjadi komoditas unggul laju ekonomi kolonial.

Pada abad XVII, Belanda berhasil memonopoli pasar dunia melalui kopi. Prof. Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 mengungkap, tempo dulu, budi daya kopi dilakukan melalui sistem cultivation: tanam paksa, mobilisasi penduduk, hingga penyerahan wajib biji kopi. Tetapi, melalui kopi pula, spirit merdeka masyarakat Bumiputera tertanam-bergelora.

Gol A Gong dalam sebuah judul puisinya “Negeri Kopi” menulis: //Cangkir kayumu membungkuk deritamu diseduh dikeruk./Kau masih kental pekat rasa gula tak kauingat./Kau sembunyi di seribu bukit, lars mesiu tubuhmu sakit//. Memang, kopi selalu mendedah hal ihwal apik tentang perjuangan dan kegigihan, ketulusan dan pengorbanan.

Ijen Plateau adalah kebun besar kopi yang didirikan Belanda sekira abad XVIII di Jawa Timur. Tahun 1876, bencana meluluh-lantak hampir seluruh perkebunan kopi—terutama jenis Arabica—di Nusantara. Pada 1900, Belanda memperkenalkan bibit kopi varietas Robusta ke Jawa Timur sebagai pengganti. Hingga kini, kedua jenis kopi ini terus berkembang dengan peningkatan perkebunan yang sangat fantastis.

Pasca VOC, masyarakat Jawa terus ajeg mempertahankan dan mengembangkan kebun kopi, tak kecuali di Jawa Timur. Bahkan, secara ekonomis, kopi di Jatim termasuk komoditas strategis yang memenuhi kebutuhan domestik ataupun ekspor. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perkebunan Jatim pada 2014, areal kopi di Jatim mencapai 102.213 ha dengan produksi 58.135 ton, dan meningkat hingga 60.000 ton pada 2015.

Angka fantastis ini tentu bukan tanpa sebab. Varietas Arabica dan Robusta sebagai single origin Jawa Timur terus mengalami peningkatan permintaan—dalam negeri hingga mancanegara. Adagium “kopi adalah cara memahami dan menyelami kehangatan masyarakat Jatim” kiranya benar dan tak mengada.

Namun begitu, kopi bukan sekadar komoditas dagang. Ia memiliki nilai aksiologis yang melekat dalam setiap ingatan dan tindakan masyarakatnya. Kopi mewedarkan beragam hal yang sebagian dimensinya berkaitan dengan prinsip sosial, politik, dan budaya. Kopi melumerkan sekat identitas dan menggiring pada lajur kesejajaran. Kopi adalah simbol perekat keberagaman.

Dalam kopi, kita akan dengan mudah menemukan prinsip kesetaraan dan egaliter. Pada konsepsi inilah, M. Faizi mendedah hilangya kelas sosial dan kesenjangan dalam kopi. M. Faizi menulis dalam “Himne Barista”: //pada gelapnya tertulis nasab/ia diminum tuan dan hamba/pada lezatnya itulah sebab/raja dan rakyat bersama suka.

 

Kopi dan Penanda Keagungan

 

Ketika kopi menemukan dimensi sosialnya, ia akan menukil banyak kisah tentang keagungan dan kemenangan. Nujum Mark Pandergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World (1999) menyebut, kopi adalah revolusi yang menguntungkan dan akan membuat kebiasaan-kebiasaan baru, kiranya tidak salah. Kebiasaan-kebiasaan itulah, pada akhirnya, akan berhimpun menjadi identitas khas dan berkait-kelindan dengan poros kebudayaan.

Kekentalan kultur ngopi di Jatim terus membuat lokus identitas yang unik. Nyete (melukis ampas kopi pada batang rokok), misalnya, hanya dilakukan oleh masyarakat Jatim. Lagi, kopi walik juga hanya bisa ditemukan pada model ngopi masyarakat Jatim. Namun begitu, kebiasaan-kebiasaan khas semacam itu tidaklah kering makna. Ia juga hadir sebagai produk kebudayaan yang akan mengilhami banyak perubahan sosial, politik, dan budaya. Bukankah tukar ide di kedai kopi yang menjembatani pecahnya Revolusi Prancis 1789?

Warung kopi adalah arena yang begitu subtil tapi universal. Bahkan, Teuku Umar menganggap warung kopi sebagai simbol kemaslahatan, hingga decak spiritnya dimonumenkan di Meulaboh. Konon juga, Ken Arok menggalang kekuatan politiknya dari kedai-kedai kopi para begal. Ia bahkan sukses menjadikan warung kopi sebagai medium pembelajaran politik waktu itu sebagai siasat merebut Kerajaan Kediri.

Warung kopi memiliki dimensi unik sebagai sarana ruang. Warung kopi, terutama di Jatim, sudah hadir seiring kompleksitas dan kebutuhan masyarakat. Di daerah pedesaan, warung kopi selalu menjadi labuhan paling nyaman untuk membincang beragam hal: dari soal pemerintahan hingga urusan ladang.

Makanya, Sara Upstone dalam Spatial Politics in the Post-Colonial Novel (Farnham: Ashgate, 2009) melihat, bahwa ruang adalah media ucap baru untuk praktik politik, kekuasaan, hingga kekacauan. Pada titik ini, kopi hadir sebagai stimulus ruang yang memperkenalkan banyak hal dengan begitu halus tapi benderang.

Di warung kopi, yang terberai akan menjadi padu. Kopi menawarkan prinsip kebersamaan dan kasih-sayang. Bayangkan, kopi bisa dijumpai di semua belahan Nusantara: dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Kopi menjadi simbol keguyuban dan perlawanan terhadap kesewenangan, bukan sebagai sekat dan pertanda kemapanan. Atas ini, Jawa Timur sebagai daerah penghasil kopi mesti terus dijaga dan dikembangkan, tidak saja oleh pemerintah, tetapi masyarakat luas.

Potensi kreatif mesti terus digiring untuk mendesain Jawa Timur sebagai daerah berkebaruan dan khas. Karena dengan kopi, Jawa Timur terlihat asyik, represntatif, santun, dan hangat bagi masyarakat dari segala kelas sosial. Bagaimanapun, kopi adalah penanda kemenangan. (*)

 

  • view 315